Jumat, 25 April 2014

News / Travel

Brrrr... Musim Dingin yang Mematikan!

Senin, 13 Februari 2012 | 17:22 WIB

Baca juga

KOMPAS.com - Tahun ini musim dingin yang datang membuat banyak negara kalang kabut! Tak disangka, hawa beku di bawah suhu udara normal di musim ini membuat masyarakat diserang kepanikan. Badai salju yang menerjang beberapa negara Eropa memakan banyak korban jiwa.

Di Perancis, acara olah raga di lapangan terbuka yang telah diprogramkan jauh sebelumnya terpaksa banyak yang dibatalkan, akibat lahan yang tak memungkinkan bagi para atlet untuk melakukan pertandingan. Membuat penonton kesal karena telah membeli tiket, meluangkan waktu untuk sebuah tontonan olah raga. Sekolah-sekolah mulai ditutup. Pasalnya, kendaraan tak memungkinkan melewati jalur lalu lintas yang tertutup oleh tumpukan salju. Lebih parah saat tumpukan putih tersebut menjadi es membuat roda kendaraan tergelincir, berbahaya sekali karena bisa mengakibatkan kecelakaan.

Tahun ini musim dingin, suhu udara dan badainya datang diluar perkiraan. Padahal baru saja, saya dan keluarga menghabiskan akhir tahun di pegunungan Pyrénées. Bulan Desember itu, kami yang berniat bermain salju, harus mencari hingga ke puncak gunung. Karena daerah sekitarnya, saljunya hanya beberapa gumpal, bahkan banyak yang mencair. Boro-boro bisa untuk dipakai sebagai permainan lempar salju. Setelah mencari hingga stasiun ski, barulah terlihat berlimpah! Enak sekali digunakan bagi mereka yang ingin bermain di atas tumpukan es dengan papan ski-nya atau papan luncur seperti keinginan kami sekeluarga.

Siapa yang sangka sebulan kemudian udara dingin datang tak ramah. Dadakan kalau saya bilang. Karena seminggu sebelumnya, meskipun hawa menggigit datang di pagi hari, namun matahari tetap bersinar ramah. Masih dapat menikmati kehangatannya, tanpa harus gemetar bagaikan meriang.

Saya yang tinggal di Perancis selatan, Montpellier, baru kali ini setelah dua belas tahun menjadi penduduk di sini, merasakan terpaan dingin dalam jangka waktu cukup lama. Sudah dua minggu, suhu udara di pagi hari antara minus 5 hingga minus 10. Dan siang hari tak lebih dari 2 derajat celcius.

Hanya beberapa hari saya merasakan suhu 5 derajat celcius, itupun langsung cepat merosot menuju nol.  Suhu yang membuat kulit kering dan pipi memerah karena terpaan hawa dingin, bagi sebagian masyarakat di belahan Perancis lainnya sudah jadi bagian kehidupan setiap tahunnya di musim dingin. Tapi tidak bagi kami, yang berada di Perancis selatan.

Jadi bisa dibayangkan mereka yang tinggal di bagian utara dan bagian yang berlangganan dengan salju, situasi cuacanya! Selama lebih dari dua minggu, misalnya di belahan utara Perancis, hawa yang harus diterima hingga minus 17! Tapi yang menjadi heboh adalah, beberapa daerah yang tak biasa terserang badai salju, terkena juga.  Penduduk yang biasa dengan kedatangan salju, mereka biasanya memiliki perlengkapan lengkap, khususnya untuk kendaraan, yaitu ban khusus di salju.

Nah, daerah yang kedatangan Si Putih hanya kadang-kadang, itu pun biasanya langsung meleleh ketika turun, tiba-tiba terserang badai salju, yang membuat geger penduduknya hingga menyebabkan banyaknya terjadi kecelakaan lalu lintas. Jalanan yang licin, membuat ban tergelincir dengan mudahnya. Pengemudi tak terbiasa menjadi panik, kecelakaan lah yang menunggu.

Pemerintah Perancis, memberikan tanda waspada kepada masyarakatnya akan adanya bahaya dari badai salju yang menyerang di daerah mana saja. Bahkan memblokir jalanan agar kendaraan beroda tak melintasi. Para manula yang hidup sendiri atau pasangan namun diperkirakan tak memungkinkan dibiarkan sendiri dengan cuaca buruk ini, terpaksa diungsikan.

Sayangnya, orang Perancis terbiasa mandiri, hingga banyak yang menolak meninggalkan kediaman mereka, dan hal ini tak bisa dipaksakan. Namun banyak juga, orang yang tak lagi memiliki tempat tinggal, karena kehilangan pekerjaan, terpaksa tidur di mobil mereka, mencoba menghangatkan badan dengan segala cara, agar tubuh tak menjadi biru membeku.

Begitu pun bagi para gelandangan, mereka yang terbiasa tidur di jalan, harus segera diungsikan ke tempat penampungan. Paling tidak memberikan makanan hangat, jika mereka menolak diangkut atau saat tempat penampungan penuh. Hal seperti inilah yang menyebabkan banyaknya, manusia mati kedinginan. Tragis memang…

Sisi lain yang juga memprihatinkan adalah melihat berita di media, bagaimana, beberapa daerah penduduknya terpaksa hidup tanpa listrik ! Hawa dingin membuat banyak kabel saluran listrik di bawah tanah yang membeku. Melihat bagaimana masyarakat mencoba memanaskan tubuh dengan baju berlapis dan selimut tebal, karena tak adanya alat pemanas, padahal suhu udara dibawah nol. Rupanya, akibat hawa dingin membeku ini, Perancis memecahkan rekor dalam penggunaan listrik dalam sehari yaitu 101.700 megawatts!

Maka, saya yang berada di Montpellier, yang setiap keluar pintu, langsung pipi terasa perih oleh siletan udara menggigit. Namun sangat bersyukur karena masih bisa keluar melakukan aktivitas. Bahkan saat semua media dan pemerintah mengumumkan tanda bahaya agar penduduk di beberapa daerah berhati-hati, saya masih bisa selama seminggu itu menjalankan tugas liputan. Meskipun cipratan salju membuat tangan ini menggenggam erat stir kemudi, karena menyetir dengan terpaan salju, bukanlah hal yang mudah.

Sebenarnya salju itu indah. Butiran yang turun bagaikan kapas, begitu ringan, putih dan halus. Gumpalan yang banyak membuat tumpukan seolah karpet putih, terlihat bersih, seolah kain putih terbentang, dengan kapas menempel di pepohonan. Saat berjalan di atas salju, juga merupakan sensasi tersendiri.

Bunyi "krek-krek..." dari langkah kaki yang terbenam dalam salju mengingatkan kita pada es serut. Bila melihat gunung ditutupi oleh Si Putih yang terbayang adalah tumpukan serutan es dalam mangkok yang menunggu dituangi sirup pandan merah.

Saat badai salju berhenti bertiup, sebuah pemandangan memukau yang tersisa. Serba putih! Jalanan menjadi putih oleh salju, danau bagaikan sebuah lapangan kapas membeku, pepohonan terlihat cantik sekali dengan gumpalan putih, bagaikan didekorasi.

Yang menawan adalah, saat saya dan sekeluarga, mencoba mendatangi daerah tak jauh dari kota kami, dimana sebuah padang yang selalu terlihat coklat oleh tanah, menjadi dataran putih, dengan sebuah rumah tua tak berpenghuni di tengahnya. Bagaikan sebuah lukisan.

Asyiknya bermain papan luncur

Bagi saya yang tak terlalu diusik oleh salju karena daerah kami di selatan bersuhu lebih hangat dibandingkan daerah lainnya di Perancis, bertemu salju selalu merupakan pertemuan yang unik. Bukan hanya saya saja yang bertingkah seperti itu. Namun, memang kebanyakan mereka yang tak disinggahi Si Putih secara rutin dibuat girang bila salju turun. Ingin menikmati sebisa mungkin, karena tak bertahan lama.

Bila ingin lebih lama menikmatinya tentu saja, yang paling aman dengan mendatangi pegunungan yang menyediakan sarana olah raga salju. Seperti ski dan papan luncur. Hal itulah yang kami pilih saat menikmati liburan bersama keluarga. Mendatangi gunung, tempat di mana, sarana meluncur di atas salju tersedia.

Font Romeu, yang berada di pegunungan Pyrénées yang kami pilih kali itu. Pertama mendatangi tempat itu saat Adam, anak sulung kami berusia dua tahun, saat itu kami datang menginap selama seminggu, sekalian merayakan ulang tahun baginya. Kali ini, kami kembali sembilan tahun kemudian, untuk menikmati berempat.

Si kecil Bazile yang belum berusia empat tahun, masih terlalu kecil untuk berada di atas papan ski. Berpisah menikmati salju antara kami agar, Adam bisa meluncur dari ketinggian dengan ski-nya menjadi tanda tanya bagi kami. Karena tak asyik juga liburan jadi terpisah. Jadilah, kami memutuskan kali ini, benar-benar menikmati salju sekeluarga dengan bersenang-senang meluncur di atas papan luncur.

Font Romeu, sebuah stasiun ski kekeluargaan, menurut saya, tak terlalu besar tetapi fasilitas lengkap. Kebanyakan yang datang ke tempat ini, mereka yang berkeluarga. Suasana kekeluargaan ini yang membuat nyaman bagi pengunjung. Dan yang menyenangkan terdapat hingga dua tempat khusus untuk papan luncur, bahkan tersedia untuk balita.

Berhubung kami datang dari liburan di Spanyol, maka perlengkapan papan luncur atau ski memang tak kami bawa. Karena di setiap stasiun ski, selalu tersedia sarana penyewaan. Hanya soal pakaian dan sepatu khusus untuk salju, memang sudah kami persiapkan sebelumnya. Bermain salju, sebaiknya menggunakan pakaian dan sepatu khusus. Selain menahan dingin lebih baik, juga karena kedap air, hingga mau tubuh ini berguling-guling dalam gumpalan salju, badan tetap kering!

Jangan lupa, sarung tangan juga merupakan hal yang penting. Tentu saja sarung tangan pun khusus untuk salju, kedap air. Karena kalau tidak, tangan kita bisa membeku, sakit sekali jika kulit tangan kedinginan. Kepala pun sebaiknya dilindungi, kali itu saya kelupaan bawa penutup kepala, hanya penutup kuping saja. Hasilnya, usai bermain salju, rambut saya keras! Rupanya selama meluncur, cipratan es mengenai rambut saya, dan langsung membeku, bagaikan es, membuat rambut saya jadi ikutan menjadi es! Halah… nasib... nasib!

Berbicara soal papan luncur, mungkin bagi yang belum mengenalnya akan berpikir, apakah asyik dilakukan? Tentu saja! Bukan cuma asyik tapi juga seru! Bermain papan luncur, yaitu pertama tentu saja harus memiliki papan luncur, bisa membelinya dari mulai harga 15 euros hingga kurang dari 100 euros. Tergantung modelnya, rata-rata yang baik dan bisa dipakai untuk dua orang, berkisar sekitar 20 euros. Modelnya mulai untuk bayi, hingga dewasa. Bila malas repot, bisa langsung menyewa di tempat. Biasanya biaya sewa sekitar 5 hingga 10 euros untuk satu hari, praktis kan?

Bermain papan luncur, harus kuat kaki pada awalnya karena untuk meluncur tentu saja dari ketinggian. Nah, mencapai ketinggian ini, dua kaki harus kuat menanjak! Bagi para bapak, otot tangan juga dibutuhkan, karena mereka yang memiliki anak kecil, layaknya kami, masih sulit menanjak dengan kaki kecil mereka. Jadilah, tubuh mungil mereka, duduk manis dalam papan luncur, sambil sang ayah, menarik papan tersebut hingga puncak. Tentu saja, para ibu yang merasa kuat boleh juga membantu suami yang mungkin sudah terengah-engah karena bolak balik, kerja bakti, mengangkut sang buah hati.

Setelah sampai di puncak, carilah yang agak rata, papan diletakkan, kaki dilonjorkan, bagi orang dewasa, harus ditekuk, dan anak kecil wajib berada di depan. Karena yang di belakanglah yang mengemudikan papan luncur. Iya, jangan salah, papan ini harus dikemudikan, salah mengarahkan bisa-bisa menabrak orang, atau terguling!!

Setelah semuanya dirasa baik, dan jantung sudah siap untuk dipompa kencang, rem papan luncur segera dibebaskan, dan……..ssssssrrrrrtttttttttzzzzz..... meluncurlah papan licin tersebut di atas salju dengan kencang, menukik turun, membuat adrenalin melonjak, mulut menjerit, sambil tangan harus lihai mengendalikan arah meluncurnya si papan. Seru kan?

Yang paling heboh adalah saat papan meluncur dengan kencang tiba-tiba ada orang yang melintas, bikin kita panik, membuat tangan mengerem mendadak. Kadang berhasil, tapi seringnya bikin papan jadi berputar, tergelincir, membuat penumpangnya terjatuh dan terguling. Seram? tentu saja tidak. Rata-rata aman kok, malah hal seperti itu yang membuat kita jadi terpingkal-pingkal. Karena stasiun untuk papan luncur, tak securam turunnya layaknya untuk ski.

Saya, sudah terbiasa, terpental dari papan luncur karena panik. Memang pada dasarnya saya ini panikan, jadi melihat manusia di depan rasanya sudah main langsung rem, jadilah saya berakrobatik ria depan para pengunjung. Banyak yang tertawa geli, ada juga yang mencoba menahan diri, mungkin khawatir tersinggung. Tapi, bagi saya itu bagian dari permainan papan luncur, menyenangkan, seru dan menegangkan.

Itulah salju, sifatnya bersahabat namun bisa juga menjadi musuh. Melihat sekilas, Si Putih turun dari langit, bagaikan magic! Butiran kecil yang terbang tersapu angin, seolah tak berdosa, bahkan mempercantik alam. Namun saat gumpalan kecil tersebut menjadi lebat, seolah datang menyerang, membuat luka. Butiran polos putih yang bersatu menjadi bola hasil kepalan, dilempar sebagai permainan yakni perang bola salju. Membuat kita tertawa girang, melihat orang yang kita lempari terkena sasaran, dan dengan segera kabur karena orang tersebut telah bersiap melakukan aksi yang sama. Namun saat gumpalan tersebut menjadi bola raksasa karena kekuatan alam, tak lagi membuat tawa, melainkan tangisan, karena memakan korban.

Musim adalah bagian alam. Saat datang dengan ramah, manusia bersuka cita. Ketika hadir diluar perkiraan, membuat orang berang. Saya yang sejak lahir terbiasa disuguhkan dengan suhu yang hampir sama di Indonesia, kini setelah dua belas tahun hidup di negara empat musim, menjadi saksi bagaimana alam ciptaan Tuhan, bercerita kepada manusia. Bila musim dingin kali ini begitu menggigit, mungkin memang saatnya alam mendinginkan suhu tubuhnya, setelah beberapa waktu disengat hawa panas. Apakah manusia tak terlalu ramah lagi merawat kecantikan buminya? Entahlah… (DINI KUSMANA MASSABUAU)


Editor : I Made Asdhiana