Minggu, 21 Desember 2014

News /

KONFLIK

Kekerasan Terus Berulang di Papua

Kamis, 7 Juni 2012 | 03:30 WIB

Jayapura, Kompas - Rangkaian teror dan kekerasan yang memakan korban jiwa terus berulang di Papua. Peristiwa kejahatan itu, antara lain, berupa teror penembakan dan pembunuhan. Sejak awal 2012 sampai sekarang telah terjadi 18 kasus yang menewaskan 16 orang, baik warga sipil maupun aparat keamanan.

Peristiwa terakhir terjadi pada Rabu (6/6) sekitar pukul 21.00 WIT. Arwan, pegawai negeri sipil di lingkungan Kodam XII Candrawasih, tewas tertembak oleh orang tidak dikenal. Lokasi penembakan tidak jauh dari Kantor Wali Kota Jayapura saat korban berjalan kaki menuju rumahnya. Korban tewas dengan luka tembak pada bagian leher.

Kepala Penerangan Kodam XII Cendrawasih Kolonel Ali H Bogra mengatakan, korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Tentara Marthen Indey, Jayapura. ”Namun, karena luka yang diderita sangat parah, nyawa korban tak terselamatkan dalam perjalanan menuju rumah sakit,” kata Ali.

Rabu pukul 12.30 WIT, Pratu Ahmad Ruslan, anggota Yonif 756, juga tewas dikeroyok dan ditusuk warga di kawasan Honai Lama, Wamena, Kabupaten Jayawijaya. Kasus ini berawal dari kecelakaan lalu lintas yang melibatkan Pratu Ahmad Ruslan dan rekannya, Pratu Saifudin. Kendaraan yang mereka kendarai menyerempet warga. Hal itu memicu kemarahan warga. Pratu Saifudin kritis karena luka tusukan di dada kanan.

Namun, peristiwa tak berhenti di situ. Setelah kasus itu, hingga Rabu malam suasana kota Wamena mencekam. Sejumlah anggota TNI dikabarkan menyisir kota Wamena.

”Dari jauh kami melihat asap hitam membubung dan terdengar beberapa kali tembakan. Warga tidak berani keluar rumah,” kata Wetipo, warga Wamena. Ia mengkhawatirkan jumlah korban akan bertambah, terutama dari pihak warga. Jalur komunikasi ke Wamena pun sulit.

Selasa malam, orang tak dikenal menembak satu anggota TNI dan dua warga sipil di dekat kantor pemerintahan daerah di Jayapura, Papua. Dihubungi kemarin di Jakarta, Kepala Divisi Humas Kepolisian Negara RI Inspektur Jenderal Saud Usman Nasution mengatakan, anggota TNI yang ditembak adalah Pratu Frengky Kung (24) serta dua warga sipil, yaitu Ikbal Rivai (22) dan Hardi Jayanto (22).

Aparat kepolisian terus menyelidiki kasus penembakan tersebut. ”Kami belum dapat memastikan apakah aksi penembakan itu terkait dengan pemilihan kepala daerah atau memiliki motif lain,” katanya.

Cenderung meningkat

Menurut catatan Kompas, kualitas kekerasan cenderung meningkat. Jika tahun lalu pencegatan dan penembakan terjadi di pinggiran kota, seperti Nafri dan Abepantai, kini teror telah merangsek ke jantung Kota Jayapura. Rentang waktunya pun semakin berdekatan.

Di Kota Jayapura dalam 15 hari terakhir terjadi tiga kali penembakan dan satu pembakaran mobil. Peristiwa pertama terjadi pada Rabu (23/5) ketika warga menemukan sebuah kendaraan dibakar di Waena dan di dalamnya ditemukan sesosok mayat. Diduga mayat tersebut dibunuh sebelum kendaraan itu dibakar.

Pada Selasa (29/5) siang, seorang warga Jerman, Dietma Pieper, ditembak orang tak dikenal saat berekreasi di Pantai Base G, Jayapura. Lalu, penembakan terhadap Gilbert Febrian Madika, siswa SMA, pada Senin (4/6).

Koordinator Jaringan Damai Papua Neles Tebai mengatakan, teror dan aneka bentuk kekerasan bersenjata di Papua dipicu percikan-percikan persoalan dasar Papua yang hingga kini belum dituntaskan. Aneka persoalan itu membuat relasi Jakarta-Papua tidak harmonis.

Konflik di Wamena jadi cermin aktual atas relasi yang buruk itu. ”Dan siapa saja bisa masuk serta bermain di situ, bisa juga menggunakan orang Papua,” kata Neles Tebai.

Jalan damai

Dialog, menurut dia, merupakan jalan damai untuk mengakhiri semua bentuk kekerasan. ”Presiden perlu membentuk tim guna menyiapkan hal itu,” ujarnya.

Peneliti LIPI, Muridan S Widjojo, menegaskan, polisi harus mampu mengungkap tuntas teror dan kekerasan itu untuk menjamin wibawa negara serta menunjukkan polisi mampu menjaga keamanan dan ketertiban sipil. ”Jangan sampai legitimasi dan kredibilitas pemerintah dihancurkan di Papua,” ujarnya.

Kapolresta Jayapura Ajun Komisaris Besar Alfred Papare mengaku tengah berupaya menuntaskan berbagai kasus kekerasan dan teror di kota itu. Polisi bertekad mengembalikan rasa aman bagi warga. ”Polisi telah membentuk tim khusus menyidik kasus itu, selain memperkuat patroli,” ujar Alfred. (JOS/FER)


Editor :