Jumat, 31 Oktober 2014

News / Nasional

Lada Menggairahkan Perekonomian Bangka

Minggu, 17 Juni 2012 | 07:11 WIB

Oleh Kris Razianto Mada

Sepanjang abad XX hingga XXI terjadi paling sedikit tiga krisis perekonomian global. Krisis membuat kehidupan masyarakat jatuh-bangun. Namun, petani lada putih di Bangka justru memetik berkah dari setiap krisis ekonomi itu. 

Saat krisis global tahun 2008, Tarmizi H Saat (49) menjual lada untuk membeli mobil. Kebetulan saat itu keluarganya membutuhkan mobil angkutan. Tabungan hanya beberapa karung lada di rumah. Isi rekening di bank tidak banyak.

Meski menyebut hanya beberapa karung, faktanya hampir 90 persen dana pembelian mobil itu dari hasil penjualan lada. Sisanya ditambah dengan tabungan di bank. ”Kebetulan ada rezeki dan sedang butuh, ya, dilepas saja ladanya,” ujarnya.

Tidak hanya mobil yang dibeli dari hasil penjualan lada atau sahang dalam bahasa setempat. Pada 2003, ia bersama lima anggota keluarganya naik haji dengan biaya dari penjualan lada. ”Niat orang Bangka saat menanam lada biasanya untuk ongkos (naik haji) ke Mekkah. Biar lada bikin panas badan, uangnya dingin kalau dipakai untuk naik haji,” tuturnya berseloroh.

Krisis ekonomi tahun 1997 pun tak luput membawa berkah. Keluarga Safteri (28) yang hidup sebagai petani lada, contohnya. Ia ingat lima sepeda motor baru dikirim ke rumahnya. ”Waktu itu setiap anak dapat satu sepeda motor, ayah beli mobil juga,” tuturnya.

Kala itu, harga setiap kilogram (kg) lada melejit menjadi Rp 150.000 per kg, tertinggi sepanjang sejarah. Sementara harga sepeda motor rata-rata Rp 6 juta per unit. Harga itu setara dengan hasil penjualan 400 kg lada. ”Kami berlima sekolah sampai lulus sarjana dengan hasil penjualan lada,” ujarnya.

Lima sepeda motor putra-putri Haji Abdurrani itu adalah sebagian dari 1.384 sepeda motor yang tercatat terbeli di Pangkal Pinang pada 1997. Peningkatan kekayaan keluarga petani lada dari Desa Kemuja, Kabupaten Bangka, itu terutama ditopang harga lada yang melejit.

Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Erwiza Erman, mencatat, lada berkali-kali menjadi penyeimbang perekonomian di Bangka saat krisis melanda. Dalam buku Menguak Sejarah Timah Bangka-Belitung (Ombak, 2009), ia mengurai penyeimbang itu. Hasil riset Erwiza yang dituangkan dalam buku itu menyebutkan, warga pedesaan di Bangka justru sangat konsumtif saat krisis 1997. Bahkan, orang-orang Bangka berpendapat tidak ada krisis di Bangka saat umumnya wilayah Indonesia terimbas krisis perekonomian itu.

Hasil penjualan lada membuat petani lada bersedia membayar berapa pun harga yang diminta penjual. Bahkan, sebagian barang itu dibayar jauh di atas harga pasar dengan uang kontan. Sebagian petani membayar lunas sebelum mendapat kejelasan kapan barang akan tersedia. Sebab, sebagian penjual kehabisan barang karena permintaan sangat besar dari petani.

Lebih aneh lagi, sebagian barang itu tidak mereka butuhkan atau dapat digunakan. Petani, antara lain, membeli lemari es. Padahal, rumah mereka sama sekali belum dialiri listrik.

Tidak hanya meningkatkan derajat perekonomian orang desa, lada juga menjadi alternatif ladang pekerjaan saat krisis. Pada 1997, banyak pekerja PT Timah Tbk dan PT Koba Tin diberhentikan. Sebagian menggunakan uang pesangon untuk membeli kebun lada atau langsung membeli lada. Mereka tergiur dengan kemakmuran para petani. Yang tidak punya cukup pesangon untuk membeli kebun beralih menjadi pekerja kebun lada.

Melaise

Erwiza juga mencatat, lada menjaga perekonomian Bangka tetap bergerak saat krisis pada awal abad XX yang dikenal sebagai masa melaise. Seperti masa sekarang, sejak tiga abad lampau Bangka tergantung dari timah, produk utama lain dari pulau itu. Saat krisis global melanda, harga timah biasanya ikut anjlok.

Karena itu, para kepala tambang pada awal abad XX mengupayakan penanaman lada di sekitar lokasi tambang. Mary Somers Heidhues dalam buku Timah Bangka dan Lada Mentok (Nabil, 2008) mencatat, perkebunan lada di sekitar pertambangan dirawat secara tekun oleh petani-petani Tionghoa. Padahal, kebun-kebun itu berstatus sampingan bagi usaha pertambangan yang banyak dikelola orang Tionghoa. Bahkan, pekerja kebun adalah mereka yang ditolak bekerja di tambang.

Meski berstatus usaha sampingan, hasil perkebunan lada bisa menyelamatkan kelompok petambang. Pada 1927, sebanyak 1 ton timah berharga 320 poundsterling. Tiga tahun kemudian, harga timah hanya 105 poundsterling per ton. Dengan penurunan hampir 70 persen itu, para pengelola tambang pening. Beruntung mereka masih bisa mendapat pemasukan lain dari lada walau tidak mudah menanamnya.

Sebagai tanaman pendatang, lada memang tidak bisa begitu saja tumbuh di Bangka. Berbeda seperti di Lampung atau Aceh, sumber utama lada pada abad XVI-XVII, tempat lada tumbuh secara alami. Di Lampung, lada adalah tanaman yang merambat pada pohon-pohon lain. Di Bangka, harus disediakan tiang rambatan atau junjung dalam bahasa setempat. Kondisi tanah Bangka tidak sepenuhnya mendukung, setidaknya demikian dicatat para ahli botani Belanda.

Meski tidak mudah, para petani Bangka tak jera menanam lada. Tanaman itu terbukti menjaga perekonomian Bangka agar tetap bergairah saat krisis sekalipun.


Editor : Reza Wahyudi
Sumber: