Rabu, 22 Oktober 2014

News / Waroengan

Menikmati Menu Serba Tahu

Selasa, 3 Juli 2012 | 14:49 WIB

BAGI penyuka aneka hidangan berbahan utama tahu, Resto Tahu Iki Kuwi merupakan salah satu tempat favoritnya. Di sana ada dapat menemui belasan hidangan tahu yang lezat dan fresh sambil melihat langsung pembuatan tahu yang belum diolah.

"Saya jamin tahu yang digunakan selalu fresh dan tanpa bahan pengawet karena kami membuat tahu sendiri setiap hari. Biasanya tiap dua jam sekali kami membuatnya," ujar Jefta Ariadhi Hadiwidjaja (28) pemilik Resto Iki Kuwi di Jalan Kelapa Hibrida Raya Blok QG10 No 2 Kelapagading, Jakarta Utara.

Menuju ke restoran tersebut dapat ditempuh melalui Jalan Bulevar Raya, terus melaju hingga lampu merah Masjid Raya Kelapagading. Dari sana tetap melaju lurus hingga menemui Jalan Hibrida Raya di sisi kiri. Belok kiri masuk ke Hibrida Raya, Anda akan melewati sekolah Penabur, masih terus tapi perhatikan sebelah kiri karena Iki Kuwi akan tampak di sebelah kiri di antara jajaran rumah toko di sana.

Tempatnya tidak terlalu, besar kurang lebih 5 meter x 7 meter luasnya. Mungkin dapat menampung 24 pengunjung. Ruangannya bersih dan dilengkapi pendingin udara. Pada bagian dinding dihias kaligrafi tulisan China, juga poster Iki Kuwi plus visualisasi hidangan dalam foto yang menggugah selera.

Konsep open kitchen menjadi hal yang ditonjolkan restoran ini. "Di setiap restoran ada tempat pembuatan tahu yang bisa dilihat langsung oleh pengunjung. Ya open kithen pembuatan tahu-lah. Saya pikir masih sangat jarang restoran yang seperti ini," ujar Jefta yang memperoleh ilmu membuat tahu langsung dari Negeri Tirai Bambu.

Kemudian alasan memilih tahu sebagai konsep hidangan utama dalam restorannya, kata Jefta, ide tersebut berasal sang ayah. "Sebenarnya sih ini merupakan ide Papa saya. Mungkin beliau melihat restoran tahu fresh yang menjamin bebas bahan pengawet masih sedikit," tuturnya.

Terkait pemilihan nama "Iki Kuwi", Jefta mengaku mengambil nama dari bahasa Jawa yang berarti "ini itu". Maksudnya adalah dalam restorannya terdapat ini dan itu soal hidangan tahu,

Bumbu kacang campur petis

Warta kota pun semangat segera merasakan hidangan tahu di sana. Cukup variatif hidangan di daftar menu sempat membuat bingung. Ada tahu gejrot, tahu campur, tahu telur, lumpia kulit tahu (berisi daging ayam, udang, jamur), tahu kuah (kuah ayam atau tuna), tahu kipas, tahu lapis (tahu goreng yang dilapisi tepung), dan tahu goreng.

Namun setelah mendapat masukan maka tahu campur dan tahu kipas menjadi sajian yang akan saya rasakan kelezatannya. Setelah menunggu beberapa saat, hidangan pun tiba di hadapan saya.

Pertama tahu campur. Disajikan dalam mangkuk porselen berwarna putih. Hidangan ini berisi lontong, kubis, dan taoge yang direndam air hangat sebelumnya. Lalu topping-nya adalah gimbalan yang rupanya seperti bakwan, telur dadar, dan sedikit daun seledri untuk penyedap. Semua isian tersebut dimasukkan dalam rendaman bumbu kacang yang lebih encer dari bumbu kacang pada gado-gado, berwarna cokelat pekat.

Saatnya makan. Pertama-tama saya menyendok bumbu kacangnya. Bumbu kacangnya terasa manis dan legit, serta lembut di mulut. Terdapat sedikit aksen bumbu yang jarang saya temui. Sedikit menggelitik lidah. Tekstur kacangnya masih sedikit terasa, tidak kasar tapi juga tidak sangat halus karena bulirnya masih dapat dicecap lidah.

Tahunya begitu halus dan gurih di dalam, namun garing di luar. Sangat terasa kesegarannya. Belum lagi tambahan kubis dan taoge segar yang meramaikan kesegaran rasa. Jangan lupakan lontongnya yang padat menjadi sumber karbohidrat hidangan tersebut. Pokoknya top banget, terlebih bumbu kacang dan tahunya. Hidangan ini sontak menjadi jajaran tahu campur rekomendasi teratas dari saya.

Selanjutnya tahu kipas yang sedari tadi menunggu giliran untuk disantap. Hidangan ini berupa lima buah tahu isi yang berbentuk kubus berukuran lebih kurang 5 cm x 5 cm. Tak lupa disediakan sambal kecap dengan bawang merah dan cabai rawit untuk cocolannya. Semacam kudapan namun bakal mengenyangkan karana ukurannya yang besar.

Pada bagian luar tahu yang digoreng terasa garing karena menggunakan tepung. Kriuk...! Setelah bagian luar tahu digigit, mulai terasa isiannya yang tidak pelit. Terlihat ada wortel, kubis, taoge, dan orak-arik telur. Lalu, tak lama terasa sesuatu yang gempi dan gurih. Ternyata itu adalah udang yang jadi jagoan isi tahunya. Pastinya gurih tahu menjadi makin berwarna dengan kehadiran segarnya daging udang. Mantab dan kenyang...!

Kelezatan hidangan tahu di sana juga dirasakan Dwi Rendy Maulana (24). "Favorit saya tahu kipasnya. Isinya enggak pelit terus udangnya gede dan berasa banget. Tahunya juga gurih. Kebetulan saya suka gorengan, ini gorengan mantap," jelas pria kurus berkacamata yang juga baru pertama kali berkunjung ke sana.

Terkait dengan rasa penasaran akan rasa bumbu kacang pada hidangan awal, Warta Kota menanyakan apa rahasia di baliknya. Jefta mengatakan bahwa dirinya hanya menggunakan kacang biasa dengan kualitas terbaik. Namun ia juga menambahkan sedikit petis. Pasti itu yang membuat bumbu kacangnya berbeda dengan yang kita jumpai pada makanan ketoprak. Maklum saya pribadi amat sangat jarang lidahnya bersentuhan dengan bumbu yang satu itu.

Jual tahu yang belum diolah


Sesudah bersantap pasti timbul tanya mengenai harga. Untuk tahu campurnya yang legit dan menyegar tersebut seharga Rp 20.000. Sedangkan kudapan tahu kipas dipatok seharga Rp 20.909. Perlu dicatat bahwa itu semua belum termasuk pajak.

Jefta mengatakan, keseluruhan hidangan di Resto Iki Kuwi tak ada yang di atas Rp 25.000. "Kalau untuk kisaran harga baik minuman maupun makanan mulai dari Rp 3.181 sampai yang termahal Rp 22.727. Semua belum termasuk pajak ya," terang pria ramah yang mengawali bisnis kulinernya tersebut mulai tahun 2008.

Jika Anda tidak terlalu suka dengan tahu, jangan khawatir. Resto Iki Kuwi juga menyediakan berbagai menu masakan non-tahu seperti sate ayam, mi ayam, kentang goreng, dan roti panggang.

Selain menjual tahu matang, Jefta juga melayani pengunjung yang ingin membeli tahu yang belum diolah. "Awalnya sih enggak jual, tapi banyak juga ibu-ibu yang minta. Jadinya kita layani dan keterusan sampai sekarang. Soal harga sama dengan harga tahu biasa tapi biasanya dapat delapan, kalau mentah ditambah satu," kata pria yang menyelesaikan studi bahasa Mandarinnya di China, tersebut.

Dia mengaku dalam sehari rata-rata restorannya menghabiskan kedelai antara 10 hingga 20 kilogram. "Tapi itu yang di mal ya. Kalau yang di sini masih belum ada perkiraanya karena kami baru buka bulan April kemarin," kata sarjana ekonomi Universitas Atmajaya, ini.

Sampai saat ini Resto Iki Kuwi telah memiliki tiga buah restoran. Yang pertama ia dirikan di Mall Of Indonesia lantai 1 Blok-19, kedua di Mall Artha Gading lantai basement, dan yang ketiga adalah restoran di Jalan Kelapa Hibrida Raya.

Untuk operasional restorannya, Jefta menerapkan jam yang berbeda. "Kalau yang di mal kami mengikuti mall hour pukul 10.00-22.00. Sedangkan kalau yang di ruko ini beda, yakni pukul 08.00-18.00. Untuk jam ramai restorannya Jefta mengatakan saat makan siang dan malam menjadi waktu sibuk restorannya yang berada di mal. Tetapi untuk restorannya yang terbaru ia masih belum memiliki kepastian. Karena masih baru buka jadi masih susah ya memetakannya. Tapi biasanya ada aja yang datang saat jam pulang sekolah. Soalnya di sini dekat sekolah (Sekolah Penabur dan Jakarta Taipei School berlokasi satu kawasan)," papar Jefta.

Resto ini juga menyediakan layanan pesan antar dengan menghubungi (021)26176555, pilih menu, dan pesanan di antar ke rumah Anda. Namun hanya berlaku untuk kawasan Kelapagading saja. Selain itu Resto Iki Kuwi juga menyediakan kemudahan bertransaksi dengan menggunakan kartu kredit. (m11/warta kota)

 


Editor : Pingkan