Sabtu, 20 September 2014

News /

HARI AIR SEDUNIA

Biarkan Citarum Bercerita tentang Nestapa...

Jumat, 30 Maret 2012 | 03:39 WIB

Tanpa ragu, seniman Tisna Sanjaya merogohkan tangannya ke dalam lumpur Sungai Citarum yang warnanya coklat kehitaman. Dia angkat segumpal lumpur, wajahnya berseri. Gumpalan itu segera dioleskan ke sebuah kanvas putih setinggi 1,5 meter dan selebar 70 sentimeter, membentuk busur dengan warna yang sama, coklat kehitaman.

”Lihatlah, warna coklat dari lumpur ini tak bisa didapatkan di toko cat mana pun. Apalagi setelah dicampur dengan air, lukisan ini tampak sedang menangis,” kata Tisna setelah mencelupkan kanvas tersebut ke permukaan Sungai Citarum.

Tisna tidak sendirian, dia bersama beberapa seniman lain membuat lukisan yang bahannya sama. Ada yang membuat di tepi sungai, ada pula yang melukis sambil menaiki perahu yang biasa digunakan untuk menambang pasir. Nantinya, ujar Tisna, semua lukisan itu dipajang di sebuah galeri di Kota Bandung, lengkap termasuk wewangian tanah yang sedikit tengik.

Aksi tersebut merupakan bagian dari peringatan Hari Air Sedunia yang digelar oleh organisasi pencinta lingkungan Greenpeace dan dipusatkan di Kampung Cigebar, Desa Bojongsari, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Rabu (21/3). Sebelum digurati lumpur, kanvas tersebut dicelupkan ke air Sungai Citarum yang juga berwarna gelap. Tujuannya, sedimen yang terbawa bersama air bisa tertempel di kanvas sehingga seolah Sungai Citarum sendiri yang menorehkan kisahnya. Kisah nestapa.

Menganalogikan Sungai Citarum dengan Sungai Eufrat ataupun Tigris, Tisna menyebut sungai sepanjang 300 kilometer yang membentang dari Kertasari, Kabupaten Bandung, hingga Karawang itu sebagai awal dari kebudayaan manusia. Dia pun mencontohkan figur dalang kenamaan Mama Atmaja yang tinggal di tepi Sungai Citarum dan dipercaya mengembangkan kreativitas berkesenian berkat memuliakan sungai. Di sanalah harmoni antara manusia dan lingkungan.

Sama halnya yang diutarakan peneliti dari Kelompok Riset Cekungan Bandung, T Bachtiar. Dia menganggap Sungai Citarum sebagai urat nadi kehidupan bagi Provinsi Jawa Barat dan bahkan ibu kota Indonesia, Jakarta. Pasalnya, sumber air baku untuk Jakarta berasal dari Sungai Citarum. Tidak hanya bermanfaat untuk pertanian, air sungai ini juga dipakai untuk berbagai kebutuhan dasar manusia mulai memasak hingga mencuci pakaian. Sungai ini melayani kebutuhan 25 juta jiwa, mengairi 240.000 hektar sawah, dan menghasilkan 1.400 megawatt listrik dari pembangkit listrik tenaga air yang tersebar sepanjang aliran sungai.

Cucian kotor

Namun, peran vital Citarum tak dibarengi kemauan pemerintah untuk menjaganya. Yang terjadi justru menutup mata terhadap pelanggaran lingkungan. Pabrik dibiarkan membuang limbah berbahaya tanpa sebelumnya diolah, tanpa pengawasan, atau bahkan tanpa sanksi.

Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia Jawa Barat Dadan Ramdan menuturkan, pemerintah sudah gagal menjamin hak warga untuk mendapatkan air bersih. Bukannya tegas menindak, pembiaran oleh pemerintah menjadikannya pihak yang turut bersalah dalam kerusakan lingkungan ini.

Berdasarkan data Greenpeace, ada 500 industri dari keseluruhan sekitar 19.000 industri di sepanjang Sungai Citarum yang langsung membuang polutan tanpa mengolahnya. Gambaran paling nyata bisa dilihat di daerah Majalaya. Air di sungai hingga di sawah bisa berubah warna tergantung pada polutan dari pabrik.

Koordinator Elemen Lingkungan Deni Riswandani menjelaskan, ada satu kampung bernama Ciwalengke yang warganya menderita gatal-gatal karena air sumur mereka sudah tercampur limbah. Tidak ada pilihan selain air itu untuk kebutuhan sehari-hari warga.

Juru Bicara Greenpeace Ahmad Ashov berkata, bukan logam berat saja yang seharusnya diwaspadai dari polutan industri, melainkan juga bahan kimia berbahaya. Salah satunya nonylphenol ethoxylates (NPE) yang termasuk kelompok polutan organik tahan lama.

”NPE berbahaya karena tidak terurai, bisa terakumulasi dalam tubuh, dan beracun,” ujar Ashov.

Dalam laporan yang dirilis Greenpeace, berjudul Dirty Laundry, disebutkan bahwa produsen pakaian olahraga dari merek ternama di Indonesia kedapatan menggunakan NPE sebagai pelapis produk mereka. Apabila dicuci, komponen tersebut bisa luruh dan terbawa aliran air.

Aksi di tepian Sungai Citarum itu barulah awal dari perjuangan untuk mendapatkan air bersih bagi masyarakat. Jika itu terjadi, Indonesia tak perlu mengulangi siklus negara maju yang mengorbankan sungainya untuk kepentingan industri kemudian merogoh dana yang besar untuk memperbaikinya. Ashov mengatakan, industri bersih dan ramah lingkungan bukan fantasi.

(Didit Putra Erlangga Rahardjo)


Editor :