Sabtu, 1 November 2014

News / Nasional

Ini Alasan Agung Laksono Tak Penuhi Panggilan KPK

Rabu, 4 Juli 2012 | 15:28 WIB

MOROTAI, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat (Menko kesra) Agung Laksono akhirnya buka suara seputar ketidakhadirannya memenuhi pemanggilan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap dirinya, Selasa (3/7/2012). Agung mengaku tidak menghadiri panggilan KPK karena punya agenda ke luar daerah, yakni ke Kendari.

"Saya ke Kendari," kata Agung menjawab pertanyaan wartawan saat mengunjungi Kabupaten Pulau Morotai, Maluku Utara. Agung kembali mengunjungi Morotai meninjau kesiapan pelaksanaan Sail Morotai. Ia ditemani Menteri Perhubungan Sharif Cicip S dan Menteri Kelautan dan Perikanan EE Mangindaan.

Agung menjelaskan, panggilan KPK datang padanya satu hari sebelumnya, sementara ia lebih dulu diagendakan berkunjung ke Kendari. "Nanti setelah ini, saya rencana minta waktu agar paling cepat besok gitu. Panggilan ini kan sifatnya hanya memberikan penjelasan saja," katanya.

Agung dipanggil sebagai saksi terkait penyidikan kasus dugaan suap pembahasan perubahan Peraturan Daerah Nomor 6 Tahun 2010 tentang Dana Pengikatan Tahun Jamak Pembangunan Venue Pekan Olahraga Nasional (PON) Riau 2012. Agung diketahui pernah mengadakan rapat dengan Menteri Pemuda dan Olahraga Andi Mallarangeng serta Gubernur Riau Rusli Zainal guna membahas pengalokasian dana PON tersebut.

Dalam rapat itu, Andi menyampaikan, untuk menyukseskan pelaksanaan PON XVIII Riau, 9 September 2012, pemerintah melalui Menpora membantu dana Rp 100 miliar. Sejauh ini, persiapan PON Riau sudah menghabiskan APBD provinsi tersebut sekitar Rp 3,8 triliun sejak 2006. Rapat tersebut berlangsung bertepatan dengan operasi tangkap tangan KPK di Riau.

Dari operasi tersebut, KPK mengamankan empat orang, yang kemudian menjadi tersangka kasus ini, yaitu pegawai PT Pembangunan Perumahan, Rahmat Syaputra; mantan Kepala Seksi Sarana dan Prasarana Dinas Pemuda dan Olahraga Riau Eka Dharma Putra; serta dua anggota DPRD Riau, yakni M Faisal Aswan (Fraksi Golkar) dan M Dunir (PKB).


Penulis: Kontributor Halmahera, Anton Abdul Karim
Editor : Heru Margianto