Sabtu, 25 Oktober 2014

News /

Pak Raden Ingin Boneka-bonekanya Kembali

Minggu, 15 April 2012 | 02:54 WIB

Suyadi (79) ingin boneka-bonekanya kembali. Ia ingin Unyil, Cuplis, Usro, Ucrit, Kinoi, Meilani, dan lima boneka lain ciptaannya menjadi teman-temannya lagi di senja hidupnya.

Tahun 1995, Suyadi alias Pak Raden menyerahkan hak cipta 11 boneka dan gambar boneka ciptaannya kepada Perum Produksi Film Negara. Dalam perjanjian Nomor 139/P.PFN/XII/1995 disebutkan, Suyadi menyerahkan hak cipta cerita dan seluruh properti Si Unyil selama lima tahun.

”Tetapi sampai sekarang hak cipta itu belum kembali kepada saya,” tutur Suyadi kepada wartawan, Sabtu (14/4), di rumahnya di Jalan Petamburan III, RT 03 RW 04, Nomor 27, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Ironisnya, kini Suyadi cuma bisa menjadi penonton saat boneka-bonekanya mendulang uang di tangan pihak lain. ”Teman-teman lihat sendiri. Sekarang saya tidak punya apa-apa. Ini rumah kakak saya. Saya mengontrak. Sejak tahun 1980-an, saya sudah tiga kali pindah rumah kontrakan,” ujar Suyadi.

Ia mengaku, awalnya tidak begitu peduli soal ini, yang penting boneka-bonekanya bisa terus bersemayam di hati anak-anak Indonesia. Namun, seiring bertambahnya usia, Suyadi mulai mengkhawatirkan masa senjanya. Ia ingin bonekaboneka miliknya kembali menemani Suyadi. Ia ingin bonekabonekanya bisa memberi sedikit harapan untuk dipakai menjalani sisa hidup Suyadi.

Lutut

Rumah yang dihuni Suyadi di salah satu gang sempit itu tampak kusam, temaram, dan terasa lembab. Beberapa bagian eternitnya bocor. Rekaman kaset ”Si Unyil” dan buku-buku Suyadi tak terurus. Sebagian kaset rusak didera suasana lembab.

Kini, meski tak menghasilkan banyak, ia melukis. ”Satu-satunya untuk bertahan hidup hanya dengan ini,” ucapnya sambil menunjukkan kuas. Suyadi ”menukar” lukisan-lukisannya dengan beras, sayur-mayur, dan peralatan lukis. ”Ada sedikit uang untuk berobat, tetapi tak banyak,” tambah Nanang yang sehari-hari mengurus Suyadi.

Menurut dia, saat ini sepanjang hari Suyadi memakai tongkat bukan hanya untuk mencocok-cocokkan dengan penampilan boneka Pak Raden. ”Memang lututnya sudah keropos seperti disampaikan dokter yang merawatnya. Jadi perlu dibantu tongkat,” kata Nanang. Selain Nanang, ada dua pria lain juga tinggal bersama Pak Raden.

Mereka adalah Maman dan Fain. Nanang, Maman, dan Fain ikut membantu menggambar dan membuat boneka-boneka tokoh ciptaan Suyadi. Belakangan, ketiganya banyak membuat boneka-boneka tersebut, termasuk properti dan perlengkapan pertunjukan lain, untuk tampil di salah satu televisi swasta.

Saat ditemui, mereka bercakap sambil membuat mainan pesawat UFO untuk babak tayangan baru. ”Saya kadang juga diminta ikut membaca skenario,” ujar Maman.

”Selain lutut, bagian tubuh lain Suyadi relatif sehat. Jantung, mata, paru-paru, dan bagian lain masih sehat. Bahkan, sampai sekarang Pak Suyadi tidak memakai kacamata,” kata Maman.

Saat rumahnya ”dikepung” puluhan wartawan televisi, cetak, portal, dan radio, Suyadi membagi salinan coretan tangannya yang tertulis rapi. ”Perjanjian mengenai penyerahan hak cipta yang dibuat pada tanggal 14 Desember 1995 dan berlaku selama lima tahun itu, seharusnya sudah berakhir tanggal 14 Desember 2000, tetapi pihak PFN berpendapat bahwa hak cipta tetap ada pada PFN untuk selamanya. Begitu pula pendaftaran tokoh-tokoh Si Unyil ke Departeman Kehakiman oleh PFN. PFN menganggap, saya tidak punya hak lagi atas tokoh-tokoh ciptaan saya selama-lamanya” . (WINDORO ADI)


Editor :