Selasa, 23 September 2014

News / Megapolitan

Proses Panjang Identifikasi Korban Sukhoi

Senin, 14 Mei 2012 | 19:32 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Proses identifikasi jenazah korban kecelakaan Sukhoi Superjet 100 di Gunung Salak bukanlah hal mudah. Hal ini dikarenakan belum ada jenazah dengan tubuh utuh yang ditemukan tim pencari korban.

Jenazah yang dibawa untuk menjalani proses identifikasi di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, adalah potongan-potongan tubuh korban. Organ-organ tubuh tersebut masih harus dicocokkan satu demi satu. "Potongan-potongan tersebut masih perlu dideskripsikan satu per satu bersama barang-barang milik korban," kata Direktur Komite Disaster Victim Identification (DVI) Kepolisian RI Komisaris Besar Anton Castilani.

Pencocokan tersebut masih didahului dengan pengumpulan data ante mortem, data-data korban selagi masih hidup, seperti sidik jari, bentuk gigi, dan DNA keluarga yang dilengkapi dengan data medis korban. Data yang harus dikumpulkan bukan hanya berasal dari Indonesia. Ada 10 warga negara asing yang turut menjadi korban yang perlu dikumpulkan datanya.

Proses ante mortem yang terkait dengan seluruh korban dinyatakan sudah lengkap. Namun, proses panjang post mortem, yakni deskripsi dan identifikasi masing-masing jenazah dan potongan tubuh, masih panjang. Anton menjelaskan, identifikasi adalah hasil akhir dari proses ante mortem dan post mortem. Karena itu, ia berharap pihak keluarga korban bisa bersabar menanti hasil akhir. Proses pencocokan potongan tubuh harus dilakukan dengan sangat teliti agar tidak terjadi kekeliruan dalam deskripsi jasad korban.

"Sampai saat ini tim sudah bisa dapatkan 22 sidik jari (korban)," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar.

Ia memperkirakan proses identifikasi baru akan berakhir dalam dua minggu, terhitung sejak proses post mortem dilakukan pada Sabtu (12/5/2012). "Semoga bisa lebih cepat dari itu," harap Boy.

Proses ini mencakup pemeriksaan tulang-tulang korban dan pencocokan DNA dari potongan tubuh dengan sampel DNA keluarga korban yang telah terkumpul. Dengan demikian, masing-masing potongan tubuh bisa dikelompokkan. "Post mortem saat ini masih mengelompokkan tubuh jenazah. Perlu ketelitian yang luar biasa untuk membuat deskripsi atas masing-masing potongan tersebut," papar Anton.

Hingga sore ini, sudah 25 kantong jenazah yang dibawa ke RS Polri untuk proses identifikasi. Anton menjelaskan, bila salah satu unsur data ante mortem cocok dengan data post mortem, prosesnya sudah bisa dikatakan teridentifikasi.


Penulis: Imanuel More
Editor : Laksono Hari W