Senin, 22 Desember 2014

News / Nasional

Sejarah

Pasca-Sejarah Belum Diperhatikan

Senin, 30 April 2012 | 23:45 WIB

MALANG, KOMPAS.com Kajian tentang sejarah, yang terbentuk setelah peristiwa sejarah berlalu, selama ini nyaris belum banyak menjadi perhatian ahli, pakar, dan peneliti serta peminat sejarah.

Padahal, sejarah sesungguhnya tak terhenti hanya sampai sejarah berlalu karena, setelah itu, ada kelanjutan dan konsekuensi terhadap jalannya sejarah pada manusia-manusia di kemudian hari.

Salah satu yang mencolok adalah nasib komunitas keturunan Pangeran Diponegoro yang ternyata tercerai-berai, bahkan bersembunyi tidak berani mengaku bahwa mereka keturunan Sang Pangeran.

Hal itu muncul dalam seminar dan bedah buku karya Dr Peter Carey tentang sejarah Pangeran Diponegoro, Senin (30/4/2012) di kampus Universitas Negeri Malang.

Hadir sebagai pembicara, Peter Carey sendiri, Dekan Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Malang Profesor Dr Haryono, Direktur KITLV (lembaga Kerajaan Belanda untuk Kajian Indonesia dan Karibia) Dr Roger G Toll, dan R Roni Sodewo (keturunan ke-7 Pangeran Diponegoro).

Sejarah anak-anak tokoh yang terlibat atau disebut dalam sejarah, seperti anak-anak para bekas pengurus partai terlarang semasa G30S dan semua keturunan eks anggota partainya, bahkan sejarah anak-anak tokoh-tokoh Orde Baru pada saat awal hingga Orde Baru setelah tumbang, juga merupakan lembaran sejarah yang perlu dicatat.

"Kisah post-sejarah (pasca-sejarah) justru penting, untuk mengukur kelanjutan perjalanan sejarah itu sendiri. Kisah anak tokoh sejarah bisa mengungkap sudut yang lebih intim dan manusiawi, perihal sang tokoh sejarah, misalnya kisah anak-anak cucu Muso, anak-anak Soekarno, dan bahkan anak-cucu Soeharto," kata Haryono setelah seminar.

Ini menjadikan sejarah sebagai kisah profetik, yang tidak sekadar berupa susunan rangkaian peristiwa, tetapi juga memberi pesan moral, tentang nilai di balik sebuah proses sejarah.

Rakyat Indonesia sebagai pemilik sejarah akan mendapat informasi yang lebih berimbang, perihal pribadi sang tokoh dan latar belakang tindakannya dari sudut kajian sejarah-pascasejarah.

"Di mata anak dan cucunya, Muso, Soekarno, dan Soeharto pasti orang-orang yang disayangi, yang berbeda jika dinilai dalam peran sejarahnya semasa hidup dan saat berkuasa," kata Carey.

Mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Prof Dr Wardiman Djojonegoro, menjelaskan, dia termasuk yang kaget setelah bertemu dengan keturunan Pangeran Diponegoro, yang ternyata hidup serasa dalam pengasingan.

Ada sekitar 20 nama anak keturunan Pangeran Diponegoro dari delapan istri di Jawa dan di luar Jawa, dari jumlah yang tidak diketahui dan masih belum terkumpul. "Jumlah aslinya pasti lebih banyak karena delapan istri, setelah keturunan ketujuh saat ini, pasti sudah banyak orangnya," kata Roni Sudewo.

Baru pada 28 Maret 2012, antara lain dengan dorongan Peter Carey, para keturunan Diponegoro bisa bertemu dan berkumpul di Tegalrejo, Yogyakarta, di bekas markas Diponegoro saat Perang Jawa (1825-1830).

Ternyata, tiap-tiap dari mereka mengungkapkan jalan hidup yang mengharukan karena beban nama Diponegoro. Keturunan di Ambon, bernama Den Soedirman Diponegoro, merasa secara sosial terkucilkan selama hidup mereka karena beban nama Diponegoro.

"Sebagai nama marga, nama itu jelas dianggap bukan nama Maluku. Namun di Jawa, saya dianggap bukan Jawa," kata Den.

Di Jawa Tengah, kisah Roni, keturunan Pangeran Diponegoro terbebani oleh posisi Diponegoro sebagai pemberontak yang tak diterima di lingkungan keraton.

"Banyak dari kami menyembunyikan identitas dengan tidak mengaku sebagai keturunan Diponegoro, apalagi jika pekerjaannya petani atau bukan pekerjaan bergengsi. Namun, ada juga keturunan yang dosen di perguruan tinggi di Yogyakarta," katanya.

 


Penulis: Doddy Wisnu Pribadi
Editor : Agus Mulyadi