KOMPAS/RIZA FATHONIPresiden Susilo Bambang Yudhoyono
JAKARTA, KOMPAS.com — Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menegaskan, diplomat Indonesia tak boleh memiliki rasa minder, terlebih terhadap diplomat yang berasal dari negara Asia Tenggara. Sebaliknya, diplomat Indonesia harus memiliki mentalitas dan kerangka berpikir sebuah negara berkembang.
Ada banyak hal yang patut disyukuri dari Indonesia. Indonesia telah menjadi kekuatan regional. Indonesia, yang juga anggota G-20, berhasil melewati krisis ekonomi pada 2008 dan 2011. Ketika berbagai negara-negara lain mengalami krisis politik, demokrasi di Indonesia justru semakin mekar dan matang. Bahkan, Indonesia berhasil menjadi tuan rumah ASEAN Summit hingga East Asia Summit 2011 di Bali pada November 2011. Sejumlah pemimpin negara hadir, termasuk Presiden AS Barack Obama.
"Ini tentu harus kita jadikan kapital bagi peningkatan confident. Dengan can-do spirit, saya yakin kita bisa mencetak prestasi di masa depan. Dengan sejumlah capaian itu, kita tak boleh minder. Diplomat Indonesia tak boleh minder terhadap diplomat bangsa lain, apalagi (diplomat) negara-negara ASEAN," kata Presiden ketika memberikan arahan kepada 130 duta besar, konsul jenderal, dan kuasa usaha ad interim pada acara Rapat Kerja 2012 Kementerian Luar Negeri di Kemlu, Jakarta, Kamis (23/2/2012).
Selain itu, Kepala Negara juga meminta para perwakilan RI di luar negeri untuk menjadi diplomat yang berorientasi pada prestasi. Ketika ada perjanjian, kesepakatan, dan nota kesepahaman yang berkaitan dengan tugasnya, Presiden meminta mereka menjalankannya.
"Saya juga ingin mulai tahun ini, ada laporan kinerja dari para duta besar. Cukup lima halaman. Tembuskan ke Wakil Presiden, Menteri Luar Negeri, dan UKP4. Tulis apa adanya, what you have achieved. Tentu kita akan kroscek nanti," kata Presiden.

