Rabu, 3 September 2014

News / Waroengan

Nasi Uduk Hijau Rasa Pandan

Minggu, 8 Juli 2012 | 14:41 WIB

Pernah mencoba makan nasi uduk berwarna hijau? Tahu rasanya? Biasanya hidangan yang yang jamak dijumpai pagi dan malam hari tersebut, memang memiliki warna putih khas santan.

Namun di rumah makan milik Harry yang teletak di Jalan KH Mochammad Mansyur No 126 AA, Jembatan Lima, Jakarta Barat, menghadirkan hidangan nasi gurih dengan nuansa lain bukan putih tapi kehijauan. "Nasi uduk yang ada di rumah makan ini berwarna kehijauan. Karena menggunakan pewarna alami dari daun pandan hijau," ujar Harry pemilik rumah makan Nasi Uduk Pandan Hijau 126.

Rumah makannya sederhana. Di depan warung terlihat etalase di mana hidangan yang akan disajikan terpajang rapi, di antaranya ayam, cumi-cumi, dan tahu. Selain itu tempat pemanggangan dan penggorengan dapat kita temui di area tersebut. Bagian dalam tempat pengunjung bersantap disediakan area seluas lebih kurang 8 meter x 10 meter. Pada ruangan tersebut kita akan menemui 7 buah meja berjajar rapi, masing-masing dapat menampung 4 orang, yang berarti rumah makan tersebut dapat menampung 28 orang.

Warta Kota pun semakin tidak sabar untuk merasakan kelezatan hidangan unik, Nasi Uduk Hijau. Untuk pendampingnya tidak perlu bingung karena sebelumnya telah berbincang dengan sang pemilik, maka ayam bakar bumbu rujak, cumi telur bakar, tempe bakar, dan sayur asem segera dipesan. Tak luma segelas es markisa segar melengkapi. Tak perlu menunggu lama hidangan pun tiba di atas meja.

Pertama nasi uduk hijaunya. Sebagaimana yang telah disinggung, bukan citra putih yang tampak melainkan warna kehijauan yang tersaji. Nasi uduk Disajikan dalam piring keramik berwarna putih. Nasi dibentuk menggunakan mangkuk kecil. Tak lupa tambahan emping tersaji pada pinggiran nasi. Di atasnya ada taburan bawang goreng berwarna cokelat. Dari warna saja sudah sangat menarik.

Aroma nasi uduk hijau tersebut luar biasa wangi, aroma khas santan bercampur aksen wangi khas daun pandan. Belum lagi aroma bawang goreng yang sedap makin melingkapi. Konsolidasi aroma yang jempolan.

Segera saya mencecap si hijau. Dari segi tekstur nasi tersebut tetap tidak menggumpal dengan bulir-bulir yang tidak benyek. Biasanya model seperti itu akan menghasilkan nasi yang cenderung keras. Namun terkaan saya berbanding terbalik, bukan keras yang dirasa tapi pulen empuk dan gurih yang mendominasi lidah. Enak!

Rupanya rumah makan tersebut benar-benar ahli mengolah nasi uduk. Untuk gambaran lezatnya, bahkan saya rela jika tidak ada lauk pendamping untuk menikmatinya. Namun apa daya saya telah memesan beberapa hidangan yang wajib dirasakan.

Olahan lauk bakar

Selanjutnya mari lauknya gantian diuji. Pertama tempe bakar. Lazimnya tempe disajikan dengan digoreng, namun di sini ada olahan bakar yang menjadi favorit. Untuk sajian tersebut dua buah tempe berukuran lebih kurang 8 sentimeter persegi. Dari tampilan tempe tampak dibalur dengan bumbu bakar yang berwarna kuning kemerahan. Saat coba dipotes dengan jari, hidangan tersebut sangat mudah. Berbeda apabila tempe digoreng maka bagian luar akan garing dan sedikit melawan. Saat dikunyah rasa pedas cukup mendominasi. Di ujung kecapan, rasa manis seolah bersembunyi menunggu giliran. Keempukan tempenya memang luar biasa memanjakan lidah.

Selanjutnya cumi telur bakar yang juga rekomendasi Harry. Seekor cumi-cumi ditusuk dengan tusukan kayu, seperti sate. Warna cumi yang bersih menjadi tidak nampak dalam hidangan. Selain terdapat nuansa kehitaman khas bakaran, sepertinya bumbu yang digunakan pun berwarna kemerahan. Sehingga hewan bertentakel tersebut berwarna mambang-kuning. Tekstur luarnya memang sedikit liat khas cumi-cumi. Untuk bumbu masih seputar rasa pedas manis, walau pedas dalam hidangan ini jauh lebih jinak ketimbang tempenya. Namun yang membuat rasanya sungguh unik adalah saat lelehan telur di dalamnya menyentuh lidah. Mak nyess...mantap.

Selanjutnya ayam bumbu rujak bakar. Masih serupa dengan lainnya, hidangan ini berwarna oranye karena terbungkus tebal bumbu rujak dengan aksen kehitaman bekas dibakar arang. Saat jari mencolek bumbu, rasanya manis pedas. Kesan manis lebih terasa menyelimuti hidangan ini. Ayamnya pun tidak sulit digarap karena terbakar dengan matang yang pas. Ketika dagingnya disantap bumbu rujaknya pun terasa meresap ke dalam. Teman yang pas untuk si nasi hijau yang juara tadi.

Kemudian sayur asam dengan kuah merah jingga menyala. Disajikan dalam mangkuk, sayur tersebut memiliki isian yang lengkap. Sebagai contoh asam, melinjo, labu siam, jagung, nangka muda, dan kacang panjang memenuhi mangkuk. Saat coba dicicipi tendangan segar asamnya benar-benar kentara, pokoknya sama sakali tidak kurang asam. Belum selesai rasa asam mendobrak mulut, rasa pedas pun turut melancarkan agresinya. Memang terasa pedasnya. Tak heran warna kuah sayur tersebut berwarna oranye menyala pasti karena cabainya cukup kaya.

Rasa pedas memang cukup mendominasi santapan saya kala itu. Beruntung es markisa menjadi pereda lidah saya yang bak terbakar.

Pujian saya tentu tidak berlebih karena kesan yang diberikan pengunjung juga mengisyaratkan kepuasan akan hidangan di sana. Salah satunya Doni Saputra (39). Pria berambut panjang terikat rapi tersebut mengaku baru pertama kali datang ke sana. Namun ia merasa puas akan hidangan yang tersaji. "Sambalnya meski sederhana mantap banget rasanya. Dicocol dengan tahu gorengnya aja, saya enggak mau berhenti makan. Nasi uduk pandannya juga enak banget. Bener-bener pakai pandan," ujarnya memberi apresiasi tinggi.

Setelah bersantap pastinya giliran membayarnya. Jangan khawatir karena rumah makan dengan tag line "harga kaki lima kualitas bintang lima" tersebut boleh dikata ramah di kantong. "Harga di sini berkisar Rp 3.000 untuk tahu dan tempe sampai yang termahal Rp 50.000 untuk udang bakar. Nasi uduk pandan sepiringnya Rp 5.000," jelas Harry. Ia kembali menambahkan untuk harga ayam rumah sebesar Rp 10.000 baik yang digoreng maupun dibakar. Sedangkan harga es markisa Rp 12.500. Jadi menyantap nasi uduk hijau plus lauk ayam tahu tempe sayur asam dengan es markisa masih di bawah Rp 50.000.

Harry mengaku dalam sehari rumah makan yang ia kelola bersama keluarga tersebut dapat menjual 120 - 150 piring nasi uduk pandan. Untuk omzet per harinya di sana dapat mengantongi Rp 3.000.000.

Sehari-hari rumah makan yang juga menjamin halal hidangannya, beroperasi setiap hari mulai pukul 10.00 hingga 22.00. Namun, keterbatasan lahan parkir bisa menjadi kendala pada saat jam ramai, seperti makan siang.

Harry juga menyediakan layanan pesan antar bagi Anda yang tinggal di sekitaran rumah makannya dengan menghubungi nomor telpon (021)634 8908 atau 08128208999. "Tidak ada batas minimal yang ditentukan dalam memesan. Asalkan daerahnya masih bisa kami jangkau, pasti akan dilayani," ujar Harry. (m11/warta kota)

 


Editor : Pingkan