Kamis, 24 April 2014

News / Nasional

Bung Karno dalam Ingatan

Rabu, 13 Juni 2012 | 06:17 WIB

Baca juga

Oleh Puti Guntur Soekarno, Anggota DPR

Perlu rasanya sekali waktu kita melakukan perjalanan menyusuri wilayah ujung paling barat Indonesia di Pulau Weh sampai ujung paling timur Papua di Merauke. Kita dapat bercakap-cakap dengan penduduk di sana tentang siapa pemimpin Indonesia yang pernah ada dan dekat di hati mereka. Dan, betapa nama Soekarno masih sering kita dengar dari mulut mereka.

Tak dapat disangkal, hingga kini ia terus hidup dalam benak dan imajinasi kebanyakan orang, dari ujung barat sampai ujung timur wilayah Indonesia. Sebuah rentang waktu membentang sejak ia meninggal pada 21 Juni 1970—15 hari dari ulang tahun ke-69 (lahir 6 Juni 1901)—hingga saat ini.

Dalam peringatan bulan Bung Karno—begitu panggilan populernya di bangsa ini—saat ini, saya kira inilah momen yang tepat untuk memberi makna baru dalam mengenang sosok pemimpin besar itu. Kita mengenang sosoknya bukan dengan perasaan romantis bahwa kita tak pernah lagi punya pemimpin yang mampu membawa imajinasi dan harapan jutaan rakyatnya tentang sebuah kehidupan baru yang mereka inginkan; sebuah masyarakat yang adil dan makmur, yang telah menjadi mandat konstitusi Republik Indonesia.

Kedekatan emosional

Saya ingin mengenang kembali Bung Karno dalam kaitannya dengan kehidupan politik Indonesia kontemporer. Mengenangnya dalam kegelisahan umum di Indonesia saat ini, tentang kelangkaan sosok pemimpin yang dapat menyuarakan hati dan perasaan jutaan rakyat Indonesia.

Tak dapat disangkal, dalam psikologi politik populer di Indonesia—sekali lagi saya ingin menegaskan: saya tengah berbicara tentang pikiran dan perasaan orang banyak, bukan terbatas kalangan elite negeri ini—nama Soekarno senantiasa muncul ketika orang berbicara tentang harapan dan imajinasi mereka tentang sosok pemimpin yang selayaknya membawa negeri ini menuju kemakmuran dan sekaligus penuh rasa percaya diri di panggung dunia.

Namun, lebih dari sekadar harapan itu, persoalan penting terkait sosok Bung Karno adalah perasaan kedekatan emosional antara seorang pemimpin, yang telah tiada, dengan jutaan orang Indonesia di berbagai tempat. Di sinilah sesungguhnya persoalan penting yang perlu kita bahas.

Soekarno adalah seorang pemimpin yang mampu membuat setiap orang merasa memiliki kedekatan emosional dengan sosoknya, seberapa miskin ataupun terbelakang wilayah tempat mereka tinggal. Bahkan, sifat kedekatan emosional itu melebih........(selengkapnya baca Harian Kompas, Rabu, 13 Juni 2012, halaman 7)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: