Senin, 14 Juli 2014

News / Nasional

Chairul Tanjung: Pengangguran Ditekan, Konflik Tidak Terjadi

Senin, 2 Juli 2012 | 20:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengusaha nasional Chairul Tanjung berpendapat, bahwa konflik di masyarakat bisa tidak terjadi bila tingkat pengangguran ditekan sekecil-kecilnya. "Banyak masalah di republik kita, khususnya masalah sosial," kata Chairul, ketika menjawab pertanyaan salah seorang peserta dalam peluncuran bukunya "Chairul Tanjung Si Anak Singkong," di Toko Buku Gramedia Matraman, Jakarta, Senin (2/7/2012).

Ia menjelaskan, jumlah penduduk Indonesia terbilang besar. Ada lebih dari 240 juta orang penduduk yang mendiami Nusantara. Luasan geografis pun luar biasa. "Punya lebih dari 13 ribu pulau dan mayoritas belum dinamai," sambung dia.

Tidak hanya itu, jumlah suku bangsa pun terbilang banyak. Keragaman Indonesia tersebut lantas, kata Chairul, menjadi potensi konflik yang sangat tinggi. Konflik bisa terjadi antarsuku, agama, hingga gender. Namun, berdasarkan pengalamannya membaca buku sejarah mengenai bagaimana Pancasila itu dibuat para pendiri negara, ia pun meyakini faktor persatuan itu ada di tengah-tengah keberagaman Indonesia (unity in diversity). Dan, salah satu prasyarat untuk mewujudkan itu adalah kalau semua perut rakyat Indonesia kenyang.

"Potensi konflik akan terjadi kalau sebagian ada yang lapar, sebagian ada yang kenyang," tegas Chairul.

Kondisi yang tak imbang bisa memancing keadaan sosial yang tidak stabil. Dan, kondisi sosial tak bisa lepas dari kondisi ekonomi. Oleh karenanya, sebagai solusi, tingkat pengangguran harus ditekan.

"Kalau seandainya pengangguran itu bisa kita tekan sampai sekecil-kecilnya, kemiskinan bisa kita tekan sekecil-kecilnya, maka potensi kerawanan sosial dan lain sebagainya itu tidak akan terjadi," tutur Chairul.

Selain itu, ia menegaskan, faktor pendidikan juga penting sebagai kunci untuk mengentaskan kemiskinan. "Karena pendidikan akan memutus mata rantai kemiskinan. Dan kalau dia sudah tidak miskin maka dia akan tidak menimbulkan permasalahan dari masalah sosial," pungkasnya.


Penulis: Ester Meryana
Editor : Pepih Nugraha