Selasa, 30 September 2014

News / Nasional

Satu Cerita Soeharto tentang Om Liem

Selasa, 12 Juni 2012 | 05:45 WIB

Terkait

KOMPAS.com - Minggu pagi, 24 September 1995, udara di rumah joglo peternakan Tri S, Tapos, Bogor, dingin sekali. Tawa dan gelak silih berganti menggema di tempat sekitar 150 peserta Musyawarah Nasional Kerukunan Usahawan Kecil dan Menengah Indonesia III berkumpul. Ada tawa spontan dan tawa yang dibuat-buat.

Tawa dan gelak itu pecah karena Presiden Soeharto bercerita tentang sahabatnya, Liem Sioe Liong atau Sudono Salim.

Dalam ceritanya, Soeharto banyak menirukan ucapan Liem. ”Beliau itu, kan, celat (cadel),” ujarnya. Ia mengklarifikasi anggapan, Liem dapat berbagai fasilitas usaha dari kekuasaannya sehingga bisa memonopoli usaha terigu dan semen.

Ketika itu, PT Bogasari Flour Mills dan PT Indocement Tunggal Perkasa tampak mencorong.

”Nah, sekarang saya buka saja mengenai masalah Bogasari. Itu (Bogasari) dibangun tahun 1970-an oleh yang bernama Om Liem. Dia, kan, pengusaha yang saya kenal sejak di Semarang. Dia datang kepada saya dengan suara celat mengatakan, ’Pak saya ini olang kelja, untuk lakyat apa yang halus saya lakukan’,” demikian cerita Soeharto.

Kata Soeharto, Liem datang minta tugas, mau kerja tapi tidak tahu apa yang harus dilakukan. ”Lalu saya bilang, kamu jangan hanya dagang saja, ...tapi industri yang dibutuhkan rakyat sekarang ini adalah pangan,” cerita Soeharto.

”Apakah punya teman di luar negeri untuk mendukung permodalan? Lalu dijawab ada. Baiklah kalau begitu, kamu mendirikan pabrik tepung terigu,” demikian Soeharto menceritakan dialognya dengan Liem.

Menurut Soeharto, yang diberi kesempatan soal semen dan gandum bukan hanya Liem. Beberapa pihak juga mendapat fasilitas izin mendirikan pabrik semen dan terigu. Akan tetapi, mereka tidak berkembang.

Di kesempatan lain, ketika menjelaskan soal Liem dan konglomerat lain, Soeharto pernah mengatakan. ”Pemerintah tetap punya kekuasaan mengendalikan mereka dan bisa mengarahkan kerjanya untuk rakyat banyak. Kalau mereka meninggal dunia, kekayaannya tidak bisa dibawa,” ujar Soeharto.

Kini Liem dan Soeharto sudah tiada. Tidak usah kita tanyakan apa yang mereka bawa. Kita lihat saja apa yang mereka wariskan. (J Osdar)

 


Editor : Heru Margianto
Sumber: