JAKARTA, KOMPAS.com — Citra partai politik memang kian menurun di mata masyarakat belakangan ini, terutama karena banyak politisi tersangkut kasus korupsi.
Namun, jangan sampai partai politik (parpol) "dibunuh" karena menjadi pilar demokrasi. Parpol perlu diberi waktu untuk memperbaiki diri.
"Beri kesempatan kepada partai untuk memperbaiki diri," kata Ketua Dewan Pengurus Pusat Partai Amanat Nasional (DPP PAN) Bima Arya Sugiarto, di Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Bima Arya Sugiarto mengingatkan, bagaimanapun, parpol dibutuhkan sebagai pilar penting dalam sistem demokrasi. Jika parpol dihilangkan, proses demokrasi akan sulit tumbuh dengan sehat. Jika sekarang belum memenuhi harapan masyarakat, partai-partai itu harus melakukan perubahan dari dalam.
Untuk mengubah keadaan, perlu perbaikan para aktor, struktur, dan kultur dalam parpol. Perubahan aktor dilakukan menyegarkan kepemimpinan sehingga jajaran partai akan mengikuti semua. Kaderisasi dan perekrutan perlu diperbaiki.
Ini dilakukan bersamaan dengan perubahan sistem, dengan meminimalkan faktor uang. Caranya, tegakkan transparansi dana pemilu, batasi dana pemilu, dan buat mekanisme sangsi penggunaan dana politik yang melenceng. Sistem kepartaian juga perlu disederhanakan.
"Masih ada harapan partai akan memperbaiki dirinya. Kalau semua digenjot, kondisinya mungkin akan membaik setelah dua kali pemilu lagi," katanya.


