Sabtu, 19 April 2014

News / Nasional

Kata-kata Endang Membuat Presiden Terharu

Kamis, 3 Mei 2012 | 12:55 WIB

Baca juga

JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengaku terharu ketika membaca tulisan pengantar Endang Rahayu Sedyaningsih (57), mantan Menteri Kesehatan Kabinet Indonesia Bersatu II yang meninggal akibat kanker paru, Rabu (2/5/2012), pada buku Berdamai dengan Kanker.

Kepala Negara mengaku membaca pengantar tersebut pada Kamis (3/5/2012) pagi. "(Tulisan pengantar) yang sangat mengharukan dan penuh kearifan," kata Presiden ketika menjadi inspektur upacara pemakaman almarhumah Endang di San Diego Hills Memorial Park, Karawang, Jawa Barat, Rabu.

Di hadapan para pelayat, Presiden kembali membacakan tulisan pengantar tersebut. Setiap kalimat dibacakan Presiden dengan jelas.

"Saya sendiri belum bisa disebut sebagai survivor kanker. Diagnose kanker paru stadium 4 baru ditegakkan lima bulan yang lalu. Dan sampai kata sambutan ini saya tulis, saya masih berjuang untuk mengatasinya. Tetapi, saya tidak bertanya, "Why me?" Saya menganggap ini adalah salah satu anugerah dari Allah SWT. Sudah begitu banyak anugerah yang saya terima dalam hidup ini: hidup di negara yang indah, tidak dalam peperangan, diberi keluarga besar yang pandai-pandai, dengan sosial ekonomi lumayan, dianugerahi suami yang sangat sabar dan baik hati, dengan dua putera dan satu puteri yang alhamdulillah sehat, cerdas dan berbhakti kepada orang tua. Hidup saya penuh dengan kebahagiaan. "So .... Why not? Mengapa tidak, Tuhan menganugerahi saya kanker paru? Tuhan pasti mempunyai rencanaNya, yang belum saya ketahui, tetapi saya merasa SIAP untuk menjalankannya. Insya Allah. Setidaknya saya menjalani sendiri penderitaan yang dialami pasien kanker, sehingga bisa memperjuangkan program pengendalian kanker dengan lebih baik. Bagi rekan-rekanku sesama penderita kanker dan para survivor, mari kita berbaik sangka kepada Allah. Kita terima semua anugerah-Nya dengan bersyukur. Sungguh, lamanya hidup tidaklah sepenting kualitas hidup itu sendiri. Mari lakukan sebaik-baiknya apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kita lakukan dengan sepenuh hati. Dan .... jangan lupa, nyatakan perasaan kita kepada orang-orang yang kita sayangi. Bersyukurlah, kita masih diberi kesempatan untuk itu."

Presiden mengatakan, almarhumah telah memberikan banyak kontribusi pada dunia kesehatan di Indonesia. Kepala Negara mengajak seluruh komponen masyakat untuk melanjutkan pengabdian almarhumah melalui tindakan nyata.

Atas nama pemerintah dan rakyat Indonesia, saya sampaikan ucapan terima kasih yang tulus atas jasa dan pengabdian almarhumah selama hidupnya. Mari kita berikan penghormatan dan penghargaan yang tinggi atas darma bhaktinya kepada bangsa dan negara," kata Presiden.

Endang dideteksi menderita kanker paru sejak Oktober 2010, setahun setelah menjabat sebagai menteri untuk periode 2009-2014. Selama 1,5 tahun terakhir, ia mulai menjalani perawatan untuk melawan penyakitnya itu, baik di dalam maupun di luar negeri, hingga akhirnya tiga minggu lalu dia dilarikan ke RSCM karena merasa nyeri di tubuhnya. Endang akhirnya mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu (2/5/2012) pukul 11.41 WIB.


Penulis: Hindra Liu
Editor : Heru Margianto