Minggu, 20 April 2014

News / Edukasi

Peran Sultan HB IX Dalam Pendirian UGM

Selasa, 10 April 2012 | 21:46 WIB

Baca juga

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Lahirnya UGM tidak terlepas dari peranan Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) IX. Sultan HB IX menjadi salah satu founding father UGM sejak mulai pendirian Balai Perguruan Tinggi UGM pada 17 Februari 1946 sampai pendirian UGM pada 19 Desember 1949 hingga berubah menjadi Universitiet Negeri Gadjah Mada sampai menjadi Universitas Gadjah Mada pada tahun 1954.

Demikian dipaparkan sejarawan UGM, Prof. Djoko Suryo dalam acara peringatan 1 Abad Sri Sultan HB IX yang digelar di Pusat Kebudayaan Koesnadi Harjasoemantri (PKKH) UGM, Selasa (10/4/2012).

Djoko mengatakan saat diresmikannya pembentukan Balai Perguruan Tinggi UGM pada 3 Maret 1946, Sultan HB IX dan Ki Hajar Dewantara menjabat sebagai Presiden dan Wakil Presiden Kurator Balai Perguruan Tinggi UGM.

"Pada saat itu aktivitas perkuliahan dilaksanakan di Pagelaran Keraton, tapi sempat berhenti saat terjadi Agresi Militer Belanda. Perkuliahan baru dimulai kembali setelah persetujuan Roem Royen," jelasnya Selain itu, menurut Djoko, Sultan HB IX juga adalah juga penggagas sekaligus pelaksana penggabungan pendidikan tinggi yang tersebar di berbagai wilayah di Klaten, Surakarta, maupun yang ada di Yogyakarta menjadi satu perguruan tinggi yaitu Universitas Gadjah Mada yang berada di bawah Kementrian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.

"Tidak dapat diingkari peran sultan HB IX dalam pendirian UGM sangat besar baik secara historis, sosiologis, politik, kultural, idenasional-ideologis, faktual, material-fisikal maupun spasial-lokasional," kata Djoko lebih lanjut.

Secara nyata, lanjut Djoko, Sultan HB IX juga memberikan bantuan dalam penyediaan sarana dan prasarana perkuliahan, di antaranya menyediakan tempat perkuliahan di Sitihinggil dan Pagelaran Kraton serta gedung lainnya di sekitar kraton.

Dan juga menyediakan tanah kraton (sultan ground) untuk mendirikan kampus UGM yang sekarang, di wilayah Bulaksumur dan sekitarnya.

Sementara itu, GBPH Joyokusumo, dalam kesempatan yang sama menceritakan perjalanan hidup ayahandanya Sultan HB IX. Menurutnya, Sejak usia 4 tahun HB IX sudah harus berpisah dengan keluarganya dan belajar di Belanda.

"Kala itu Sultan HB IX ditugsakan belajar di Belanda untuk mengetahui kebiasaan dan perilaku orang Belanda sebagai penjajah. Bagaimana perilaku orang Belanda dalam memperlakukan orang lain saat di negaranya sendiri maupun di negeri orang," kata Joyokusumo.

Lebih lanjut Joyokusumo mengatakan, dalam pidato penobatan Sultan HB IX, beliau menyampaikan bahwa menduduki jabatan sebagai Sultan merupakan tugas yang yang paling berat karena harus menerjemahkan dan mengawinkan antara budaya Barat dan budaya Timur.

"Beliau menjaga agar masing-masing budaya tidak saling mengalahkan, khususnya budaya Timur jangan sampai kehilangan jati dirinya. Hal itu memberi kesan yang sangat mendalam bagi kami putera-puteranya," tuturnya.

Tak lupa dalam kesempatan tersebut Joyokusumo menyampaikan rasa terima kasih kepada masyarakat Jogja khususnya masyarakat ilmuan UGM yang mengapresiasi sepak terjang Sultan HB IX.

"Sebenarnya kami tidak mengharapkan hal ini, karena sesuai prinsip beliau ajarkan,apa yang dilakukan adalah sekedar melaksanakan kewajiban atas komitmen yang telah dibuat. Apakah yang telah dilakukan itu akan dikenang atau tidak, bukan urusan beliau. Yang jadi harapan adalah karya-karyanya bisa menjadi suri tauladan dan untuk memenuhi kewajiban pada bangsa dan negara," pungkasnya.


Penulis: Gandang Sajarwo
Editor : Benny N Joewono