Kamis, 24 Juli 2014

News /

Fokker 27 Dilarang Terbang

Sabtu, 23 Juni 2012 | 01:45 WIB

Jakarta, Kompas - TNI Angkatan Udara menghentikan sementara kegiatan penerbangan armada pesawat Fokker 27 yang kini tinggal tersisa lima pesawat. Larangan terbang diberlakukan sampai penyelidikan kecelakaan Fokker 27 di Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma selesai.

”Dari kecelakaan ini, armada pesawat yang tersisa ditahan dulu untuk tidak terbang,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI AU Marsekal Pertama Azman Yunus di lokasi kecelakaan, Jumat (22/6).

Armada Fokker akan diizinkan terbang lagi setelah didapatkan hasil investigasi dan evaluasi kelaikan terbang. ”Lama pengecekan bergantung pada tim investigasi,” kata Azman.

Tim investigasi, lanjut Azman, terus mengumpulkan informasi dari tempat Fokker A-2708 yang jatuh menimpa delapan rumah dinas perwira menengah dan satu aula di Jalan Branjangan II, RT 11 RW 10, Kompleks Rajawali, Jakarta.

Investigasi jatuhnya pesawat yang menewaskan tujuh kru dan empat warga sipil itu terus dilakukan karena belum mencapai kesimpulan. Hasil investigasi tidak akan disampaikan kepada publik, tetapi digunakan sebagai analisis TNI AU untuk perbaikan ke depan. Tim investigasi berasal dari Dinas Keselamatan Terbang dan Kerja AU.

Azman menjelaskan, tidak ada kotak hitam dalam pesawat militer. Penyelidikan mengacu pada kondisi lokasi, komunikasi, cuaca, catatan kelaikan, dan kondisi kesehatan kru sebelumnya. Tim yang diizinkan masuk ke lokasi kejadian hanya dari TNI AU.

Mengenai kabar yang beredar bahwa pesawat jatuh terkait salah satu metode latihan dengan cuma menghidupkan satu mesin, hal itu dibantah Azman. ”Single engine! Tidak mungkin. Kalau di-low-kan mungkin untuk latihan emergency,” kata Azman.

Kendati demikian, ada pelbagai latihan manuver pesawat yang terangkum dalam silabus. Dalam satu kali latihan, manuver yang dipraktikkan ada dalam rencana. Tidak ada satu pun latihan yang bertujuan akan mematikan awak pesawat.

Di TNI AU, kata Azman, setiap pesawat yang beroperasi sudah diperiksa kelaikannya. Dalam kaitan jatuhnya Fokker, Komandan Skuadron Udara 2—tempat kru bertugas—sudah memastikan pesawat laik terbang. Dokter juga memastikan tujuh kru yang kemudian gugur dalam latihan profesiensi itu berkondisi sehat.

Laporan terkini korban meninggal akibat kecelakaan bertambah satu orang, yakni Onci Belorundun (29), yang meninggal saat dirawat di RSPAU Esnawan Antariksa, Lanud Halim Perdanakusuma, Jumat dini hari. Dengan demikian, total korban meninggal menjadi 11 orang.

Onci merupakan adik kandung Mayor (Adm) Johanes Tandi Sosan. Onci datang ke Jakarta menyusul anaknya, Nevlin Tanonen (2), yang meninggal lebih dulu. Selain mereka, korban tewas lainnya adalah Bian Christyabel (6) dan Martiana Roren (67), anak dan ibunda Johanes.

Tidak mudah disimpulkan

Pengamat penerbangan Chappy Hakim mengatakan, tidak mudah menyimpulkan penyebab kecelakaan pesawat Fokker 27-500. Pada Fokker 27 milik TNI AU ini tidak ada kotak hitam. Kotak hitam biasanya terdapat pada pesawat TNI AU yang mengangkut penumpang VIP, seperti pada pesawat Hercules.

Penyelidikan terhadap kecelakaan pesawat TNI AU juga tidak akan melibatkan Komite Nasional Keselamatan Transportasi. TNI AU punya tim investigasi sendiri. Namun, adakalanya meminta bantuan KNKT, sebaliknya KNKT juga pernah meminta bantuan TNI AU.

Namun, secara prinsip, kata Chappy, dirinya perlu meluruskan pemberitaan di sejumlah media yang berkaitan dengan pemberitaan usia pesawat. ”Usia pesawat bukanlah hal prinsip. Yang lebih penting adalah kelaikan terbang pesawat itu sendiri. Hal itu dipengaruhi oleh perawatan dari pesawat,” ujar Chappy.

Tidak juga menjadi masalah apakah pabrik pesawat itu sudah ditutup atau tidak, sebab komponen pesawat tetap bisa didapat dari vendor lain. Penerbang militer dengan pangkat mayor adalah seorang penerbang senior. ”Jadi, seharusnya tingkat keahlian dari penerbangan tersebut tak lagi harus diragukan,” kata Chappy, yang mantan KSAU.

Jangan berspekulasi

Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hassanudin meminta jangan ada spekulasi soal perawatan dan mafia suku cadang pesawat-pesawat militer. ”Kita menunggu usai masa berkabung. Minggu depan KSAU dan jajaran pemimpin TNI AU dipanggil DPR. Pesawat jenis Fokker 27 tersebut sering digunakan mengantar Panglima TNI, KSAU, dan para pejabat, jadi layak terbang,” kata Hassanudin.

Meski demikian, Hassanudin mengakui, usia pesawat memang sudah tua sehingga diputuskan membeli pesawat pengganti, yakni CN-295 buatan Spanyol yang akan mulai tiba akhir tahun 2012. Indonesia sudah membeli 10 pesawat CN-295. Pergantian armada Fokker 27 ke CN-295, lanjut Hassanudin, merupakan bagian dari program peremajaan alat utama sistem persenjataan (alutsista). Rencana peremajaan alutsista lainnya di kalangan TNI AU adalah membeli 6 pesawat F-16 seri terbaru dan memperbaiki 10 pesawat F-16 yang lama.

Namun, belakangan ada wacana menggunakan anggaran pembelian dan perbaikan pesawat F-16 itu untuk membiayai hibah 24 pesawat F-16 dari Amerika Serikat. Pada tahun 2010, jelas Hassanudin, Kementerian Pertahanan diberi anggaran Rp 6,3 triliun untuk pembelian alutsista. Dari anggaran itu, Rp 5,5 triliun untuk membeli alutsista dari luar negeri, dan Rp 800 miliar dipakai membeli alutsista di dalam negeri.

Untuk tahun 2011-2014, pemerintah memproyeksikan tambahan anggaran dari pinjaman luar negeri 5,7 miliar dollar AS untuk pengadaan alutsista.

(NWO/ONG/BRO)


Editor :