Minggu, 31 Agustus 2014

News /

Capres Golkar Bisa Berubah

Sabtu, 30 Juni 2012 | 02:04 WIB

Bogor, Kompas - Rapat Pimpinan Nasional III Partai Golkar mengukuhkan Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie sebagai calon presiden periode 2014-2019. Namun, perubahan masih mungkin terjadi sebelum resmi ditetapkan sebagai calon presiden oleh Komisi Pemilihan Umum.

Seperti diungkapkan Ketua Dewan Pertimbangan Pusat Partai Golkar Akbar Tandjung, pencalonan presiden tidak bisa diubah jika sudah ada pengesahan dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). ”Pencalonan tidak bisa diubah kalau nanti sudah disampaikan ke KPU dan KPU sudah mengesahkan. Itu, kan, baru 2014,” katanya seusai pembukaan Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III Partai Golkar di Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/6).

Hal itu berarti kemungkinan perubahan masih terbuka karena penetapan capres peserta pemilu baru dilakukan setelah pemilu legislatif pada 2014. Apalagi, menurut Akbar, tidak ada sesuatu yang pasti dalam politik. Kondisi politik, baik di internal maupun eksternal, selalu berkembang dengan cepat.

Saat ini tingkat elektabilitas Aburizal menurut survei sejumlah lembaga survei memang cukup tinggi, rata-rata mencapai 20 persen. Akan tetapi, pemilu masih dua tahun lagi. Dengan demikian, perubahan tingkat keterpilihan masih mungkin terjadi.

Oleh karena itu, Akbar mengingatkan, Partai Golkar harus tetap berjaga-jaga. ”Golkar harus menerawang dengan saksama dan sungguh-sungguh supaya tren kenaikan bisa dijaga,” ujarnya.

Jika terjadi tanda-tanda penurunan tingkat elektabilitas, Partai Golkar harus segera mencari penyebab serta solusinya. Hal lain yang diperlukan adalah kerja keras para kader dan pengurus untuk menjaga elektabilitas tetap naik.

Selain itu, Akbar juga mengingatkan, pencalonan presiden sangat tergantung dengan hasil pemilu legislatif. Sesuai dengan Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilu Presiden, partai dapat mengusung capres-cawapres jika memperoleh 20 persen kursi di parlemen atau 25 persen suara sah secara nasional.

Ketua DPD I Partai Golkar Yogyakarta Gandung Pardiman melihat pernyataan Akbar adalah sebuah peringatan bagi kader untuk terus bekerja keras. ”Sebagai senior, Pak Akbar tidak ingin Golkar gagal lagi. Itu harus dijawab dengan kerja keras,” katanya.

Sementara itu, pencalonan Aburizal didukung oleh semua DPD I Partai Golkar. Dukungan itu disampaikan dalam pandangan tiap-tiap unsur pimpinan DPD I dalam rapimnas.

Aburizal sendiri menyatakan bahwa pencalonannya menjadi capres ditetapkan melalui mekanisme yang demokratis. Selain itu, dia juga menyatakan jika ia mendapat dukungan dari rakyat Indonesia. Hal itu terbukti dengan tingginya elektabilitas dalam survei sejumlah lembaga survei.

Dalam rapimnas itu, sejumlah nama juga diusulkan menjadi cawapres. Di antaranya Sultan Hamengku Buwono X yang diusulkan oleh DPD I Yogyakarta dan Gubernur Jawa Timur Soekarwo yang diusulkan oleh DPD I Jawa Timur.

Rapimnas dihadiri unsur pimpinan 33 DPD I, pimpinan organisasi sayap, serta pengurus DPP Partai Golkar. Sejumlah tokoh senior Golkar juga hadir dalam pembukaan rapimnas. Mantan Wakil Presiden M Jusuf Kalla tak terlihat hadir. (NTA)


Editor :