Sabtu, 25 Oktober 2014

News / Nasional

Tiga Kegagalan Capres Golkar Versi Ical

Jumat, 29 Juni 2012 | 11:35 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Partai Golkar Aburizal Bakrie atau akrab disapa Ical mengatakan, berdasarkan hasil evaluasi internal, ada tiga faktor penyebab kegagalan calon presiden dari Partai Golkar dalam tiga kali pemilu presiden pasca-Reformasi tahun 1998.

Faktor pertama, kata Ical, penetapan capres dilakukan setelah pemilu legislatif. Akibatnya, kata dia, tidak cukup waktu bagi partai untuk meningkatkan elektabilitas dan popularitas capres meski secanggih apa pun strategi pemenangan dalam pilpres.

Faktor kedua, lanjut Ical, memudarnya soliditas internal lantaran terlalu banyak skenario politik di internal partai. Akibatnya, kata dia, banyak energi dan waktu yang terbuang percuma untuk menyikapi masalah itu.

"Karena itu, kita tidak ingin fokus kita terpecah, kita tidak ingin soliditas terganggu, kita tidak ingin terlambat memutuskan calon presiden dari Partai Golkar," kata Ical saat membuka Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) III Partai Golkar di Bogor, Jawa Barat, Jumat (29/6/2012).

Faktor ketiga, tambah dia, tidak berfungsinya organisasi massa partai sebagai mesin politik untuk pemenangan capres. Selain itu, lemahnya soliditas, militansi kader, serta penguatan jaringan.

Meski demikian, Ical meyakini bahwa semua pengurus partai telah bekerja maksimal dalam pemenangan pilpres sebelumnya. Untuk itu, dia meminta agar kegagalan masa lalu dijadikan referensi untuk memperbaiki internal.

Dalam Rapimnas, hadir para petinggi Partai Golkar, seperti Akbar Tanjung, Fadel Muhammad, dan Agung Laksono. Selain itu, acara juga dihadiri ratusan para pengurus Dewan Pimpinan Pusat dan Dewan Pimpinan Daerah serta kader Golkar.

Seperti diberitakan, rencananya Ical bakal ditetapkan sebagai capres dalam Rapimnas. Penetapan itu disebut atas dasar aspirasi kader daerah, bahkan rakyat Indonesia. Jika penetapan itu terealisasi, deklarasi Ical sebagai capres akan digelar di Sentul, Minggu (1/7/2012).


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Erlangga Djumena