Jumat, 19 September 2014

News / Nasional

Ketika Anas Jabat Tangan dengan Pendiri Demokrat...

Jumat, 15 Juni 2012 | 17:04 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Di tengah sorotan atas situasi di internal partai, Ketua Umum Partai Demokrat Anas Urbaningrum dan para pengurus DPP Demokrat berkumpul. Namun, ini bukan dalam pertemuan serius terkait politik. Kali ini mereka berkumpul untuk nonton bareng film "Soegija" di Plaza Senayan, Jakarta, Jumat (15/6/2012) sore.

Sebelum nobar, mereka nongkrong di salah satu kafe. Tampak hadir Sutan Bhatoegana, Jafar Hafsah, Saan Mustofa, Andi Nurpati, Nova Riyanti Yusuf, dan puluhan kader Demokrat lainnya. Belakangan, Wakil Ketua Umum Partai Demokrat Jhonny Alen juga hadir.

Seperti tanpa beban, mereka lebih banyak tertawa. Seloroh-seloroh yang masih terkait perpolitikan keluar dari mulut setiap kader. Anas sempat berseloroh soal rencana Sutan untuk maju dalam pemilihan kepala daerah Sumatera Utara. "Pak Sutan itu ceramah dari pesantren ke pesnatren, cemarah kiamat kecil," kata Anas disambut tawa para kader.

Sebelum meninggalkan kafe, Sutan sempat menghampiri Anas untuk berjabat tangan. "Kalau pendiri sudah kasih dukungan, selesai barang itu," kata Sutan. Orang-orang dekat Anas kembali tertawa.

Sutan kembali menunjukkan dukungannya sebelum memasuki bioskop. Keduanya berjabat tangan di hadapan para fotografer dan kamera televisi. "Jadi Demokrat tetap satu dan solid," ucap Sutan yang menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Pendiri dan Deklarator (FKPD) Partai Demokrat.

Situasi itu seakan bertolak belakang dengan pertemuan di Hotel Sahid, Jakarta, Kamis malam. Saat itu, FKPD bertemu dengan para Ketua DPD I Partai Demokrat . Hadir Ketua Dewan Pembina Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono. Sehari sebelumnya, Rabu malam, Yudhoyono bertemu dengan 33 ketua DPD I Partai Demokrat di Cikeas, Bogor.

Anas tak hadir dalam dua pertemuan itu. Kedua pertemuan itu dinilai sebagai manuver untuk menggulingkan Anas. Penilaian itu dibantah oleh pihak FKPD. Dalam pidato pembukaan pertemuan FKPD, Yudhoyono meminta para kader Demokrat yang tidak menjalani politik yang santun, cerdas, dan bersih, agar segera meninggalkan partai.

Adapun Ketua Umum FKPD Ventje Rumangkang mengatakan, Demokrat harus disingkirkan dari anasir-anasir yang merusak. Partai Demokrat tidak boleh tersandera atau disandera oleh hal-hal negatif sekecil apa pun. Dia juga meminta agar setiap kader harus sadar bahwa kepentingan individu tidak bisa mengorbankan masa depan partai.

Berbagai pihak menilai pernyataan itu mengarah kepada beberapa kader, salah satunya Anas, lantaran dikait-kaitkan dengan kasus proyek Hambalang. Kasus korupsi yang menyeret kader Demokrat itu disebut penyebab terus melerotnya elektabilitas partai.


Penulis: Sandro Gatra
Editor : Laksono Hari W