Minggu, 21 September 2014

News / Plesir

Batavia di Pertengahan Abad 16

Senin, 2 April 2012 | 13:24 WIB

PIERE Marie Francois de Pages, lahir dari keluarga bangsawan di Toulouse pada 1740. Ia adalah seorang perwira angkatan laut Perancis yang telah berulang kali terjun dalam berbagai operasi militer saat perang tujuh tahun.

Merasa bosan menjalani karier sebagai perwira, pada tahun 1767 sampai 1769 ia mulai bertualang melakukan perjalanan keliling dunia atas inisiatif sendiri tanpa dukungan resmi, tanpa misi ilmiah dan tanpa sarana. Kadangkala dia menempuh jalur darat, kadang jalur maritim.

Sekembalinya ke Perancis, semua petualangan itu dituliskan dalam bukunya yang berjudul Travel Around the World in the Years: 1767, 1768, 1769, 1770, 1771 (1791). Ternyata dalam petualangannya itu, Francois de Page sempat mampir di Batavia! Bagaimana kesan-kesannya mengenai Batavia pada pertengahan abad 16?

Bernard Dorleans dalam bukunya yang berjudul "Orang Indonesia dan Orang Perancis dari Abad XVI sampai dengan abad XX," menceritakan tentang kunjungan de Pages ini.

Diceritakannya; Pada 15 April 1769, Pierre Marie Francois de Pages tiba di Batavia setelah perjalananan dari Filipina selama 7 bulan. Selama di Batavia, de Pages sering berkeliling di sepanjang jalan sambil mengamati dengan seksama gaya hidup masyarakat Batavia. Dari pengamatannya itu, ia membagi masyarakat yang tinggal di Batavia menjadi 3 kelompok.
Pertama, daerah pinggiran kota dihuni oleh orang-orang Portugis, Hindu Malabar, atau Benggala.

Menurutnya: "Jalan-jalan dan rumah mereka sedikit dipengaruhi corak ala Belanda." Kedua, daerah pinggiran yang amat luas dan merupakan kawasan Pecinan. Dari pengamatannya disimpulkan: "Karakter masyarakat secara jelas terlihat dari gerak-gerik yang aktif dan terampil. Rumah-rumah mereka (kecuali milik orang kaya), begitu sederhana, dibangun ala kadarnya; rumah-rumah terlihat sangat rapat dengan tangga yang sangat rendah dan penyebarannya tidak merata karena penduduknya padat; jalan-jalan sangat sempit, kumuh dan dijejali barang-barang hasil karya orang Cina."

Ketiga, daerah pinggiran yang lebih luas, lebih pedesaan dan tidak banyak dihuni dibanding dua wilayah sebelumnya. Di daerah ini menurut Pages; "Komposisi penduduknya terdiri dari orang-orang Hindia, yakni penduduk asli Jawa atau pulau lain, dan para pedagang Hindu. Rumah-rumah dan kebun mereka juga indah, tak kalah dengan milik orang-orang kaya Belanda. Masyarakatnya memiliki adat-istiadat yang sama, yakni norma-norma dalam bertindak, namun kurang begitu terarah; kehidupan mereka sederhana, hanya makan nasi dan buah-buahan, pakaian pun juga demikian."

Upaya Pages meleburkan diri dengan masyarakat yang dikunjungi termasuk dalam urusan makanan. Selama di Batavia, tidak seperti kebanyakan orang Eropa yang senang mengonsumsi daging, ia justru lebih banyak mengonsumsi makanan seperti penduduk asli dan hanya minum air putih serta buah-buahan, sehingga meski iklim Batavia terkenal tidak ramah terasa agak panas buat Pages, untungnya dia tidak mengalami gangguan kesehatan yang berarti selama tinggal di kota itu.

2 Agustus 1769, setelah selama kurang lebih 3,5 bulan ia mampir di Batavia, Francois de Pages melanjutkan perjalanan keliling dunianya menuju India, Arab, Yunani juga Tunisia. Pada 5 Desember 1771 kembali di Perancis setelah menempuh perjalanan luar biasa yang berlangsung selama 4 tahun 5 bulan dan 5 hari (Bernard Dorleans, KPG; 2006).

(Lily Utami, pemerhati sejarah dan budaya)

 


Editor : Pingkan