Selasa, 22 Mei 2012
Selamat Datang   |      |  
Kompas.com
Selasa, 22 Mei 2012 | 14:04 WIB
Mandeg, Regenerasi Kepemimpinan Nasional
Ilham Khoiri | Agus Mulyadi | Jumat, 24 Februari 2012 | 23:22 WIB
|
Share:

JAKARTA, KOMPAS.com - Munculnya nama-nama lama sebagai calon presiden untuk Pemilu 2014, menunjukkan, regenerasi elite kepemimpinan nasional selama ini mandeg alias tak berjalan dengan baik.

"Bangsa ini gagal melakukan regenerasi elite pemimpin nasional setelah Reformasi 1998," kata sejarawan JJ Rizal, di Jakarta, Jumat (24/2/2012).

Komentar itu didasarkan pada beberapa survei belakangan ini yang menunjukkan, calon-calon yang muncul untuk Pemilu Presien 2014 ternyata masih didominasi para tokoh lama. Mereka umumnya adalah para pemimpin partai politik, yang sebagian malah sudah pernah bertarung pada pemilu presiden tahun 2004 dan 2009.

JJ Rizal, yang juga menjadi Direktur Komunitas Bambu, menilai, regenerasi mandek akibat dicengkeram rezim Ode Baru selama lebih dari 32 tahun. Sebagian elite yang berkuasa sekarang adalah lapisan kedua dari elite rezim Orde Baru. Saat ini mereka menerima kekuasan dan berusaha mempertahankannya.

"Rotasi yang beredar masih berkisar pada orang-orang yang menjadi lingkaran kekuasaan tingkat kedua pada masa Orde Baru," kata Rizal.

Kemandegan ini bisa mendorong terjadinya involusi politik, yaitu politik bangsa ini bergerak secara prosedural, tapi tidak menghasilkan perubahan penting. Kita gagal mendorong reformasi politik yang bercita-cita merotasi sistem kekuasaan lama yang sudah dianggap tak mampu menampung aspirasi baru.

"Akibatnya, presiden boleh berganti-ganti lewat pemilu ke pemilu, tetapi bangsa ini masih jalan di tempat," ujarnya.

Untuk mengatasi hal itu, masyarakat perlu bersama-sama mendorong munculnya pemimpin alternatif. Jika memungkinkan, perlu didorong munculnya calon dari jalur independen, meski harus dengan mengubah konstitusi.

Partai politik diharapkan lebih terbuka untuk mencalonkan tokoh-tokoh di luar partai yang menjanjikan harapan perubahan.