Rabu, 23 April 2014

News / Nasional

Dirjen Pajak: Tangkap Tangan Efektif untuk Efek Jera

Selasa, 17 Juli 2012 | 23:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Jenderal Pajak Fuad Rahmany meyakini penangkapan para pegawai pajak ketika menerima suap atau tangkap tangan yang dilakukan Komisi Pemberantasan Korupsi belakangan ini akan efektif untuk meminimalkan penyimpangan di Ditjen Pajak.

"Kita perlu tangkap-tangkap tangan sehingga membuat efek jera yang sangat efektif," kata Fuad di Jakarta, Selasa (17/7/2012) malam.

Hal itu dikatakan Fuad ketika dimintai tanggapan kembali ditangkapnya pegawai pajak ketika diduga menerima suap. Terkahir, KPK menangkap tangan Kepala Kantor Pajak Pratama Bogor berinisial AS ketika menerima suap senilai Rp 300 juta dari pihak perusahaan.

Fuad meminta agar publik tidak menghujat pihaknya ketika ada pegawai pajak ditangkap dengan sangkaan korupsi. Pasalnya, menurut dia, penangkapan itu bagian dari pembersihan di internal.

Dikatakan Fuad, tidak mungkin jika sekitar 32.000 pegawai pajak di 500 kantor pajak semuanya bebas dari korupsi. "Selalu saja ada segelintir yang nakal dan nekat. Untuk menghadapi ini, yah kita harus buktikan dan harus bisa tangkap mereka," kata dia.

Fuad memastikan akan mengambil tindakan tegas kepada mereka yang terlibat korupsi. Dia memberi contoh pencopotan AS sebagai Kepala Kantor Pajak Bogor. Selain itu, pihaknya juga telah membenahi pengawasan seperti memperbaiki sistem administarsi agar bisa dilakukan audit terhadap dugaan kecurangan pajak.

Pembenahan penting lain, yakni membangun sistem whistle blower berbasis teknologi informasi. Selama ini, kata dia, cukup banyak masyarakat, bahkan pegawai pajak yang melaporkan penyimpangan para pegawai pajak. Bahkan, laporan itu sampai masuk ke ponsel pribadi Fuad.

Laporan itu kemudian ditindaklanjuti dengan berkerja sama dengan institusi penegak hukum seperti KPK.

"Bila kita tidak gandeng KPK, mana bisa kita tangkap basah karena kita tidak punya keahlian dibidang itu. Mudah-mudahan tahun ini kita mulai dan bisa berhenti (korupsi)," pungkas Fuad.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Tri Wahono