KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTOPramono Anung.
JAKARTA, KOMPAS.com — Politisi senior Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Pramono Anung, menilai, tingginya dukungan publik terhadap PDI-P saat ini bisa berubah cepat jika ada kader PDI-P tersangkut kasus. Untuk itu, Pramono meminta agar kader menjaga dukungan publik hingga Pemilu 2014.
”Bagaimana menjaga konsistensi. Yang paling penting jangan kemudian ada peristiwa yang bisa menurunkan secara signifikan suara partai,” kata Pramono di Kompleks DPR, Senin (6/2/2012).
Pramono dimintai tanggapan hasil jajak pendapat terakhir Lingkaran Survei Indonesia bulan Januari-Februari 2012. PDI-P berada di posisi kedua dengan 14,2 persen dukungan. Angka itu di atas Partai Demokrat dengan 13,7 persen dukungan. Posisi pertama ditempati Partai Golkar dengan 18,9 persen dukungan.
Pramono mengatakan, pihaknya mempunyai pengalaman buruk ketika Pemilu 2009. Sebelum pemilu, kata dia, dukungan publik terhadap PDI-P paling tinggi berdasarkan hasil survei. Namun, dukungan itu turun drastis setelah para kadernya terseret kasus cek perjalanan ketika pemilihan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia.
Pramono menilai hal seperti itu juga tengah terjadi di Partai Demokrat setelah kadernya tersangkut kasus wisma atlet. ”Delapan bulan terakhir ada persoalan internal Partai Demokrat, tentunya sangat berarti untuk menurunkan respons publik terhadap Demokrat,” kata Wakil Ketua DPR itu.
Seperti diberitakan, pada Januari 2011, Demokrat masih mendapat dukungan 20,5 persen responden. Pada Juni, dukungan turun menjadi 15,5 persen dan Oktober 16,5 persen. Pada survei terakhir, dukungan itu kembali turun menjadi 13,7 persen. Setidaknya, dari 1.200 responden yang berasal dari 33 provinsi, 13,7 persen saja yang masih memilih Demokrat.
Ketika ditanya apakah kasus wisma atlet yang menyeret Wayan Koster, politisi PDI-P, berpengaruh kepada partai, menurut Pramono, kasus itu tentu berpengaruh namun tak terlalu berdampak lantaran Koster bukan pengurus partai. ”Ini pengaruhnya lebih banyak ke personal,” ucap dia.

