Kamis, 24 April 2014

News / Nasional

Harga-harga Telanjur Naik dan Tak Menentu

Jumat, 27 April 2012 | 05:45 WIB

TEGAL, KOMPAS.com — Harga sejumlah bahan pangan di wilayah Tegal, Jawa Tengah, dan Jember, Jawa Timur, kembali naik setelah bulan lalu naik. Ketidakpastian harga ini merupakan imbas rencana kenaikan harga bahan bakar minyak yang tidak menentu pula.

Dari pantauan di beberapa pasar tradisional di Tegal, Kamis (26/4/2012), kenaikan mulai terjadi sepekan terakhir, antara lain pada beras, gula pasir, gula merah, telur, serta sejumlah bumbu, seperti kacang tanah, bawang merah, dan pala.

Sementara di Jember, harga bahan kebutuhan pokok berubah tak menentu sehingga meresahkan pedagang eceran. Harga gula dan minyak goreng dalam dua hari ini saja berubah dengan cepat. ”Harga gula kemarin masih Rp 10.100 per kilogram dan saat ini sudah naik menjadi Rp 10.600 per kg. Harga berubah dengan cepat sehingga pedagang harus ikut perkembangan,” kata H Fauzan, pedagang grosir di Pasar Tanjung, Jember.

Asikin (35), pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Pagi, Tegal, mengatakan, harga gula pasir naik dari Rp 11.000 per kg menjadi Rp 11.200 per kg, sementara harga beras naik sekitar Rp 300 per kg. Sebagai contoh, harga beras C4 kualitas satu naik dari Rp 7.200 per kg menjadi Rp 7.500 per kg. Harga gula merah atau gula jawa juga naik dari Rp 11.500 per kg menjadi Rp 12.500 per kg. Asikin mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga bahan kebutuhan pokok. Namun, ia menduga, hal itu adalah ulah para pedagang besar yang memiliki modal untuk mempermainkan harga. ”Tidak tahu mengapa naik, padahal pasar sepi sekali (sepi pembeli),” katanya.

Lilik (20), pedagang bahan kebutuhan pokok, mengatakan, harga telur juga naik dari Rp 13.500 per kg menjadi Rp 14.500 per kg, sementara harga pala naik dari Rp 100.000 per kg menjadi Rp 110.000 per kg.

Harga kacang tanah naik dari Rp 14.500 per kg menjadi Rp 16.000 per kg dan harga bawang merah naik dari Rp 7.000 per kg menjadi Rp 10.000 per kg.

Fathonah (60), pedagang bahan kebutuhan pokok di Pasar Sumurpanggang, Tegal, mengatakan, kenaikan harga sangat membingungkan pedagang kecil seperti dirinya. ”Harga BBM batal naik, tetapi mengapa harga-harga justru kembali naik,” katanya.

Kenaikan harga mengakibatkan kondisi pasar sepi. Banyak pembeli yang mengurangi konsumsi mereka dengan alasan penghematan biaya. ”Sekarang cari untung Rp 100 hingga Rp 200 saja susah,” lanjutnya.

Mengeluh

Tak hanya di Tegal dan Jember pengusaha mengeluh. Di Medan, Sumatera Utara, para pengusaha tempe dan tahu mengeluh karena harga kedelai impor melonjak dari semula Rp 5.300 per kg menjadi Rp 6.900 per kg sejak sebulan lalu. Pengusaha mengakalinya dengan mengecilkan ukuran tahu dan tempe.

Suwardi (50), pengusaha tahu, menjelaskan, harga kedelai impor tidak tergapai lagi oleh pengusaha kecil seperti dia. ”Saya selalu merugi setiap hari,” kata Suwardi di pabriknya di Kelurahan Tanjungsari, Kecamatan Medan Selayang.

Dengan omzet 700 kg per hari dan harga kedelai Rp 6.900 per kg, dia merugi Rp 1,4 juta per hari. Akibatnya, ayah tiga anak ini berutang sampai Rp 30 juta. Dia memilih bertahan dan berharap harga kedelai turun menjadi Rp 5.000 per kg. Suwardi mencoba menggunakan kedelai lokal. Sayangnya, kedelai lokal sangat sulit ditemukan di pasar.

Budi Sudarno (39), pengusaha tempe, mengutarakan, dia mengurangi ukuran tempe untuk menekan biaya operasional. Tempe yang semula berbobot 3,5 ons menjadi 3,2 ons dengan harga tetap, Rp 2.000 per bungkus. Namun, tetap saja margin keuntungan Suwardi berkurang hingga 8 persen.

Pengecualian
Terjadi pengecualian di Pontianak, Kalimantan Barat, dan Purwakarta, Jawa Barat.

Harga ayam ras turun drastis dari Rp 20.000 per kg hidup menjadi Rp 13.000 per kg hidup. Penurunan harga dipicu oleh tingginya produksi, sementara permintaan pasar stagnan.

Sejumlah peternak, kemarin, mengungkapkan, pekan ini harga sudah naik lagi menjadi Rp 16.000 per kg hidup. Namun, penurunan harga secara drastis itu telah membuat para peternak rugi ratusan juta rupiah. Ketua I Asosiasi Agribisnis Perunggasan Kalbar Suryaman mengatakan, turunnya harga ayam ras itu di luar perkiraan peternak. Para peternak keliru memperhitungkan populasi ayam ras pada masa budidaya semester pertama 2012.

Di Purwakarta, harga beras cenderung turun satu pekan terakhir. Selain akibat penurunan permintaan, penurunan harga beras diduga terkait mengalirnya pasokan beras dari petani di sentra-sentra padi.

Zaenal (34), pengecer beras di Nagrikaler, menuturkan, harga beras kualitas medium di sejumlah pasar tradisional turun dari Rp 350.000 per karung ukuran 50 kg menjadi Rp 340.000 per karung.

”Pasokan dari petani dan penggilingan di Subang dan Purwakarta terus mengalir karena panen padi musim rendeng belum selesai,” ujar Zaenal. (WIE/MHF/MKN/SIR/AHA)


Editor : Eko Hendrawan Sofyan
Sumber: