Sabtu, 25 Mei 2013
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Sabtu, 25 Mei 2013 | 13:26 WIB
Camilan: Laut Dikuras, Ladang Dibabat
Minggu, 27 Mei 2012 | 02:45 WIB
|
Share:

Yulia Sapthiani dan Runik Sri Astuti

Betapa lahapnya bangsa ini mengemil. Isi laut dikuras dan ubi-ubi di ladang dibabat semata untuk memanjakan kebiasaan ”ngemil”. Maka, industri camilan pun bertumbuh di sejumlah daerah.

Kita tengok riuhnya industri camilan di Surabaya dan sekitarnya. Di sana, para penghuni laut digarap menjadi camilan dalam wujud keripik atau kerupuk oleh tangan-tangan kreatif. Tersebutlah antara lain keripik lorjuk atau kerang bambu, keripik telur tripang, keripik rumput laut, keripik teri, keripik siput laut, dan keripik ikan bulu ayam. Ada pula kerupuk ikan panggang, kerupuk terung laut, hingga kerupuk kulit kakap.

Beralih ke Bandung, kita bisa menjumpai hasil ladang dan kebun yang beralih rupa menjadi camilan. Sebut saja keripik kentang putih, keripik ubi ungu, atau keripik singkong dalam variasi rasa orisinal, keju, manis, dan pedas.

Dan, lihatlah betapa dimanjakannya konsumen, para pengemil itu. Di suatu siang pertengahan Mei lalu, Jalan Genteng Besar menuju Pasar Genteng, Surabaya, dijejali kendaraan. Riswanti (35), seorang warga Surabaya, harus menyelinap di tengah kepadatan tersebut agar bisa memarkir mobilnya untuk kemudian berjalan kaki menuju salah satu toko camilan. Hampir seminggu sekali Riswanti datang untuk belanja keripik-keripik favorit.

”Paling lama sebulan sekali. Belinya, sih, tidak banyak. Satu item biasanya satu bungkus. Tapi item-nya banyak, ha-ha- ha...,” ujar karyawati bagian administrasi di sebuah perusahaan pembiayaan itu.

Sebagai penggemar camilan, Riswanti selalu tergoda untuk mencicipi kemudian membeli produk baru yang dipajang di rak toko setiap pekan. Dia terbiasa menikmati camilan keripik bersama teman-teman di kantor pada jam istirahat. Di rumah, keripik-keripik dari Pasar Genteng dinikmati saat kumpul keluarga setelah makan malam sambil nonton televisi.

Sejak tahun 1973, Pasar Genteng tidak pernah sepi pengunjung. Deretan kios di lantai satu pasar ini, seperti Toko Bhek, Toko Ana, dan Toko Bogajaya, punya produk yang sudah menjadi ikon camilan Surabaya, yaitu olahan hasil laut. Menurut Beny, pengelola Toko Bhek, variasi produk di tokonya sangat banyak hingga mencapai ratusan dan terus bertambah. ”Toko tidak akan bisa menampung kalau tidak diseleksi dengan benar,” katanya.

Serba umbi

Di Bandung, Karya Umbi menjadi salah satu pilihan favorit para pencari camilan sejak tahun 1950-an. Sesuai dengan namanya, toko yang dikelola Valentinus Sutandio sebagai generasi kedua ini mengutamakan olahan umbi-umbian untuk dijadikan keripik. Produk asli Karya Umbi ini masih menjadi favorit konsumen yang menjadi pelanggan secara turun-temurun sejak generasi orangtua dan kakek/nenek mereka meski di toko tersebut juga dijual camilan merek lain.

Keripik renyah. Inilah yang ditawarkan toko yang berpusat di Jalan Cihampelas ini. Untuk mendapatkan kerenyahan tersebut, Karya Umbi bergerilya mencari pasokan umbi-umbian terbaik sesuai dengan standar mereka. Mencari umbi ke luar Jawa Barat pun dilakukan ketika bahan terbaik dari daerah ini mulai sulit dicari karena lahan untuk menanam umbi kian berkurang.

”Kami tidak ingin memakai bahan yang asal ada karena tidak mau keripik Karya Umbi yang dikenal renyah jadi keras. Apalagi, camilan baru selalu muncul dengan cepat di Bandung. Jadi, kami harus mempertahankan pelanggan dengan menjual keripik yang kualitasnya sama sejak dulu,” tutur Valentinus.

Peta kuliner di Bandung memang dinamis, bahkan hingga melahirkan tren camilan yang terus berganti. Suatu ketika, surabi (serabi) dengan taburan keju, cokelat, saus stroberi, atau sosis—sebagai variasi dari rasa oncom dan polos—pernah menjadi tren.

Urang Bandung juga pernah keranjingan cireng, makanan dari aci yang diberi bumbu, lalu digoreng. Apalagi, ketika muncul cireng yang diisi keju, kornet, sosis, atau daging ayam.

Tahun lalu, giliran keripik pedas dalam berbagai level yang membuat heboh warga Bandung, termasuk para penggemarnya dari Jakarta. Dimulai dengan keripik singkong Ma Icih yang punya tingkat kepedasan beragam, lantas muncul pula orang-orang yang membuat keripik tempe, kerupuk batagor, bakso goreng, makaroni, dan camilan lain yang dalam sekejap bisa membuat perut terasa panas.

Cara berjualannya pun unik, seperti keripik Ma Icih, yang selalu berpindah tempat setiap hari di lokasi yang diumumkan melalui Twitter. Alhasil, para penggemarnya harus memantau Twitter, lalu bergerilya mencari tempat yang dimaksud sebelum akhirnya bisa menikmati sensasi pedasnya.

Industri

Hadirnya camilan yang bisa dengan mudah didapat di sekitar kita ini tak lepas dari peran industri rakyat. Pesisir Pantai Kenjeran yang terletak di utara Surabaya sejak lama dikenal sebagai sentra industri keripik dan kerupuk hasil laut. Salah satu produk yang terkenal adalah keripik lorjuk.

Pengusaha keripik lorjuk, Sutatik, bercerita, industri keripik lorjuk awalnya digagas oleh nelayan. Saat tidak melaut karena hasil tangkapan minim, mereka mencoba membuat kerupuk dan keripik. Hasilnya dijual untuk menopang kehidupan keluarga.

Hasil olahan nelayan ini ternyata semakin diminati masyarakat. Konsumen mereka tak lagi perseorangan, tetapi juga para pedagang di sejumlah pasar tradisional dan modern. Belakangan, pemasaran produk lorjuk menembus daerah lain, seperti Jakarta, Bandung, Semarang, hingga Papua.

Lorjuk juga menumbuhkan industri rumah tangga di Kecamatan Parenduan, Kabupaten Sumenep, Madura. Di kawasan ini banyak ibu rumah tangga pembuat rengginang lorjuk sebagai mata pencarian keluarga. Apalagi, keberadaan lorjuk di Madura cukup berlimpah karena kawasan pantainya luas.

Permintaan pasar akan camilan khas daerah yang kian meluas bahkan melahirkan sentra camilan di desa-desa. Di Daerah Istimewa Yogyakarta ada kampung rempeyek di Dukuh Pelemadu, Kabupaten Bantul. Ada pula Desa Segoroyoso, Bantul, yang dikenal sebagai kampung rambak, camilan kerupuk yang dibuat dari kulit sapi dan kerbau.

Di Kota Malang, Jawa Timur, ada sentra industri keripik tempe. Sementara kawasan Jalan Pagar Alam, Bandar Lampung, dikenal sebagai sentra industri keripik pisang.

Ditinjau dari tradisi, kata pakar kuliner William Wongso, camilan adalah makanan kecil yang dibuat sendiri di rumah. Dulu, camilan juga kerap dibagikan kepada tetangga. Biasanya piring, mangkuk, atau rantang berisi kudapan yang diantar tidak dikembalikan dalam keadaan kosong, tetapi diisi lagi oleh si tetangga dengan makanan apa saja yang ada di rumah itu.

Sekarang, kebanyakan camilan tidak lagi dibuat sendiri di rumah. Tradisi antaran makanan ke tetangga juga makin jarang.

Pergeseran budaya seiring dengan zaman itu pun direspons industri makanan dengan menyediakan kudapan untuk dinikmati penggemarnya, termasuk yang dikemas apik agar pantas dijadikan antaran ke tetangga atau kerabat.

Editor :