Senin, 24 November 2014

News / Nasional

Surono: Hambalang Tak Layak Huni

Selasa, 10 Juli 2012 | 12:12 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Menurut hasil penelitian Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyebutkan, daerah Hambalang, Bogor, Jawa Barat, tidak layak huni. Pasalnya, daerah itu rawan terjadi pergeseran tanah atau tanah longsor.

Hal itu diungkap Surono, Kepala PVMBG Kementerian ESDM, saat memaparkan hasil penelitian di Panitia Kerja Proyek Hambalang Komisi X DPR di Gedung Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (10/7/2012).

Surono menjelaskan, pergerakan tanah di daerah Hambalang pernah terjadi tahun 2002. Ketika itu, pergerakan tanah terjadi di bawah 70 rumah. Hasil penelitian, daerah itu tidak mungkin dibangun permukiman lantaran dipenuhi batuan keras sehingga sangat mahal untuk membangun konstruksi bangunan.

"Daerah itu juga dengan batuan dasar lempung sehingga tidak mungkin tersedia air tanah. Jadi, tidak memungkinkan suatu kehidupan. Karena itu, tahun 2002 kami nyatakan daerah itu tidak layak huni," kata Surono.

Hasil yang sama ketika tim melakukan penelitian di lokasi amblesnya tanah di proyek pusat olahraga di Bukit Hambalang. Batuan lempung menjadi penyebab longsor.

Surono menjelaskan, batuan lempung yang sangat keras akan menjadi lembek jika terkena air. Akibatnya, tanah bisa ambles jika ada beban bangunan di atasnya. Jika terkena panas, kata dia, tanah akan retak-retak.

"Batu lempung bagai simalakama. Kena air akan membubur. Jika ada beban maka lapisan di atasnya mudah tergelincir. Kalau terkena panas akan retak-retak. Apakah daerah itu bisa diubah? Itu tidak bisa direkayasa dengan jalan apa pun. Dia punya sifat dasar tanah seperti itu," kata Surono.

Surono menambahkan, pembangunan di atas batuan lempung juga terjadi di Tol Cipularang pada Kilometer 86 dan 92, serta di tol Semarang-Ungaran. Kedua tol itu, kata Surono, juga rawan terjadi gerakan tanah.

Seperti diberitakan, dua bangunan di dalam lokasi proyek Hambalang ambruk karena tanahnya ambles. Insiden itu terjadi pada Kamis 24 Mei 2012 tengah malam setelah hujan deras mengguyur kawasan itu. Saat ini, pembangunan proyek itu tengah dihentikan sementara.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Heru Margianto