Selasa, 25 November 2014

News / Nasional

Sikat Gigi dan Celana Dalam Bekas Pakai untuk Lacak DNA

Jumat, 11 Mei 2012 | 14:47 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com — Hingga Jumat siang (11/05/2012), tercatat sudah 36 penumpang pesawat Sukhoi Superjet 100, yang dilaporkan keluarganya ke posko Disaster Victim Identification Dokes Polri di Bandara Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.

Staf ahli DNA Pusdokes Polri, dr Tami Sudharsono, mengatakan kepada wartawan bahwa dari 36 penumpang yang sudah dilaporkan, 34 orang di antaranya adalah warga negara Indonesia, dan dua sisanya adalah warga negara asing.

Menurutnya, Kamis (10/5) kemarin, Kedutaan Besar Amerika sudah melaporkan dan menyerahkan barang-barang pribadi Peter Adler, warga negara Amerika yang tercatat berasal dari perusahaan bernama Sriwijaya.

Terakhir hari ini, seorang warga negara Perancis bernama Jerome Mitchel, yang merupakan Managing Director Snecma, melaporkan dan menyerahkan barang-barang pribadi penumpang bernama Nam Tran, juga dari perusahaan Snecma.

Barang-barang pribadi yang diserahkan berupa sisir, alat shaving atau pencukur jenggot, serta celana dalam bekas pakai yang belum sempat dicuci. Jerome mendapatkan celana dalam itu dari kamar hotel Nam Tran.

"Dari barang-barang itu, kita harapkan ada sampel DNA sehingga memudahkan identifikasi korban," katanya.

Dari alat cukur, petugas berharap menemukan sisa potongan kulit, yang kemudian bisa diproses untuk melacak DNA sang pemilik. Dari sisir, diharapkan ditemukan rambut utuh yang masih terdapat akarnya. Sementara dari sikat gigi, saliva atau liur yang tersisa juga bisa digunakan untuk melacak hal yang sama.

Khusus untuk celana dalam, petugas berharap ada potongan kulit luar, yang terkadang suka menempel di sekitar karet celana dalam. Dari potongan kulit itu, DNA bisa dilacak.

Anak kandung atau orangtua kandung dari korban juga bisa berperan dalam pelacakan DNA itu, antara lain dengan memberikan sampel liur, untuk kemudian diproses oleh tim Disaster Victim Identification (DVI). Dari 34 warga negara Indonesia yang dilaporkan, semuanya sudah memiliki sampel DNA kerabat.


Editor : A. Wisnubrata
Sumber: