KOMPAS/RIZA FATHONIPresiden Susilo Bambang Yudhoyono
JAKARTA, KOMPAS.com - Istana Kepresidenan kecewa dengan komentar sejumlah pengamat bahwa diskusi antara Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dengan jurnalis Istana Kepresidenan hanyalah sebuah rekaan. Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha mengatakan, Istana Kepresidenan tak terlibat terkait substansi pertanyaan yang diajukan para wartawan.
"Saya tidak mencampuri sama sekali. Pertanyaan itu murni datang dari para wartawan. Apa yang menjadi perhatian publik, apa yang menjadi perhatian wartawan, langsung mendapat respons dari Presiden," kata Julian kepada para wartawan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (14/2/2012).
Namun, Julian tak menyangkal bahwa Istana Kepresidenan memiliki keterbatasan waktu. Maka itu, dirinya meminta para wartawan tertib dalam menyampaikan pertanyaan. Pengaturan penanya semata-mata dilakukan demi kelancaran dan ketertiban acara. "Ketertiban itu harus. Kita bukan mengadakan dialog di warung kopi atau sejenis itu. Pertanyaan ini kan ditanyakan kepada Presiden RI, tentu perlu etika dan ketertiban serta keteraturan acara," katanya.
Rencana silaturahim atau dialog Presiden dengan wartawan Istana Kepresidenan telah disiapkan sejak dua pekan silam. Saat itu, para wartawan diminta untuk mengajukan pertanyaan secara tertulis kepada Julian. Maka, puluhan wartawan pun mengajukan pertanyaan. Pertanyaan pun beragam, mulai dari kasus dugaan suap wisma atlet SEA Games, kisruh Partai Demokrat, kebijakan pengalihan bahan bakar minyak ke gas, hasil audit forensik Bank Century, pemberantasan korupsi, hingga soal piramida Garut dan PSSI. Tak kurang 66 butir pertanyaan diajukan oleh wartawan, baik media cetak cetak, online, elektronik, dan asing.
Julian meneruskan pertanyaan-pertanyaan ini kepada Presiden. Ia mengatakan, Presiden membaca semua pertanyaan yang diajukan para 25 wartawan. Selang beberapa hari kemudian, Julian mengatakan, Presiden hanya memiliki waktu sekitar satu jam dan berkenan menerima pertanyaan dari 10 wartawan.
Karena keterbatasan waktu, akhirnya para wartawan berembuk untuk menentukan 10 topik prioritas. Ke-66 pertanyaan tersebut kemudian dikelompokkan dan dikerucutkan per topik. Demi asas keadilan, wartawan Istana menunjuk 10 perwakilan wartawan yang mewakili kalangan wartawan cetak, online, televisi, radio, dan media asing.
Tak hanya itu, keseimbangan jender pun diperhatikan. Setiap wartawan mengajukan satu topik pertanyaan. Pertanyaan yang diajukan merupakan hasil diskusi sebagian wartawan yang hadir pada Senin (13/2/2012).
Sesaat sebelum dialog dimulai, Julian sempat berbicara dengan jurnalis yang hendak menanyakan dugaan keterlibatan sejumlah politisi Partai Demokrat, termasuk Sekretaris Jenderal PD Edhie Baskoro, putra bungsu Yudhoyono. Julian meminta jurnalis itu untuk tidak menyebut nama maupun jabatan secara langsung. Mantan Wakil Dekan FISIP UI ini mengatakan, jika wartawan tersebut tak bersedia, maka dirinya tak dapat memberikan kesempatan bertanya.
Dialog antara Presiden dengan jurnalis Istana Kepresidenan sedianya dijadwalkan berlangsung Senin, 6 Februari 2012. Acara ini sempat diundur lagi hingga Jumat, 10 Februari 2012. Akhirnya, acara dipastikan digelar pada Senin kemarin.

