Mendarat di Palu, Tangan Bupati Buol Diborgol - Kompas.com

Mendarat di Palu, Tangan Bupati Buol Diborgol

Kompas.com - 06/07/2012, 13:56 WIB

PALU, KOMPAS.com — Bupati Buol Amran Batalipu akhirnya tiba di Bandar Udara Mutiara Palu, Sulawesi Tengah, Jumat (6/7/2012). Pesawat Expres Air tiba di Bandar Udara Mutiara sekitar pukul 11.45 WIT. Amran langsung digiring ke ruangan VIP Bandar Udara Mutiara, Palu, Sulawesi Tengah.

Amran terlihat dibawa oleh petugas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tangan terborgol. Sore ini, dipastikan Amran akan diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat Lion Air. Hingga saat ini belum ada keterangan resmi dari tim KPK terkait penangkapan Amran. Namun, keluarga Amran Batalipu, Is Bakulu, mengaku kecewa atas penangkapan yang dilakukan KPK.

Amran dibawa dari Buol menuju Tolitoli dengan mengendarai mobil Toyota Innova, lalu diterbangkan ke Palu. Di Tolitoli, ia sempat dibawa ke Kantor Kepolisian Resor Tolitoli dengan hanya mengenakan baju kaus dan sarung. Ketika tiba di bandara, Amran terlihat memakai kaus berwarna krem bercorak kotak-kotak dan celana panjang berwarna coklat muda.

Bupati Buol Amran Batalipu yang juga menjabat sebagai Ketua DPD II Partai Golkar Buol ini ditangkap pada Jumat dini hari sekitar pukul 04.00 WIT di rumah pribadinya, di Kelurahan Leok I, Kecamatan Biau, Kabupaten Tolitoli, Sulawesi Tengah.

Sebelumnya, Amran sempat lolos ketika KPK melakukan tangkap tangan saat ia akan menerima suap dari PT Citra Cakra Murdaya, anak perusahaan PT Hardaya Inti Plantation, milik pengusaha nasional Hartati Murdaya. Penyuapan ini dilakukan direksi terkait permintaan pembebasan lahan di luar hak guna usaha PT CCM seluas tidak kurang dari 4.486 hektar.


Ikuti perkembangan berita ini dalam topik:
    EditorGlori K. Wadrianto

    Terkini Lainnya

    Curi Motor Temannya Sendiri, Pelajar Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi

    Curi Motor Temannya Sendiri, Pelajar Pelaku Curanmor Ditangkap Polisi

    Regional
    Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

    Elektabilitas Jokowi Turun, PDI-P Akui Sektor Ekonomi Belum Optimal

    Nasional
    Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

    Dituding Penyebab Banjir, PGE Membantah dan Mengaku Juga Jadi Korban

    Regional
    Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

    Tak Terima Saudaranya Meninggal di RS, Keluarga di India Blokade Jalan

    Internasional
    Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

    Anies Baswedan Dilaporkan ke Polisi Terkait Penutupan Jalan Jatibaru

    Megapolitan
    Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

    Lagi-lagi, Saksi Bicara soal Pemberian untuk Adik Gamawan Fauzi Terkait Proyek E-KTP

    Nasional
    Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

    Sembunyikan Sabu di Celana Dalam, Pengedar Sabu Akhirnya Ditangkap di Kediri

    Regional
    Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

    Perjuangan Petugas 6 Jam Padamkan Kebakaran di Matahari Kudus

    Regional
    Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

    Musnahkan Barang Tangkapan, Bea dan Cukai Kepri Bakar Ribuan Barang Elektronik dan Sembako

    Regional
    Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

    Enam Poin Penting yang Terungkap dari Rekaman Johannes Marliem soal E-KTP

    Nasional
    Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

    Petugas KPK Jaga Rumah Novel 24 Jam Selama Sepekan

    Megapolitan
    Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

    Kembangkan Sektor Hiburan, Arab Saudi Siapkan Dana Rp 875 Triliun

    Internasional
    'Underpass' Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

    "Underpass" Kartini Rampung, Satu Lajur Mulai Dioperasikan

    Megapolitan
    Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

    Argentina Sita Kokain Senilai Rp 683 Miliar dari Kedubes Rusia

    Internasional
    Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

    Dipecat via WhatsApp, Dua ABK di NTT Tidak Diberi Pesangon

    Regional

    Close Ads X