Senin, 22 Desember 2014

News / Nasional

SBY: Saya dan Keluarga Diancam

Minggu, 18 Maret 2012 | 22:09 WIB

BOGOR, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono kembali mengungkapkan curahan hatinya bahwa dirinya kerap menjadi sasaran tembak. SBY, yang juga Ketua Dewan Pembina Partai Demokrat, mengatakan, banyak masyarakat yang mencaci makinya melalui pesan singkat yang dikirim ke Ibu Negara Ani Yudhoyono.

"Bahkan, ada yang mengancam keselamatan saya dan keluarga. Ada yang ingin menjatuhkan saya di jalan," kata SBY di hadapan para kader Partai Demokrat di kediamannya di Puri Cikeas, Gunung Putri, Bogor, Minggu (18/3/2012).

Turut hadir pada pertemuan tersebut, antara lain, Wakil Ketua Dewan Pembina PD Marzuki Alie, Ketua Umum DPP PD Anas Urbaningrum, Sekretaris Jenderal PD Edhie Baskoro, dan lainnya.

Presiden juga sempat curhat bahwa dirinya pernah diejek dan dihabisi oleh pers dan lawan politik pada 2005. Saat itu, sambungnya, dirinya dianggap ragu-ragu ketika hendak mengambil keputusan menaikkan harga bahan bakar minyak. "Saya diejek dan dihabisi pers, politisi. Saya dikatakan ragu-ragu. Saya katakan, saya bukan ragu-ragu, tapi saya harus menghitung cermat berapa kenaikan BBM. Kalau naik, apa yang bisa pemerintah bantu. Saya juga berasal dari rakyat miskin," kata Presiden.

SBY mengatakan, tak ada Presiden yang dengan senang hati menaikkan harga BBM. SBY sempat mencontohkan beberapa Presiden yang juga pernah menaikkan harga BBM, yakni Presiden ke-1 RI Soekarno, Presiden ke-2 RI Soeharto, dan Presiden ke-5 RI Megawati Soekarnoputri.

Presiden juga sempat menceritakan popularitasnya yang turun ketika menaikkan harga BBM pada 2008. Padahal, saat itu adalah satu tahun menjelang Pemilu 2009. Namun, sebagai kepala negara, sambungnya, dirinya harus berani mengambil risiko.

"Saudara-saudara, kalau saya ingin aman, Partai Demokrat tak ikut diserang, saya takkan naikkan BBM. Itu kalau saya menuruti subyektivitas. Tapi saudara-saudara, sebagai pemimpin, Presiden, saya harus ambil risiko. Dan, saya siap menghadapi tantangan. Yang penting niat saya baik, untuk menyelamatkan ekonomi kita, untuk kepentingan rakyat kita. Dan, tentunya segala sesuatu kita pikirkan masak-masak, termasuk mengatasi dampak dan memberikan bantuan kepada saudara kita yang memerlukan bantuan," kata Presiden.


Penulis: Hindra Liu
Editor : Erlangga Djumena