Rabu, 26 November 2014

News / Coretan Ringan

Belajar Atasi Gelandangan dan Pengemis Zaman Jepang

Selasa, 31 Juli 2012 | 10:02 WIB

MARHABAN ya Ramadan, selamat datang bulan Suci Ramadan. Bulan ini adalah bulan yang di tunggu-tunggu oleh umat muslim seluruh dunia karena merupakan bulan ampunan dan penuh rahmat.

Lucunya, di Indonesia, gepeng alias gelandangan dan pengemis pada bulan Ramadan jumlahnya semakin banyak. Tidak percaya? Pusat data Informasi Kementerian Sosial mencatat dalam kurun 5 tahun ini jumlah gepeng meningkat sebanyak 17 persen!

Ternyata penyebabnya bukan melulu korban dari tidak adanya lapangan pekerjaan, tapi juga dari faktor tidak adanya keinginan berusaha dan tidak memiliki ketrampilan (sumber: rehsos.depsos.go.id).

Pada masa pendudukan Jepang, ada suatu usaha yang cukup berhasil dilakukan untuk mengatasi para gepeng ini. Apakah itu? Yang dilakukan pemerintah pendudukan Jepang saat itu adalah membuat suatu badan khusus untuk merawat kaum gelandangan dan pengemis, yang dinamakan: "Rumah Pemeliharaan Pengemis," seperti yang diberitakan dalam surat kabar Asia Raya; "Baru-baru ini Bogor Shi (Korapraja Bogor) telah menyelesaikan rencananya yang merupakan usaha untuk merawat kaum pengemis, terutama mereka yang bergelandangan dan tidak mempunyai tempat tinggal yang tertentu. Usaha ini akan segera dijalankan.

Mengingat banyaknya kaum pengemis yang kian hari kian bertambah jumlahnya maka pihak yang berwajib akan mendirikan barak-barak untuk merawat mereka yan tidak sehat atau ada penyakitnya. Jika mereka ini sudah sembuh dan sehat badannya mereka itu akan dipekerjakan sebagai pekerja" (Asia Raya, 18 Januari 1945).

Hebatnya, Pengurus Rumah Pemeliharaan Pengemis sedang menyiapkan kaum pengemis yang telah insaf dan berbadan kuat untuk menangkap saudara-saudaranya yang masih bergelandangan di jalan-jalan, guna diajak ikut pelatihan ketrampilan.

Razia dan pembinaan yang dilakukan oleh pemerintah daerah tidak efektif, karena setelah keluar dari panti, mereka kembali mengemis! Mungkin salah satu sebabnya adalah mengemis menjadi profesi! Sungguh menyedihkan. Ada baiknya kita membantu pemerintah dengan melakukan gerakan "Anti Memberi" kepada para anak jalanan, gelandangan dan pengemis di jalan-jalan protokol.

(Lily Utami, pemerhati sejarah dan budaya)


Editor : Pingkan