Sabtu, 20 September 2014

News / Internasional

Aleppo yang Diimpikan seperti Benghazi

Selasa, 31 Juli 2012 | 08:02 WIB

Mendiang Presiden Suriah Hafez al-Assad ketika mengambil alih kekuasaan lewat kudeta militer tahun 1969 punya keyakinan, untuk menguasai Suriah, harus menguasai kota Aleppo. Sebagai kota terbesar di Suriah, Aleppo adalah pusat perdagangan dan industri negara itu.

Aleppo, yang berpenduduk 2,5 juta jiwa, terletak 355 kilometer utara Damaskus. Komposisi penduduk Aleppo terdiri dari 65 persen warga Arab Sunni, suku Kurdi 20 persen, kaum Kristen 10 persen, dan Syiah Alawit 5 persen. Di Aleppo terdapat sedikitnya 150 situs peninggalan sejarah dari era sebelum Masehi hingga Suriah modern, yang masuk dalam situs warisan budaya UNESCO.

Hal terpenting yang membuat Assad mengincar Aleppo adalah potret sejarah, yang memperlihatkan pembangkangan Aleppo terhadap Pemerintah Damaskus pada dekade 1950-an dan 1960-an. Kudeta pertama di Suriah, April 1949, dilakukan oleh Kolonel Hussni Zaim, perwira asal Aleppo. Empat bulan kemudian, terjadi kudeta militer lagi yang dilancarkan perwira lain dari Aleppo, Kolonel Sami al Hinnawi.

Saat itu, Assad berusaha menarik simpati kelompok pengusaha Aleppo yang didominasi kaum Muslim Sunni dan Kristen. Upaya Assad berhasil menundukkan Aleppo, yang berbalik mendukung keluarga Assad.

Saat revolusi Suriah meletus awal Maret 2011, Aleppo belum tersentuh gerakan revolusi, tertinggal dari kota lain, seperti Deraa, Hama, Homs, dan Deir el Zor. Seiring perjalanan waktu, Aleppo lambat laun ikut bergejolak menentang rezim Bashar al-Assad, yang menggantikan ayahnya sejak tahun 2000. Unjuk rasa anti-Assad melanda Aleppo, mulai dari mahasiswa Universitas Aleppo hingga kalangan masyarakat luas.

Beberapa pekan terakhir, sebagian besar distrik kota Aleppo dikuasai Tentara Pembebasan Suriah (FSA). Muncul impian di kalangan oposisi, Aleppo bisa menjadi seperti Benghazi di Libya yang menjadi basis kaum oposisi, baik politik maupun militer.

Ketua Dewan Nasional Suriah (SNC) Abdel Basit Sayda mengatakan, problema hidup di pengasingan akan selesai dalam waktu dekat dan pemerintah transisi akan bekerja di wilayah yang dibebaskan. Kemungkinan besar Sayda merujuk pada pembebasan kota Aleppo dari tangan Pemerintah Suriah.

Rezim Assad tentu akan berusaha segala cara agar Aleppo tidak jatuh ke tangan oposisi. Pemerintah diberitakan mengirim ribuan pasukan komando untuk membantu pasukan reguler yang sudah berada di sekitar Aleppo untuk mendobrak masuk ke kota tersebut.

Harian Al-Watan yang dekat dengan Pemerintah Suriah menegaskan, Aleppo akan menjadi ajang pertempuran terakhir angkatan bersenjata Arab Suriah. Jika berhasil menumpas teroris di kota itu, Suriah akan keluar dari krisisnya. Sebaliknya, oposisi mengklaim setidaknya 2.000 anggota dan simpatisan FSA dari luar Aleppo bergabung dengan rekan-rekannya yang bertahan di dalam kota.

Pertempuran menentukan di Aleppo telah dimulai sejak Sabtu lalu. Deputi Panglima FSA Kolonel Arif al-Hamud menegaskan, jika pasukan loyalis Assad bertekad masuk kota Aleppo, akan terjadi pertempuran besar dan panjang. Al-Hamud mengungkapkan, FSA sudah menguasai wilayah pedesaan dan kota kecil sekitar Aleppo dan sebagian besar distrik di dalam kota Aleppo.

Dunia kini menunggu pertempuran Aleppo. Pertempuran yang akan menentukan nasib keluarga Assad dan masa depan revolusi Suriah. (Musthafa Abd Rahman dari Kairo, Mesir)


Editor : Egidius Patnistik
Sumber: