Jumat, 28 Agustus 2015

Nasional

Fenomena Dangdut Koplo dan Musik Jaranan

Senin, 13 Februari 2012 | 10:27 WIB

MALANG, KOMPAS.com- Musik dangdut koplo, yang mengiringi lagu yang sedang populer Iwak Peyek (dipopulerkan lagi oleh Trio Macan) atau Alamat Palsu (dinyanyikan Ayu Ting Ting) didasarkan terutama oleh musik tradisional pengiring tari jaranan.

Tari jaranan populer di Jawa Timur sebagai kesenian rakyat, kombinasi dari musik yang dinamis dengan pukulan kendang menghentak-hentak. Ini adalah ciri bentuk pertunjukan rakyat yang langsung berhadapan dengan massa penonton, dan karenanya harus terus menerus mempertahankan daya tarik dengan musik yang menghentak membangkitkan semangat.

Budayawan yang juga Ketua Dewan Kesenian Kabupaten Malang dan Guru Besar Studi Kebudayaan Universitas Negeri Surabaya (Unesa) Prof (emeritus) Dr Henricus Supriyanto menjelaskan itu, Minggu (12/2/2012) kemarin.

Kemunculan lagu dangdut koplo sebagai gejala sosial ditunjukkan oleh semaraknya pertunjukan panggungnya, penjualan VCD album dan VCD show yang amat laris, meski banyak darinya tidak bersifat legal, bisa disimpulkan sebagai bentuk perlawanan terhadap budaya global.

"Masyarakat jenuh dan bosan dengan globalitas yang menekan, dan ingin lari pada lokalitas yang ringan, rileks, dan tidak menuntut. Maka terjawablah," katanya.

Dangdut koplo tak akan bisa hidup tanpa dukungan konstituen penggemarnya. Menurut Prof Henri, ini menjadi titik balik dari proses matinya berbagai kesenian rakyat atau kesenian tradisi. Sastra jawa berangsur hilang, demikian pula teater rakyat seperti ludruk juga berangsur hilang atau bisa disebut mati, namun sebaliknya muncul dangdut jenis baru sekitar 7-10 tahun terakhir dalam bentuk gabungan antara dangdut dan musik jaranan.

Penjelasan yang sama bisa diberikan misalnya pada semaraknya OVJ, Opera Van Java di televisi yang ratingnya tinggi. Unsur tontonan OVJ, menurut dia, didasarkan dari teater kentrung.

Jaranan sendiri sejenis tarian tradisional yang lebih ringkas padat, memenuhi selera masyarakat yang memerlukan semua bentuk budaya instan. "Jaranan adalah kombinasi tari dan teater, yang menceritakan tari perburuan celeng (diperankan oleh penari yang menunggang properti tari celeng dari bahan bambu) oleh pemburu naik kuda (jaran = kuda)," katanya.

Jaranan konon bisa dikaitkan dengan relijiusitas Jawa sebagai ajaran sedulur papat limo pancer (saudara empat dan yang kelima di tengah adalah diri sendiri), menggambarkan bagaimana manusia dalam dirinya harus mengendalikan empat jenis nafsu yang dianalogikan tarian celeng (babi hutan).

Di beberapa bagian Jawa Timur, warna properti tari babi hutan itu empat macam, kuning, putih, merah, dan hitam, meski di bagian Jawa Timur lain warnanya hanya hitam. Jaranan tumbuh, kata Henri, terutama pada komunitas masyarakat abangan. Itu menjelaskan, kenapa musik dangdut koplo bisa demikian adaptif terhadap aksi panggung yang seronok, isi syair yang serba berani, kritis, dan seringkali menerabas tatanan umum.

"Saya kira tak perlu kita soalkan moralitasnya, karena pada masyarakat selalu harus ada cara untuk escaping from routine life (lari dari kehidupan yang rutin dan membosankan). Lalu kemana perginya, tentunya di tempat-tempat tontonan dangdut koplo seperti nonton Iwak Peyek, atau Alamat Palsu," kata Henri.

Penulis: Doddy Wisnu Pribadi
Editor : Marcus Suprihadi