Senin, 22 September 2014

News / Nasional

Anton Bersikeras Ikut Demo Sukhoi

Kamis, 10 Mei 2012 | 10:11 WIB

Terkait

JAKARTA, KOMPAS.com - Sekelompok wanita tampak duduk dengan wajah muram di tengah riuh Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta, Kamis (10/5/2012). Terlihat ketegangan dan kekhawatiran di wajah mereka, menunggu kabar keberadaan dari seorang penumpang Sukhoi Super Jet 100 bernama Anton Daryanto.

Pria berusia 56 tahun itu adalah teknisi dari perusahaan penerbangan SKY. Anton baru bekerja di perusahaan tersebut Januari lalu setelah sebelumnya bekerja di Garuda Arlines dan Sriwijaya Air. Namanya tak terdaftar dalam data manifest penumpang yang mengikuti demo flight Sukhoi.

"Kami masih menunggu kabar Anton. Dia kemarin pamit ke istrinya hanya untuk meeting perusahaan. Jadi, kami tidak menyangka dia ikut dalam pesawat itu," ujar adik ipar Anton, Henny Maheswari, saat berbincang-bincang dengan Kompas.com.

Sesekali, matanya awas melihat petugas bandara yang lewat dan berharap datang membawa kabar baik. Ia juga terus melirik ke telepon seluler yang digenggamnya seperti menunggu ada informasi datang melalui sambungan telepon. 

Dengan mata berkaca-kaca ia menuturkan, beberapa teman Anton telah melarang pria asal Cilacap itu menaiki pesawat tersebut. Namun, ia bersikeras turut demo flight karena ingin mengetahui seluk beluk pesawat buatan Rusia itu. Mobil yang dikendarainya ditinggal di kantornya. Ia memilih ikut bersama Ganis Arman Zuvianto, rekannya. Ganis adalah satu satu penumpang yang juga ikut terbang.

"Teman-temannya ajak dia makan siang sebenarnya, tapi dia enggak mau. Dia maunya ke sini (Halim)," kata Henny.

Seharusnya, yang mengikuti demo flight adalah atasan Anton yaitu Yuwono. Namun, saat itu Yuwono tengah melaksanakan ibadah shalat. Yuwono tak muncul saat pesawat akan berangkat sehingga, Anton berinisiatif menggantikannya.

"Dia kan senang hal-hal berbau teknis, jadi langsung semangat aja ikut Sukhoi itu," tutur Henny.

Kini, kata Henny, pihak keluarga masih terus mengikuti perkembangan pencarian para penumpang. Istri dan dua anak Anton diminta keluarga untuk tetap tinggal di kediaman mereka di Matraman, Jakarta Pusat. Hal ini dilakukan agar mereka tidak terlalu tertekan mengetahui kabar yang beredar di Bandara Halim.

"Entah kenapa, tapi saya dan keluarga yakin Anton masih hidup. Adik saya bermimpi tadi malam, dia hanya luka-luka saja. Semoga Tuhan melindungi mereka," tutur Henny.


Penulis: Maria Natalia
Editor : Heru Margianto