Kamis, 21 Agustus 2014

News / Edukasi

"Indonesian Week" Siap Digelar di Kampus APU Jepang

Senin, 2 Juli 2012 | 11:34 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Rasa cinta dan bangga menjadi Indonesia akan lebih terasa bila kita berada di luar negeri. Rasa itulah yang menggelora di dada para mahasiswa Indonesia di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Beppu, Jepang, dalam rangkaian 'Indonesian Week'.

'Indonesian Week' merupakan ajang perkenalan budaya Indonesia kepada mahasiswa di Kampus APU, yang terletak di kota Beppu, wilayah Oita, atau sekitar 1000 km sebelah barat laut kota Tokyo. Sebagai acara tahunan, 'Indonesian Week 2012' digelar dengan menampilkan berbagai penampilan seni dan budaya Indonesia selama sepekan, mulai 3-8 Juli 2012.

Seperti tahun-tahun sebelumnya, selama sepekan, tema Indonesia akan semarak di Kampus APU dengan aneka pertunjukan yang ditampilkan, mulai dari pameran kerajinan, parade seni, konser musik dangdut, festival kuliner, hingga acara puncak berupa Pergelaran Budaya yang menampilkan berbagai atraksi tarian dan seni Indonesia.

"Banyak sekali pihak yang khawatir, jika kita banyak berhubungan dengan orang asing berbeda budaya, bukankah identitas kita semakin nyaris hilang tak berbekas. Berdasarkan pengalaman saya, hal itu tergantung diri kita masing-masing. Jika kita ingin larut, memang gampang sekali identitas diri kita hilang larut dalam budaya lain. Tetapi, jika kita pandai-pandai berbuat dan mengemas apa yang kita miliki, justru identitas kita diakui orang lain. Intinya adalah kemauan kita bekerja keras dan mencari strategi jitu mengemasnya," ujar Dahlan Nariman Vice-Dean of Admissions, Associate Professor, Education Development and Learning Support Center (EDLSC) di Ritsumeikan Asia Pacific University (APU), Japan, di Fukuoka, Senin (2/7/2012).

Ia menuturkan, dilaksanakan pertama kali sebagai bagian dari Multi-Cultural Week pada 2002, kegiatan ini awalnya hanya sekadar kegiatan sederhana kelompok mahasiswa dari beberapa negara untuk memperkenalkan bahasa dan budayanya ke mahasiswa negara lain. Seiring waktu, kegiatan ini berkembang dengan kegiatan promosi identitas Negara yang semakin kompleks.

"Intinya misinya tetap sama, yaitu mempromosikan budaya masing-masing Negara," ujar Dahlan.

Terbukti, hal menarik dari pertunjukan tersebut adalah para penari yang tampil bukan hanya mahasiswa Indonesia, namun juga mahasiswa internasional dari berbagai suku bangsa, mulai dari Perancis, Amerika, Ghana, Bolivia, termasuk dari Jepang dan Cina. Untuk Tari Saman sendiri, bahkan hanya dua orang penarinya yang berasal dari Indonesia, selebihnya mahasiswa asing.

"Aktivitas-aktivitas akademik dan non-akademik tersebut yang di-setting secara sengaja atau tidak sengaja oleh pihak universitas, sebenarnya menjadi arena pembentukan jiwa lulusannya. Dan jiwa-jiwa itulah yang dianggap sedang matching dengan kondisi bursa kerja di era globalisasi ini. Karena itulah lulusan APU sedang banyak dinantikan perusahaan multi-nasional untuk beraktifitas di arena global," papar Dahlan.

Pada akhirnya, lanjut Dahlan, setiap tahun mahasiswa dari beberapa negara berpikir keras untuk menggali, identitas dan budaya apa yang dimiliki negaranya. Kemudian, mereka bekerja keras mengemas cara agar bisa diterima dan mendapat tepuk tangan meriah dari seluruh warga "kampung global" di Kampus APU ini.

"Mereka juga merekrut orang-orang di luar negaranya untuk mengorganisasi dan bermain bersama di event ini. Jadi, kolaborasi antar negara terjadi juga di sini," kata Dahlan.

Tanpa disadari, gelaran Multi-Cultural Week telah menjadi ajang penggugah nasionalisme dan pencarian identitas berbagai orang dari masing-masing nagaranya, termasuk juga menjadi ajang belajar berkolaborasi dengan orang-orang dari latar belakang budaya berbeda.

Satu hal paling membanggakan, berdasarkan pengamatannya setiap tahun, Indonesian Cultural Week, menjadi cultural week primadona di Kampus APU. Setiap tahun, lanjut Dahlan, penonton telah berjajar mengantre puluhan meter sejak pukul 3 sore, untuk mendapatkan tempat duduk di hall yang berkapasitas 800 tempat duduk. Padahal, biasanya acara baru dimulai sekitar jam 7 malam.

"Ini terbukti dengan antusiasme warga APU menanti dan mengikuti Indonesian Week setiap tahun selama empat tahun terakhir. Nah, seperti apa semaraknya Indonesian Week 2012 ini nantinya? Simak liputan khususnya di Edukasi-Kompas.com! 


Penulis: M Latief
Editor : Inggried Dwi Wedhaswary