Jumat, 28 November 2014

News /

Kejahatan atas Kemanusiaan

Jumat, 15 Juni 2012 | 03:54 WIB

damaskus, kamis - Pasukan Pemerintah Suriah di bawah Presiden Bashar al-Assad telah melakukan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan. Berbagai temuan di 23 lokasi di Suriah bisa menjadi bukti untuk menyeret rezim tersebut ke Pengadilan Kriminal Internasional.

Pernyataan tersebut disampaikan Amnesty International (AI), Kamis (14/6). Organisasi pembela hak asasi manusia ini telah merekam berbagai kejahatan faktual yang dilakukan rezim Assad di Suriah barat laut, lalu menuangkan dalam laporan setebal 70 halaman.

AI pernah mengirimkan pengamat dan peneliti ke 23 kota dan kampung di Provinsi Aleppo dan Idlib antara April dan Mei. Mereka mewawancarai 200 orang, termasuk keluarga para korban tewas dan warga yang kehilangan tempat tinggal setelah rumahnya hancur akibat dibombardir senjata berat pasukan pemerintah.

Penasihat AI, Donatella Rovera, mengatakan, dia telah menemukan bukti kekejian yang terus berulang di kota dan kampung yang ia datangi. Rakyat sipil tak bersenjata adalah target operasi militer Assad.

”Ke mana pun saya pergi, di setiap kota, di setiap kampung, saya menemukan pola yang sangat mirip. Tentara masuk dalam jumlah yang besar. Meski serangan mereka singkat, tetapi sangat brutal. Mereka mengeksekusi para pemuda secara ekstrayuridis dan membakar rumah korban. Warga yang ditangkap, disiksa dengan kejam di dalam tahanan,” kata Rovera.

”Paling penting, mayoritas pelanggaran itu dilakukan oleh pasukan keamanan pemerintah dan milisi paramiliter (propemerintah). Penduduk sipil adalah korbannya,” tambahnya.

Laporan AI mengingatkan lagi insiden Houla yang menewaskan 108 orang, terbanyak anak-anak dan perempuan, 25 Mei lalu. Banyak negara saat itu menuntut Damaskus bertanggung jawab. Bahkan, Rusia, sekutu terdekat Suriah, juga mengatakan pasukan Assad terlibat insiden Houla.

Insiden itu disusul dengan insiden Hama, yang menurut keterangan para saksi mata dan aktivis, pasukan Assad telah membantai puluhan orang. Namun, semua itu dibantah Damaskus. Tim pemantau PBB pun dihadang tembakan senjata dan dibayangi pesawat tempur Suriah ketika mereka berniat mengunjungi Hama.

Kekerasan berlanjut

Pada saat Rovera mengumumkan temuan AI, pasukan Suriah pada Kamis menembakkan senjata artileri berat ke kota Deir al-Zor. Sedikitnya 13 orang tewas setelah pasukan pemerintah mendapat perlawanan ketat pihak oposisi di kota penghasil minyak utama Suriah itu.

Menurut para saksi mata, rentetan serangan dari bukit terdekat menghujani kota itu sejak Rabu malam. Sekitar 200 orang terluka dalam serangan itu.

Pipa minyak utama Suriah terdapat di Provinsi Deir al-Zor tersebut. Pipa menghubungkan kilang minyak Homs dan terminal ekspor minyak di Laut Tengah.

Sebagian besar wilayah provinsi tersebut telah dikuasai pasukan oposisi dalam beberapa bulan terakhir. Pasukan pemerintah bertekad merebutnya kembali.

Hari Kamis, ledakan bom mobil mengguncang kota Damaskus dan Idlib. Ledakan di Damaskus terjadi di dekat salah satu tempat suci Syiah. Sementara di Idlib, bom mobil diledakkan di dekat pos pemeriksaan militer.

Konflik bersenjata di Suriah, yang berlangsung sejak Maret 2011 dan kini telah berubah menjadi perang saudara, telah menewaskan lebih dari 14.000 orang.

”Setidaknya 14.476 orang tewas sejak Maret 2011. Di antaranya ada 10.117 warga sipil, 3.552 tentara, dan 807 tentara pembelot,” kata Rami Abdel Rahman, Kepala Pemantau Hak Asasi Manusia Suriah (SHOR).

Menurut Rovera, militer dan milisi propemerintah telah melakukan pelanggaran HAM dan pelanggaran serius terhadap hukum kemanusiaan internasional, yang bisa dikategorikan sebagai kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang.

AI mendesak DK PBB membawa kasus Suriah ke jaksa Pengadilan Kriminal Internasional dan menerapkan embargo senjata. (AFP/REUTERS/AP/CAL)


Editor :