Kepemimpinan Orang-orang Kalah - Kompas.com

Kepemimpinan Orang-orang Kalah

Kompas.com - 06/08/2012, 07:59 WIB
Oleh: Rhenald Kasali


JOKO Widodo yang maju dalam pencalonan gubernur DKI Jakarta mengatakan dirinya tak punya uang. Maka, ia pun menjadi bingung saat dituding telah menjalankan politik uang.

Pertarungan antara kubu Joko Widodo-Basuki T Purnama dan Fauzi Bowo-Nachrowi Ramli masih terus berlangsung, seperti halnya yang dihadapi hampir semua kontestan pilkada dari Aceh hingga Papua. Dalam banyak kesempatan selalu ditemui babak selanjutnya.

Meskipun demikian, reaksi yang muncul dari setiap pihak bisa berbeda. Ada yang menunjukkan bahwa mereka memiliki sikap pemenang yang berorientasi ke depan dan introspektif terhadap masa lalu, ada yang bertarung dengan mentalitas pecundang yang berorientasi ke masa lalu dan menyalahkan orang lain.

Kalau diperhatikan, hampir semua politisi yang bertarung pada era demokrasi ini tidak siap menyambut kemenangan. Yang menang gagal menjalankan apa yang dijanjikan dan bila kalah selalu menyalahkan orang lain. Kalau mencari uang gagah berani, tetapi bila tertangkap melakukan kejahatan enggan bertanggung jawab.

Belajar akui kesalahan

Lima belas tahun yang lalu saat masih bersekolah di Amerika Serikat, anak saya pulang ke rumah dengan muka terluka. Begitu bertemu ibunya, ia menangis sambil memeluk. ”It’s OK mommy, it was my mistake. I was wrong.” Saat kembali ke Indonesia ia suka protes. ”Mengapa teman-teman aku suka tak mengakui kesalahan? Mereka pun selalu mengulanginya.”

Sebagai orangtua, saya tentu kesulitan menjawab. Akan tetapi, saya berpikir, anak-anak belajar dari orangtua dan orangtua belajar dari para pecundang yang tidak siap menerima kekalahan.

Jawaban itu akhirnya saya peroleh dari Denis Waitley (1986) yang menulis ”Psychology of Winning” hasil studi Kassam, Morewedge, Gilbert, dan Wilson (Psychological Science, April 2011). Saya jadi mengerti mengapa Presiden Amerika Serikat yang kalah dengan gagah berani mengucapkan selamat kepada pemenang hanya sesaat setelah hasil polling mengumumkan kekalahannya. Saya juga jadi mengerti, mengapa anak-anak di dunia Barat lebih sering mengatakan ”saya yang salah”, sementara di sini semakin banyak orang yang mengatakan ”bukan salah saya”.

Dari berbagai literatur diketahui bahwa di negara-negara demokratis, selain komunikasi yang asertif, pada anak-anak selalu ditanamkan sikap-sikap pemenang. Seorang pemenang bukan otomatis memenangi persaingan, melainkan yang menjaga kehormatannya.

Orang kalah

Seingat saya, di sekolah anak saya dulu, guru selalu mengingatkan bahwa pada akhirnya orang yang kalah bukanlah yang terpenjarakan atau tergusur dari kursinya, melainkan orang yang melemparkan kesalahannya kepada pihak lain.

Ketika seorang pemenang mencari cara ”bagaimana menyelesaikan” masalahnya, orang- orang yang kalah ”sibuk mencari alasan”. Tak banyak pemimpin yang menyadari bahwa mereka telah menjadi ”bagian dari masalah” dan bukan solusi.

Seorang pemenang selalu menghormati orang-orang yang lebih hebat dan mau belajar. Ia dihormati bukan karena menang atau dicurangi, melainkan karena menghormati kemenangan, menjaga kehormatan.

Sementara orang yang mengabaikan kehormatannya selalu merendahkan keberhasilan orang lain dan merasa lebih hebat dari siapa pun juga. Wajar bila mereka gemar mencegah agar orang lain berhasil. Mereka menggunakan argumentasi omong kosong dengan nada keras. Berbeda dengan pemenang yang argumentasinya kuat, tetapi disampaikan dengan lembut dan santun.

Mau ke mana Indonesia kalau para politisi dan pemimpinnya tak punya karakter pemenang? Apa jadinya kalau generasi muda tidak dipersiapkan untuk menjadi pemenang? Bangsa yang kalah akan selalu curiga dan memusuhi bangsa-bangsa yang lebih hebat dan beranggapan bahwa ada peran faktor keberuntungan. Padahal, pemenang melihat keberuntungan sebagai buah dari kerja keras dan disiplin. Bangsa yang kalah mudah tersulut emosi, tetapi ragu-ragu bertindak.

Rhenald kasali Guru Besar FEUI; Pendiri Rumah Perubahan


EditorEgidius Patnistik
Komentar

Terkini Lainnya

Atap SDN di Probolinggo Ambruk, Diduga karena Penyelewengan Pembangunan

Atap SDN di Probolinggo Ambruk, Diduga karena Penyelewengan Pembangunan

Regional
Tiga Korban Jatuhnya Cetakan Beton Tol Becakayu Alami Patah Tulang

Tiga Korban Jatuhnya Cetakan Beton Tol Becakayu Alami Patah Tulang

Megapolitan
Pemerintah Moratorium Pengerjaan Proyek Tol Layang

Pemerintah Moratorium Pengerjaan Proyek Tol Layang

Megapolitan
Geng Kriminal di Malaysia Tertangkap, Aset Rp 15 Miliar Dibekukan

Geng Kriminal di Malaysia Tertangkap, Aset Rp 15 Miliar Dibekukan

Internasional
KPK Periksa Made Oka Masagung yang Diduga Perantara Suap untuk Setya Novanto

KPK Periksa Made Oka Masagung yang Diduga Perantara Suap untuk Setya Novanto

Nasional
Ini Identitas 7 Korban Jatuhnya Cetakan Beton Proyek Tol Becakayu

Ini Identitas 7 Korban Jatuhnya Cetakan Beton Proyek Tol Becakayu

Megapolitan
YLKI Minta Pemerintah Bentuk Tim untuk Audit Proyek Infrastruktur

YLKI Minta Pemerintah Bentuk Tim untuk Audit Proyek Infrastruktur

Megapolitan
Jalan Mampang Arah Kuningan Digenangi Air, Lalu Lintas Tersendat

Jalan Mampang Arah Kuningan Digenangi Air, Lalu Lintas Tersendat

Megapolitan
Rambut George Washington Ditemukan Terselip di Buku

Rambut George Washington Ditemukan Terselip di Buku

Internasional
Hadiri Kegiatan Calon Bupati, Camat di Magelang Dapat Peringatan Keras

Hadiri Kegiatan Calon Bupati, Camat di Magelang Dapat Peringatan Keras

Regional
'Dikeroyok' 10 Partai, Calon Petahana Wali Kota Makassar Optimistis Menang

"Dikeroyok" 10 Partai, Calon Petahana Wali Kota Makassar Optimistis Menang

Regional
Makam Leluhur Diterjang Longsor, KNPI Protes Pengeboran Geotermal

Makam Leluhur Diterjang Longsor, KNPI Protes Pengeboran Geotermal

Regional
Jokowi Lantik 17 Duta Besar, dari Muliaman Hadad hingga Todung Mulya Lubis

Jokowi Lantik 17 Duta Besar, dari Muliaman Hadad hingga Todung Mulya Lubis

Nasional
Rusaknya Fasilitas GBK dan Pertimbangan Panitia Piala Presiden Tempuh Jalur Hukum

Rusaknya Fasilitas GBK dan Pertimbangan Panitia Piala Presiden Tempuh Jalur Hukum

Megapolitan
Protes Aturan Senjata, Para Pelajar Berbaring di Depan Gedung Putih

Protes Aturan Senjata, Para Pelajar Berbaring di Depan Gedung Putih

Internasional

Close Ads X