Minggu, 21 September 2014

News / Lansir

Batavia Sunyi saat Sensus Berlangsung

Sabtu, 30 Juni 2012 | 12:23 WIB

PEMERINTAH Hindia-Belanda memutuskan melakukan sensus penduduk secara serentak di seluruh nusantara pada tahun 1930 (G Termorshuizen. Realisten en Reactionairen: Een Geschiedenis van de Indisch-Nederlandse Pers 1905-1942. Leiden: KITLV, 2011).

Tak seorang pun dapat menghindari sensus itu. Semua orang, termasuk warga Eropa, China, dan Arab, yang mengalami peristiwa itu takkan dapat melupakannya. Rencana pendataan penduduk itu didahului dengan berbagai pengumuman dan penyebaran informasi oleh pemerintah di masing-masing kota.

Hari Selasa, 7 Oktober 1930, ratusan petugas sensus disebarkan di seluruh wilayah Batavia. Pagi itu, di halaman pertama Het Bataviaasch Nieuwsblad tampak sebuah pengumuman dengan huruf-huruf bercetak tebal: “Heden heeft hier ter stede de momenttelling plaats. De tellers beginnen hun arbeid om half 7 uur in de namiddag. BLIJFT HEDENAVOND THUIS! Houdt uw honden tussen half 7 en 10u s’avonds aan een ketting!” (Hari ini di kota akan dilakukan pendataan penduduk. Petugas-petugas pendataan akan mulai bekerja pada pukul 18.30, malam hari. TINGGALLAH DI RUMAH! Di antara pukul 06.30 sampai pukul 10.00 malam hari, semua anjing peliharaan harus diikat!).

Malam itu para petugas turun ke jalan. Mereka mendatangi setiap rumah satu per satu. Petugas terakhir menyelesaikan tugasnya menjelang tengah malam. Keesokan harinya Harian Java Bode memuat laporan pandangan mata yang menarik :

"Tadi malam, Batavia tampak tenang dan damai. Tak terdengar bunyi klakson taksi atau pun dentang-denting musik. Suara-suara yang biasanya terdengar setiap malam tak terdengar. Segala bebunyian di jalanan, yang biasanya mencirikan kehidupan kota besar, sama sekali tak terdengar.

Sebelum matahari terbenam, semua toko dan warung sudah menutup pintu. Lampu-lampu yang biasanya memeriahkan dan mempercantik jalan-jalan di kota dan etalase toko tidak menyala. Jalan-jalan pertokoan terkesan gelap dan agak menyedihkan, bahkan lebih sepi daripada suasana Minggu malam. Di rumah-rumah, para pembantu sejak sore mulai gelisah melirik jam dinding. Sebelum para petugas datang, mereka sudah harus di rumah masing-masing di kampung-kampung Batavia. Rupanya, bayangan kedatangan petugas sensus lebih menyeramkan daripada bayangan didatangi oleh sekompi serdadu Belanda!"

Setelah ia sendiri didata, si wartawan Java Bode cepat-cepat turun ke jalan. Malam itu, semua mobil dapat berbalapan di jalan. Tak ada tanda-tanda kehidupan di Batavia! Sungguh mengherankan! Tak seekor binatang pun tampak di jalan! Bahkan, anjing-anjing liar yang biasanya tampak mengendus-endus sampah Batavia tak ada!

Gedung-gedung bioskop yang selalu ramai tampak sesepi kuburan. Glodok (Jakarta Barat), dengan empat gedung bioskopnya, tampak seperti kota hantu yang ditinggalkan oleh penduduknya. Semua warung dan kios penjual makanan di dekat bioskop-bioskop itu tutup. Pangkalan taksi yang tak pernah sepi hampir tak dapat dikenali. Sang wartawan tiba-tiba menyadari bahwa para sopir taksi pun menunggu kedatangan petugas sensus.

(frieda.amran@yahoo.com, anggota asosiasi Anthropologi Indonesia)

 


Editor : Pingkan