Senin, 20 Oktober 2014

News / Lansir

Mengembangkan Wilayah Jakarta

Senin, 2 Juli 2012 | 15:27 WIB

SAAT Perang Dunia II, Maret 1942, Jepang masuk ke Pulau Jawa dan menghentikan pembangunan Batavia. Walaupun, dalam rangka propaganda, tentara Dai Nippon mengganti nama Batavia menjadi Djakarta Toko Betsu Shi, serta menghancurkan patung JP Coen di Waterlooplein.

Untuk lebih mengukuhkan propagandanya, Jepang menempatkan seorang Wakil Wali Kota Djakarta Toko Betsu Shi, yakni Soewirjo. Sementara Wali Kota diambil dari orang Jepang. Jepang yang berkuasa tidak lama ini ternyata banyak membuat kerusakan.

Hampir semua bangunan indah dan hotel dijadikan barak tentara yang sama sekali tidak terawat. Sampai kemudian pada tanggal 17 Agustus 1945, Soekarno-Hatta memproklamasikan kemerdekaan Indonesia di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56

Satu bulan kemudian, tidak kurang dari 300.000 orang berkumpul di Lapangan Ikada (Taman Medan Merdeka). Hebatnya, massa sebanyak itu datang berkumpul berkat berita dari mulut ke mulut. Sebenarnya rapat direncanakan tanggal 17 September, tepat satu bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Ada ancaman tentara Jepang dan Sekutu, rapat raksasa di Lapangan Ikada diundur menjadi 19 September. Setelah rapat raksasa di Lapangan Ikada, menurut sejarawan Uka Tjandrasasmita, rakyat Surabaya bergelora pada 10 November 1945, demikian juga perlawanan pada penjajah terus menyebar di seluruh negeri.

Belanda yang membonceng tentara Sekutu (NICA) tidak pernah mengakui proklamasi tersebut hingga Desember 1949. Oleh karena itu pecahlah Perang Kemerdekaan. Hanya saja, perang ini tidaklah berlangsung di Batavia. Soekarno, Hatta, dan beberapa pejabat tinggi lainnya dan keluarga pergi dari Batavia pada 4 Januari 1946.

Oleh sebab itu, pemerintah pendudukan kembali menata dan merencanakan sebuah pemekaran Batavia. Rencana pemekaran kota ini ke wilayah sebelah selatan lapangan Merdeka, kira-kira 8 kilometer. Wilayah itu sendiri sebelumnya telah disurvei dengan maksud untuk membuat lapangan terbang internasional yang baru untuk menggantikan Bandara Kemayoran (didirikan menjelang Perang Dunia II) yang ternyata menjadi penghalang pemekaran kota ke arah timur.

Wilayah yang dimaksud adalah Kebayoran seluas 730 hektar, yang dapat dihubungkan dengan jalan raya bagi kendaraan bermotor. Daerah yang diproyeksikan bagi perumahan itu bersinggungan tepinya dengan jalan Kereta Api Tanahabang-Serpong yang dapat mempermudah pengangkutan bahan-bahan bangunan.

Rencana pertama pembangunan kota itu diserahkan pada M Soesilo, seorang insinyur pada Centeral Planologisch Bureau (Biro Pusat Planologi). Sejak itu dikenal istilah Kota Satelit Kebayoran. Pada Februari 1949 rencana kota Kebayoran selesai. (aloysius suni dirgantoro)

Sumber: bappedajakarta.go.id

 


Editor : Pingkan