Rabu, 30 Juli 2014

News / Lansir

Serdadu Hitam Hindia Belanda

Jumat, 29 Juni 2012 | 16:24 WIB

PADA abad ke 19 zaman penjajahan Belanda, pemerintah kolonial kala itu pernah memboyong serdadu sewaan berkulit hitam dari Afrika untuk mengganyang rakyat yang memberontak terhadap kompeni.

Para serdadu Negro, atau yang dalam dunia militer Amerika juga populer dengan istilah buffalo soldier, ini pada umumnya adalah budak yang dibeli dan diharuskan teken kontrak sebagai serdadu.

Kurangnya serdadu Eropa dalam tentara kolonial Belanda pada abad ke 19 disebut-sebut sebagai pemicu utama kedatangan orang-orang Negro tersebut. Karenanya, pemerintah kolonial berinisiatif mengambil para calon serdadu hitam itu dari Pantai Guinea, Afrika Barat, yang notabene masih menjadi jajahan kompeni pada tahun 1831.

Pada tahun 1834, para serdadu hitam sudah digunakan kompeni untuk melakukan penindasan terhadap para pemberontak di daerah Lampung dan Jambi, dan berjalan dengan baik. Alhasil, seorang perwira tinggi Belanda pada tahun 1837 diutus untuk mencari kurang lebih 1.000 budak Negro lagi, dengan biaya 1.000 gulden
per kepala untuk diteken kontrak menjadi serdadu selama kurun waktu 4 tahun.

Tak lama dari perekrutan tersebut, setidaknya terkumpul 1.500 serdadu Negro di dalam tentara kolonial Belanda, yang dibagi dalam kompi-kompi di beberapa daerah di Indonesia. Selama mengabdi sebagai tentara sewaan, para serdadu Negro ini banyak berbaur dengan rakyat, bahkan sampai memiliki istri orang pribumi.

Hal ini semakin menegaskan bahwa Indonesia merupakan kancah perpaduan multi etnis, mulai dari pribumi, India, Tiong Hoa, Eropa, sampai Afrika. Tentara-tentara bayaran asal Afrika tersebut juga dikenal sangat buruk dalam hal disiplin, khususnya kemiliteran pada era itu.

Disebutkan, bahwa mereka bahkan lebih takut dengan istri mereka sendiri ketimbang komandan mereka di asrama.
Bahkan pada awal abad ke 20, populasi orang Negro tercatat masih cukup banyak, dan bahkan pernah memiliki kampung sendiri di daerah Purworejo, Jawa Tengah.

Anak-anak mereka, yang sebagian besar merupakan perpaduan antara Belanda dan Negro, disekolahkan di sekolah Belanda, sehingga anak-anak tersebut  mendapat julukan Belanda Hitam pada massa itu.

(Banu Adikara. wartawan Warta Kota)

 


Editor : Pingkan