Selasa, 25 November 2014

News / Lansir

Gentong Buku di Hindia-Belanda

Senin, 26 Maret 2012 | 11:31 WIB

ORANG Belanda suka membaca. Di mana-mana perpustakaan ramai dikunjungi. Hampir semua orang berlangganan dan membaca koran; kalau pun ada yang tak mau membeli koran, pemerintah daerah setiap tempat membagikan koran lokal secara cuma-cuma.

Toko buku berkembang marak; mereka bahkan menyediakan boekenbon yaitu kartu kupon seharga 5 Euro, 10 Euro, atau terserah berapa Euro. Kartu kupon itu dapat dibeli dan diberikan kepada seseorang sebagai hadiah. Dengan cara itu, setiap orang yang menerima hadiah `buku' dapat memilih sendiri buku yang diinginkannya, sesuai selera.

Ini tidak berarti bahwa tak ada orang yang buta aksara. Di Belanda terdapat 1,5 juta (13 persen) orang yang dianggap buta aksara. Di antara satu setengah juta orang ini terdapat orang-orang yang dapat membaca dan menulis sedikit saja, namun kemampuan itu tidak memadai untuk membaca dan memahami sebuah buku bacaan sederhana.

Sejuta di antaranya adalah orang Belanda asli dan setengah juta lagi adalah imigran. Gejala buta aksara itu ditemui pada lapisan masyarakat dengan pendidikan dan pendapatan yang rendah. Biasanya mereka berusia 56 tahun ke atas. Aneh memang. Seringkali ada asumsi bahwa di setiap negara yang (dianggap) maju, analfabetisme sudah dapat diberantas sampai ke akar-akarnya. Nyatanya tidak.

Sampai akhir abad ke-11, hampir semua bentuk kesusasteraan di Eropa, termasuk di Negeri Belanda, merupakan sastra lisan berbentuk puisi. Puisi-puisi itu itu mudah dihafal dan divokalisasikan oleh para penyanyi dan pengamen. Seniman-seniman itu dipanggil sebagai penghibur di rumah orang-orang kaya atau di tempat-tempat umum. Selain puisi-puisi yang ditulis dalam bahasa Belanda (kuno), juga ada naskah-naskah ilmiah dan keagamaan. Kedua jenis naskah itu ditulis dalam Bahasa Latin.

Mulai abad ke-12, muncul cerita-cerita kepahlawanan yang ditulis untuk dan dipesan oleh para bangsawan.
Walaupun sampai sekarang masih ada saja orang yang tidak dapat membaca dan menulis di Negeri Belanda, ketika mereka tiba di Nusantara, budaya membaca sudah mulai berkembang.

Saya belum menemukan tulisan mengenai budaya membaca dalam dua abad pertama kedatangan Belanda di negeri kita, namun pada tahun 1916, seorang wartawati bernama Beata van Helsdingen-Schoevers menulis tentang leestrommels (kotak bacaan) di Batavia (lihat Gerard Termorshuizen, "Realisten en Reactionairen: een Geschiedenis van de Indisch-Nederlandse Pers 1905-1942". Leiden: KITLV, 2011).

Menurut Beata van Helsdingen-Schoevers, membaca sangat digemari di Hindia-Belanda. Di Hampir setiap rumah menyimpan leestrommel di salah satu sudut ruang makannya. Kalau diterjemahkan leestrommel itu secara harfiah berarti gentong bacaan. Namun, rupanya wadah penyimpan bacaan itu sebetulnya acapkali berupa kotak kayu yang berukuran cukup besar. Sekitar tahun 1930an wadah yang terbuat dari kayu sudah banyak digantikan dengan wadah yang terbuat dari blik (seng).


frieda.amran@yahoo.com (anggota Asosiasi Antropologi Indonesia)

 


Editor : Pingkan