Selasa, 23 Desember 2014

News /

Kang Moeslim dan Muhammadiyah

Senin, 9 Juli 2012 | 02:04 WIB

 Ahmad Najib Burhani

Kang Moeslim Abdurrahman berencana mengumpulkan anak-anak muda Muhammadiyah yang sepanjang 2002-2006 dia kumpulkan dan bina dalam wadah Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Mereka kemudian bisa belajar ke sejumlah negara untuk program master atau doktor.

Di antara mereka yang telah atau hampir selesai adalah Tuti Alawiyah (PhD, Universitas Texas-Austin), Hilman Latief (PhD, Universitas Utrecht), Alpha Amirrachman (PhD, Universitas Amsterdam), Ai Fatima (PhD, Universitas Leeds), Nur Hidayah (PhD, Universitas Melbourne), Boy Pradana (PhD, NUS), Andar Nubowo (PhD, Sorbonne), dan saya (PhD, Universitas California-Santa Barbara).

Namun, ketika kami murid-murid Kang Moeslim pulang dan berniat bertemu dengannya, menghidupkan lagi jaringan yang dulu dibangun, Kang Moeslim meninggalkan kami untuk menghadap Ilahi. Dia meninggalkan kami sebelum kami sempat mengucapkan terima kasih dan membalas jasa-jasanya.

Orang pinggiran

Banyak hal yang telah Kang Moeslim ajarkan kepada kami. Di antaranya adalah tiga prinsip dalam mereformasi Muhammadiyah: hermeneutika, teori sosial, dan gerakan sosial baru. Berbulan-bulan kami digembleng untuk memahami dan membumikan ketiganya dalam tubuh Muhammadiyah.

Hal lain yang Kang Moeslim wariskan kepada kami anak-anak dan organisasi Muhammadiyah adalah pengembangan ”dakwah kultural” dan kepedulian kepada buruh, petani, dan nelayan. Dua bidang ini sebelumnya tak banyak disentuh Muhammadiyah. Muhammadiyah terlihat sebagai organisasi puritan yang tak bersahabat dengan kultur lokal di Indonesia, seperti seni tradisional dan adat-istiadat. Kang Moeslim mengajak kami merangkul kultur lokal sebagai bagian dari Muhammadiyah.

Demikian pula dengan buruh, petani, dan nelayan. Kang Moeslim terus mengingatkan dan mengajak anak-anak Muhammadiyah bahwa doktrin al-Ma’un (Q. 107: 1-7) yang ditanamkan pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, adalah untuk membebaskan orang-orang tertindas, secara kultural ataupun struktural, termasuk buruh, tani, nelayan. Semangat ini terkesan telah diabaikan Muhammadiyah.

Hak minoritas

Tentu tak semua pesan dan nasihat mulia Kang Moeslim bisa kita wujudkan. Saya pribadi hanya bisa menekuni satu pesan Kang Moeslim, yaitu membela, dalam konteks akademik, nasib dan hak-hak kelompok agama minoritas. Inilah salah satu alasan mengapa saya mengambil program doktor dengan keahlian agama-agama minoritas pecahan dari Islam, seperti Ahmadiyah, Baha’i, Isma’ili, Yazidi, dan Druze. Nasib dan posisi mereka dalam masyarakat Muslim belakangan sangat memprihatinkan.

Ahmadiyah di Indonesia, misalnya, adalah yang paling mengalami persekusi. Menurut Setara Institute (2008), dari 265 kasus intoleransi keagamaan 2008, 193 kasus (73 persen) berkaitan dengan Ahmadiyah. Nasib mereka bahkan lebih buruk dari non-Muslim secara keseluruhan.

Di negeri ini, tak banyak yang menekuni secara akademik persoalan teologi agama-agama minoritas pecahan Islam itu dan membuat pembelaan akademik terhadap hak-hak mereka. Mengikuti kepedulian Kang Moeslim, saya memilih bidang ini sebagai karier akademik dan sosial.

Selamat jalan Kang Moeslim.

Ahmad Najib Burhani Kandidat Doktor Universitas California-Santa Barbara; Peneliti LIPI


Editor :