REPRO METROTVHatta Ali, Ketua MA yang baru
PAREPARE, KOMPAS.com — Terpilihnya Hatta Ali sebagai Ketua Mahkamah Agung setelah meraih suara mayoritas dalam pemilihan Ketua MA, Rabu (8/2/2012), dinilai keluarga besarnya di Kota Parepare, Sulawesi Selatan, sebagai amanah yang harus dijalankan. Jabatan Ketua MA yang dipangku Hatta dipandang rentan godaan, utamanya suap dan kecurangan.
"Menjalankan tanggung jawab sebagai Ketua MA tentu bukan hal yang mudah. Namun, jika jabatan yang diemban dijalankan dengan konsisten dan penuh amanah, kami yakin adik kami mampu melaksanakan tugasnya secara bijaksana," kata H Ridha Ali, kakak kandung Hatta Ali kepada Kompas.com, Rabu (8/2/2012).
Banyaknya kasus yang menyeret dan mencoreng citra para hakim, kata Ridha, harus menjadi pelajaran bagi Hatta dalam menjalankan tugas barunya selaku Ketua MA. Peristiwa tertangkapnya Syarifuddin Umar, hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat nonaktif yang terseret kasus suap, kata Ridha Ali, menjadi cerminan betapa kuatnya godaan yang mengancam para penegak hukum. Sekadar diketahui, Syarifuddin Umar adalah putra Parepare, kota yang sama tempat kelahiran Hatta Ali.
"Kami tentu berharap Hatta bisa mengembalikan citra konsitusinya dan membuktikan kalau dia mampu menjadi macan keadilan," katanya.
Keluarga besar Hatta Ali di parepare, kata Ridha, berpesan kepada bungsu dari 10 bersaudara tersebut agar dalam menjalankan tugasnya tetap konsisten dengan amanah yang diembannya. "Jadilah pelayan keadilan yang adil bagi masyarakat. Tegas dan beranilah untuk mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah," tuturnya.
Hatta Ali terpilih menjadi Ketua Mahkamah Agung menggantikan Harifin Andi Tumpa dalam pemilihan suara, Rabu. Dalam pemilihan yang diikuti 54 hakim agung, Hatta mendapat 28 suara diikuti Ahmad Kamil 15 suara. Adapun Abdul Kadir Mappong memperoleh 4 suara, Paulus L Tulung 1 suara, dan M Saleh 3 suara, sedangkan 3 suara tidak sah.

