Jumat, 1 Agustus 2014

News /

KUNJUNGAN KE AUSTRIA

Megawati: Korupsi Masih Jadi Masalah

Senin, 14 Mei 2012 | 02:31 WIB

Wina, Kompas - Mantan Presiden Megawati Soekarnoputri di depan puluhan warga negara Indonesia di Wina, Austria, mengakui, sampai saat ini korupsi masih menjadi persoalan bangsa Indonesia. Pengakuan itu disampaikan di Wisma Duta, Wina, Austria, Jumat (11/5) malam, atau Sabtu dini hari waktu Indonesia, pada acara penyambutan rombongan Megawati.

Penyambutan terhadap Megawati dan rombongan tersebut diprakarsai Duta Besar Republik Indonesia untuk Austria, I Gusti Agung Wesaka Puja. Acara tersebut dihadiri warga negara Indonesia di Wina dan warga asing yang punya kedekatan dengan Indonesia.

”Setiap hari media massa di Tanah Air masih diwarnai dengan berita soal korupsi. Kita masih punya persoalan dengan pemberantasan korupsi sampai saat ini,” kata Megawati seperti dikutip wartawan Kompas Tri Agung Kristanto dari Wina.

Megawati, yang juga Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, ke Austria untuk memenuhi undangan Universitas Innsbruck. Megawati akan menjadi pembicara dalam seminar ”The Role of Women in Politics” di Universitas Innsbruck, Austria, 15 Mei 2012. Megawati akan menjadi pembicara utama dalam seminar internasional tentang perempuan dan politik tersebut, antara lain bersama aktivis perempuan Siti Musdah Mulia.

Pada 18 Mei 2012, Megawati akan menjadi pembicara utama pada diskusi ”The Non-Aligned Movement: Past, Present, and Future” yang diadakan Slovenian Council of Foreign Affairs di Ljubljana, Slovenia.

Dalam kunjungan ke Austria selama sepekan sejak Jumat (11/5) tersebut, Megawati juga bertemu dengan pejabat Pemerintah Austria dan warga negara Indonesia di negara itu

Dalam pertemuan di Wisma Duta pada Jumat malam waktu setempat tersebut, Puja menjelaskan, di Austria ada sekitar 700 warga negara Indonesia. Mereka antara lain bekerja di lembaga internasional, termasuk di lembaga milik Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pada kesempatan tersebut, Megawati juga menceritakan perkembangan demokrasi di Indonesia, termasuk pemilihan kepala daerah DKI Jakarta yang kini ramai.


Editor :