Senin, 21 April 2014

News / Nasional

Ketika Hatta Rajasa Mendongeng...

Jumat, 4 Mei 2012 | 22:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Suasana Bentara Budaya Jakarta Jumat (4/5/2012) malam berbeda dari biasanya. Menteri Perekonomian Hatta Rajasa datang bukan untuk bicara soal perekonomian Indonesia, tapi untuk mendongeng.

Dongeng seperti apakah yang disampaikan Hatta Rajasa? "Saya 12 bersaudara. Ketika saya masih kecil, ibu saya sering mendongeng. Ceritanya sederhana saja. Tapi saya merasakan setelah saya dewasa. Ada pesan-pesan moral dalam dongeng ibu saya, agar saya menjadi orang berguna bagi masyarakat, bangsa dan negara," ungkap Hatta Rajasa yang datang bersama istrinya.

Hatta mengungkapkan ada kebenaran besar dan kebenaran kecil dalam kehidupan ini. Yang ia ingat adalah dongeng tentang nelayan yang mencari ikan di sungai. Suatu hari sang nelayan melihat ikan yang hendak ia tangkap sedang bertelur. Sang nelayan tak sanggup untuk menangkapnya karena ia berpikir ikan itu sedang mencari kehidupan. Ia pulang ke rumah dan mengatakan tak ada ikan yang terlihat.

Dongeng tentang nelayan dan ikan itu sangat relevan dalam kehidupan saat ini karena di dunia ini ada kecenderungan orang makin serakah, semua diambil tanpa melihat dampaknya.

Hatta Rajasa lalu mendongeng lagi. Kali ini tentang dua satria bersaudara yang memiliki karakter kuat dan saling adu kuat. Singkatnya, karena dua satria tetap sama kuat, akhirnya mereka mengatakan, untuk menguji siapa yang paling hebat, diajukan pertanyaaan, dan siapa yang menjawab benar, dia lah yang menang. Sebaliknya jika menjawab salah, dia akan dibunuh.

Satria sulung bertanya, berapa 4 + 4? Saya jawab 8, namun sang adik menjawab 9. Mereka tak mau mengalah. Akhirnya mereka mendatangi sang guru. "Guru itu menjawab, benar bahwa 4 + 4 adalah 9," dongeng Hatta Rajasa.

Mengapa sang guru menjawab demikian? "Sang guru menjelaskan kepada satria sulung bahwa ia membenarkan jawaban 4+4 = 9 karena dengan demikian, saya menyelamatkan hidup adikmu," demikian Hatta Rajasa bercerita.

Dalam kehidupan ini, kata Hatta, kita butuh kearifan untuk mengungkapkan kebenaran besar dan kebenaran kecil. "Cintalah yang membuat kita bersatu. Energi cinta yang membuat negeri menjadi damai. Kita butuh pencinta negeri, yang selalu ingin memberi, tidak meminta," kata Hatta.

Suasana dongeng dan nyanyian kebangkitan di Bentara Budaya Jakarta Jumat malam itu sebenarnya untuk memperingati satu tahun meninggalnya penyanyi Franky Sahilatua. Beberapa lagu karya Franky dibawakan oleh Edo Kondolagit, Widyawati, dan Garin Nugroho sebagai sutradara.

Widyawati tampak masih awet muda. Ia menanyikan lagu-lagu yang membangkitkan nasionalisme bersama Garin Nugroho dan Edo Kondolagit. Widyawati mengawali acara dengan menyanyikan "Belaian Sayang" karya Bing Slamet. "Lagu ini sebenarnya ingin menyampaikan pesan kita tidak menginginkan kekerasan dalam kehidupan ini tapi belaian sayang dan cinta," kata istri (alm) Sophan Sophiaan itu.

Widyawati, Edo, dan Garin juga membawakan lagu-lagu "Bersiul Bersama", "Aku Papua", "Di Bawah Tiang Bendera" (karya Franky Sahilatua), "Waktu Hujan Sore-sore", dan "Pancasila Rumah Kita", juga karya Franky.

Garin Nugroho membawa suasana santai dengan cerita-cerita menarik. Salah satunya, Garin yang menjadi sutradara film "Soegija" dan akan diputar awal Juni 2012 itu mengingatkan hadirin dengan kisah Mussolini. "Mussolini, pemuda revolusioner dari Italia, ditinggal kekasihnya ketika sudah memegang kekuasaan. Mengapa? Sang kekasih menjawab alasan ia meninggalkan Mussolini adalah karena pria itu tak lagi punya rasa haru. Setelah semuanya ia miliki, Mussolini hanya memiliki kemarahan dan mengobarkan kebencian," demikian Garin bercerita.

Suasana santai penuh tawa di BBJ membuat Hatta berucap, "Sungguh ini malam yang luar biasa." Hatta juga melepaskan tawanya ketika Ida Laras dari Solo membawakan lagu "Ayo Ngguyu".

Moeslim Abdurrahman, sahabat Franky Sahilatua (alm) mengatakan, "Setiap hari kita omong politik terus. Dan kita perlu ruang untuk tertawa, seperti dilakukan malam ini. Dan saya menggarisbawahi apa yang disampaikan Pak Sularto (Wakil Pemimpin Umum Kompas) bahwa negara harus hadir dan meyakinkan rakyat memang masih bagian dari Indonesia."

Hadir juga Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, cendekiawan Moeslim Abdurrahman, Sukardi Rinakit, pengusaha dan pemilik Garuda Food Sudhamek, Managing Director Sinarmas Gandi Sulistiyanto, politikus Golkar Nurul Arifin, Wakil Gubernur Jawa Tengah Rustriningsih, dan undangan lainnya.

Dari Kompas, hadir Wakil Pemimpin Umum St Sularto mewakili Jakob Oetama, Pemimpin Redaksi Kompas Rikard Bagun, Wapempred Trias Kuncahyono, Redaktur Pelaksana Budiman Tanuredjo, Redaktur Senior August Parengkuan, Direktur Komunikasi Korporat Kompas Gramedia Widi Krastawan, dan Direktur Eksekutif Bentara Budaya Jakarta Hariadi Saptono.


Penulis: R. Adhi Kusumaputra
Editor : Robert Adhi Ksp