Selasa, 23 Desember 2014

News / Megapolitan

Buronan Interpol Pekerjakan Wanita Uzbek di Klub Malam Jakarta

Kamis, 14 Juni 2012 | 16:25 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Musaev Samir (39), buronan Interpol yang juga tersangka kasus pemerasan dan penculikan terhadap disc jockey asal Ukraina, Nadiya Dobosh di Jakarta, ditengarai telah melakukan perdagangan manusia dengan mempekerjakan para wanita Uzbek. Para wanita yang dibawa dari negaranya itu dipekerjakan Musayev di klub-klub malam Jakarta.

Hal ini diketahui dari data red notice yang dikeluarkan NCB-Interpol pada tanggal 21 Agusutus 2009. Di dalam situs itu, Interpol menjelaskan bahwa Musaev terlibat kasus perdagangan manusia bersama dengan seorang perempuan bernama Musaeva Tatyana.

Keduanya telah merencanakan untuk melakukan ekspor ilegal perempuan muda Uzbekistan yang akan dieksploitasi secara seksual di klub-klub malam Jakarta. Ia pun diketahui tinggal di Ibu Kota sejak melarikan diri dari Uzbekistan. Di sini, Musaev disebut Interpol memiliki beberapa hotel. Salah satunya adalah hotel dan tempat hiburan malam di kawasan Hayam Wuruk, Jakarta Barat.

Pria kelahiran 24 Juli 1973 di Baku City, Azerbaijan, itu tertulis paling sering mengunjungi Jakarta, Indonesia. Selain Jakarta, Musayev juga kerap bepergian ke Abu Dhabi, Dubai; Baku, Azerbaijan; Ankara dan Istanbul, Turki; Bangkok, Thailand; Singapura; dan Kuala Lumpur, Malaysia.

Pria ini mengaku berkebangsaan Uzbekistan dan Indonesia. Interpol menyatakan pihaknya sudah memastikan bahwa Musaev mempunyai identitas Uzbekistan melalui paspor yang dimilikinya. Akan tetapi, di dalam situs itu, Interpol menyatakan pihaknya tidak bisa memastikan dokumen-dokumen yang mendukung soal kebangsaan Indonesia pada Musaev.

Pelarian Musaev akhirnya terhenti di Indonesia. Pria berkepala plontos ini ditangkap Polda Metro Jaya pada Senin (11/6/2012) dini hari. Ia ditangkap karena menjadi otak penculikan, pemerasan, dan penganiayaan terhadap Nadiya Dobosh (20), warga negara Ukraina yang merupakan mantan pacarnya, dan Anna Iasyreva.

Polisi kemudian mengetahui bahwa Musaev juga buronan Interpol dan sudah masuk daftar red notice sejak bulan Agustus 2009. Musaev menjadi incaran kepolisian Uzbekistan atas kasus perdagangan manusia dan pemalsuan dokumen imigrasi pada tahun 2004.

Latar belakang Musaev terbilang misterius. Selama diperiksa, Musaev terus menutup diri soal asal-usulnya. Mantan pacarnya pun hanya mengetahui Musaev bekerja di Indonesia, namun tak tahu nama perusahaannya atau bekerja di bidang apa.

Kendati mengaku sebagai pengangguran, harta Musaev melimpah. Polisi menyita sejumlah barang mewah Musaev, seperti mobil Range Rover, jam tangan Rolex, Blackberry Proche bernilai Rp 17 juta, serta buku tabungan dengan catatan transaksi fantastis. Di dalam rekeningnya terdapat saldo yang mencapai Rp 1 miliar. Polisi juga menemukan ada bukti setoran tunai senilai Rp 500 juta dan Rp 700 juta.


Penulis: Sabrina Asril
Editor : Aloysius Gonsaga Angi Ebo