JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Pembina Partai Demokrat, Syariefuddin Hasan, mengatakan, bukti-bukti suap yang dibeberkan sejumlah kader, terkait pemenangan Anas Urbaningrum sebagai Ketua Umum Demokrat pada Kongres II di Bandung pada tahun 2010, tak kuat. Saat ini, Komisi Pengawas Internal partai pemenang Pemilu 2009 ini masih terus bekerja mengumpulkan bukti-bukti.
"Kalau buktinya tidak lengkap, kan susah untuk ditindaklanjuti," kata Syarief, yang juga Menteri Koperasi dan UKM, kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (22/2/2012).
Sebelumnya, mantan Ketua Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat Kabupaten Minahasa Tenggara, Sulawesi Utara, Diana Maringka, mengaku menerima uang sebesar Rp 100 juta dari tim sukses Anas. Selain Diana, ada 11 pengurus Dewan Pimpinan Cabang Partai Demokrat (DPC Partai Demokrat) di Sulawesi Utara (Sulut) menerima dana untuk pemenangan Anas. Uang itu diterima bertahap. Hari pertama Rp 30 juta. Sisanya, 7.000 dollar AS, diserahkan tiga jam menjelang pemilihan ketua umum Demokrat.
Syarief mengimbau para kader yang mengaku menerima suap dari kubu Anas tak "berteriak" di media. Mantan Ketua Fraksi Demokrat di DPR ini meminta mereka segera melaporkan hal ini kepada dewan pengawas. Ia mengungkapkan, tak ada sanksi bagi para kader yang melaporkan adanya dugaan suap yang terjadi pada Kongres II Demokrat di Bandung.
Syarief juga mengatakan, dirinya tak yakin ada politik uang pada Kongres II Demokrat. Namun, ia mengakui, ada calon ketua yang memberikan uang pengganti transportasi dan penginapan kepada ketua DPC dan DPD Partai Demokrat. Kendati demikian, sambung Syarief, hal tersebut tak bisa dikategorikan sebagai politik uang.

