KOMPAS/PRIYOMBODOSukardi Rinakit.
Oleh Sukardi Rinakit, Peneliti Senior Soegeng Sarjadi Syndicate
Sore itu, sahabat muda yang duduk tenang di depan saya dengan keyakinan penuh memberikan kesimpulan mengenai keadaan Indonesia saat ini. Katanya, ”Situasi Tanah Air yang amburadul sekarang ini disebabkan oleh absennya penerapan darma satria oleh para pemimpin kita.”
Dia lalu mengutip prinsip kepemimpinan yang dijunjung oleh Sultan Hamengku Buwono X, yaitu seorang pemimpin harus menjalankan darmanya sebagai seorang kesatria dengan cara mengabdi untuk kesejahteraan rakyat, tidak berambisi kecuali untuk kesejahteraan rakyat, berani mengatakan yang benar itu benar dan salah itu salah, serta memanusiakan manusia atas dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Saat ini sulit sekali mencari pemimpin seperti itu, katanya.
Saya tertegun mendengarnya. Karena saya sekarang sedang menelusuri tlatah Banyumas, ingatan otomatis terseret ke sosok Rustriningsih yang kini menjadi Wakil Gubernur Jawa Tengah. Dia pernah menyatakan bahwa kekuasaan pada dasarnya bukan sekadar urusan otoritas, melainkan humanitas. Itulah ekspresi terdalam darma satria, seperti yang juga dipegang teguh Jenderal Sudirman.
Pembelahan perspektif
Secara obyektif, situasi politik saat ini diwarnai perdebatan di antara dua kelompok yang secara diametral bertentangan. Kelompok optimistis, yaitu para pendukung pemerintah, tidak ada yang ragu akan masa depan Indonesia untuk segera menjadi adidaya. Dengan produk domestik bruto (PDB) mencapai hampir 1.000 miliar dollar Amerika Serikat sekarang, posisi Indonesia ada di urutan ke-16 dalam kelompok negara-negara G-20. Jika besaran PDB tersebut meningkat, misalnya mencapai 1.300 miliar dollar AS, pintu sebagai negara adidaya telah terbuka.
Mereka juga berargumen bahwa situasi gaduh yang terjadi beberapa tahun terakhir ini pada prinsipnya merupakan bagian dari..............(selengkapnya baca Harian Kompas, Selasa 7 Februari 2012, halaman 15)

